Sawah-Resolusi 2024

Hai. Apa kabar kalian?

 

Lama aku tidak menyapa dan mengisi ruang yang sepi ini. Sudah setahun lebih. Apakah ada yang berbeda dariku? 

 

Banyak. Dalam waktu 15 bulan ini, aku telah menikah dan mempunyai anak. Butuh waktu untuk adaptasi dalam peran dan status baru yang kusandang. Tidak dipungkiri aku sempat kehilangan diriku sendiri. Alhamdulilah, jodohku adalah orang yang baik, sehingga ketika badai emosi menghantam diriku, dia laksana penenang bagi rumah tangga kami. Doakan ya, rumah tanggaku sampai surgaNya. 

 

Satu tahun pernikahan ini, aku sama sekali tidak punya mimpi. Suamiku bukan tipe yang merencanakan masa depan dan bermimpi, apalagi mentarget. Aku mengikutinya. Mengalir begitu saja.


Aku pribadi merasa tidak ada yang perlu dicapai. Akhirnya ya begini-begini saja. Dulu aku berharap aku dan suamiku satu visi sehingga kita layaknya tim yang menjalankan beberapa program. Ternyata kenyataanya lain. Ya sudahlah. Kita memang tidak bisa berharap kepada manusia, meskipun itu adalah suami sendiri. 

 

Tidak biisa bergerak aku kalau tidak ada motivasi untuk berjuang. 

 

Hingga akhirnya hari ini pun tiba. 

 

Ada saudaraku menawari untuk membeli sawahnya. Harganya 300 juta. Gak kusangka ada yang menawariku sawah. Uang segitu bagiku amat tinggi. Kepalaku sampai berat mendengarnya. Uang dari mana? 

 

Tapi entah kenapa, berkat saudaraku tersebut, aku mulai kepikiran untuk membeli sawah. Ada Allah Maha Kaya kan? Doa dulu aja. 

 

Dan here me now. Mulai menulis. Mulai dari hal yang paling kecil. Sangat kecil. Usaha hari ini insyaAllah akan bermanfaat untuk masa yang akan datang. Teringat beberapa pengalaman akan rejeki tiba-tiba yang sering didapat. Salah satunya adalah karena kita pernah berdoa dan mengusahakannya. Mungkin waktu itu sama sekali tidak kelihatan dan kita sempat lupa. Namun, Allah tidak pernah lupa akan doa dan jerih payah hambanya. 

 

Bismillah ya Allah. 

2024 beli sawah harga 300 juta.

The Importance of Thanking

Dalam perjalanan pulang kerja, ada momen "deg". 
It's kind of hikmah itu kek lagi diturunkan gitu. 
Lesson learnt-nya akhirnya dapet. 

Ini kisah tentang attitude, pertemanan, dan worklife. 

Jadi kan gw dulu pernah catering buat dua temen kantor. Tapi yang kita bakal bahas disini cuma satu orang. Sebut aje namanya Paiyem. Gw loyal tu ma tu anak. Sebisa mungkin good service lah. Nothing to lose awalnya. Yaw udah gw suka aja nglayani orang. 

Gw merasa kan ngasih terus ya. Tapi you know Bray, attitude mereka ke gw tu ga ada bagus-bagusnya. Apalagi yang suaminya Paiyem. Ketemu gw aja kagak nyapa. Ibuk gw sakit, kagak dijenguk. Lebaran, kagak ngucapin. No akhlak deh. Ya gw ga ngarepin semua itu actually, tapi tau kan rasanya, yang kata banyak orang "ga tau berterima kasih". At least sikapnya rada diramahin dikit gt kan. 

Nah, gw kan jadinya sebel kan ya. Rasanya sudah kayak kagak dihargai.

Di titik ada muncul perasaan ini nih, gw belajar. Kenapa harus bersyukur atas semua nikmat yang diberikan olehNya? Karena rasanya tidak tau berterima kasih itu menyakitkan dan ada kecenderungan buat ga bakal ngasih lagi. 

So Bray, gw mau terima kasih ma Allah hari ini. Untuk semua yang sudah terjadi, entah nyenengin atau ngeselin, gpp ya Allah. Asal itu dari Engkau. Karena gw percaya, apapun dari Engkau, pasti ada hikmah.

And remember, hikmah selalu datang di akhir waktu. 

Selamat malam.

Klaten, 27 Mei 2022
22.32

Terlihat Sukses

Ini cerita tentang lebaran tahun 2022 ku. Alhamdulilah aku tidak sendiri. Masih ada orangtuaku, ada sepupu-sepupuku, dan ada satu mbakku. 


Aku rasa aku lebih secure di lebaran tahun ini. Aku sudah tidak lagi dipusingkan dan dikecilkan hatinya dengan pertanyaan-pertanyaan "kapan nikah". Atas pertolongan Allah tentunya, aku tenang dan santai menghadapinya. 


Aku fikir aku tidak akan sibuk. Aku hanya akan diam di rumah, rebahan, dan bisa menyicil pekerjaan kantor. Namun nyatanya, berhari-hari selama sepekan lebih, silaturahim aja kerjaanya. Alhamdulilah keluarga banyak dan dekat-dekat. 


Tahun ini, ada saudara yang aku baru kunjungi. Aku tau sih kalau mereka itu saudara, cuma tidak pernah silaturahim ke rumahnya. Kenapa mereka? Ya karena lebih dari satu. Mereka bukan saudara dekatku. Kalau dirunut-runut, tidak ada hubungan darah di antara kami. Mereka itu sudah cucu tirinya simbahku. 


Pas aku datang ke rumahnya, terlihat banyak mobil mewah keluaran terbaru parkir di halaman yang amat luas. Ternyata itu mobil anak-anaknya yang bekerja di Jakarta. Semua platnya B. Meski hidup di Jakarta, mereka terlihat ramah. Mau menyapa kami dan mengobrol dengan kami. 


Karena tidak ada memori yang terjadi selama beberapa tahun lamanya, maka obrolannya pun tentang nostalgia jaman dahulu kala. Meskipun ada gap yang amat jauh antara keluarga kami dengan mereka, apalagi soal latar pendidikan yang secara otomatis akan memengaruhi kualitas percakapan, namun mereka terligat berusaha untuk memahami background keluarga kami. Percakapan pun berlangsung hangat dan bersahabat.


Aku takjub dengan kesuksesan mereka. Apalagi dengan bagi-bagi uang kepada kami. Aku pun dapat angpow. Setiap orang ngasih lima puluh ribu. Semakin tak bisa berkata-kata. Konglomeratkah mereka? 


Mereka benar-benar terlihat sukses. Sukses yang benar-benar sukses. 


Dalam hati kecilku berkata, aku ingin jadi seperti mereka. Tapi bagaimana bisa? 

Kenapa Ga Mau Bukber selama Ramadan?


Selama ramadan, aku jarang dan hampir ga pernah ikut buka bersama. Kalau tidak ada undangan, aku biasanya menolak ajakan mereka.

Aku tidak mengatakan secara lugas dan tegas kenapa aku tidak mau ikut. Jadi terkesan mbulet. 

Aku masih tidak tau bagaimana caranya untuk jujur. Aku masih takut akan stigma orang kalau-kalau ada yang menganggapku alim. Padahal sejatinya masih amat jauh dr derajat itu. 

Dan seharusnya tidak boleh seperti itu kan. Sebaiknya aku jujur. 

Aku sangat menyukai ramadan dan pengen waktu-waktu itu hanya sekitar masjid dan Al Qur'an. 

Seperti kamu sedang mencintai seseorang, kamu pun ingin selalu bersamanya ketika dia datang menemuimu. 

Penuaan Dini pada Otak

Hi, good morning. Hari ini hari Jumat, semoga kamu tetep semangat. 


Tadi dalam perjalanan menuju tempat kerja, aku merasa harus menuliskan tentang insight yang aku dapatkan dari acara CLevel Talk bersama Anggoro Eko Cahyo dan coach Rene Suhardono. That was so incredible, and precious. Precious because acara terbatas yang hanya terdiri 88 peserta itu dihadiri oleh orang-orang keren (bekerja di institusi bergengsi dan kemampuan intelektualnya mumpuni). Hanya satu dua orang saja yang dari kalangan remah-remah, aku misalnya. Incredible karena kita bisa dengerin obrolan langsung dari orang-orang keren tersebut which is materi-materi yang disampaikan itu contain much knowledge and enlightenment. 


Anggoro Eko Cahyo adalah eks wakil direktur BNI yang pada saat ini menjabat sebagai direktur BPJS Ketenagakerjaan. Usianya sudah 50an dan sudah tentu mempunyai pengalaman memimpin, berinteraksi dengan orang, dan manajemen konflik yang tidak diragukan lagi. Sedangkan Rene Suhardono yang menjadi moderator sekaligus yang punya acara adalah seorang career coach ternama di Indonesia. 


Tema tadi malam adalah tentang manajemen konflik. Pak Anggoro menjelaskan tentang bagaimana he deals with value yang dia bawa dengan kepentingan-kepentingan yang berada di perusahaan, termasuk apakah beliau pernah merasakan perasaan "giving up on people". Dari semua obrolan yang berlangsung, dan hanya bisa kuikuti setengah perjalanannya saja, ada point yang kuhighlight. 


Tentang open mind. Pak Anggoro menyebut bahwa ide-nya yakin akan bisa diterima dengan baik oleh para karyawan BPJS yang mostly adalah anak-anak muda yang open mind. Pengertian open minded sendiri adalah cara berfikir yang mau untuk menerima ide-ide baru beserta perubahannya. Sedangkan lawanya adalah close minded yang cenderung tidak mau menerima ide-ide baru, tidak mau berubah, dan mempertahankan cara lama. Mungkin sudah nyaman, gitu kata mojok.com


Glek. Apa yang membuatku tercengang? Well, entah kenapa, aku tetiba langsung merefer ke atasanku. "Aha, dia ga open minded." Aku yang akhir-akhir ini sering berinteraksi dengan dia menotice bahwa dia susah untuk diajak berbicara. Suka pake cara lama, ga mau berubah, takut, cemas, diktator, dan overall menyebalkan. Close minded, begitulah sebutan yang cocok untuknya. 


Kalau tadi disebutkan salah satu karakteristik anak muda adalah open minded, bisa dikatakan bahwa semakin tua bisa jadi kebanyakan orang akan memiliki pikiran close minded. Like what my atasan has. Dia emang sudah tua sih. Orang-orang in my workplace tua-tua emang, cara kerjanya juga masih old-fashion. 


Dan you know what, why do I bring this topic here? Lingkungan itu kan menyumbang peran besar untuk membentuk diri kita kan ya? Dan aku merasakan aku sudah mulai ketularan sikap close minded ini. Aku meneriaki dan menghakimi orang bahwa dia close minded, namun pelan-pelan pula racun itu masuk dalam hidupku. Otakku merasa menua sebelum waktunya. Seharusnya usia bolehlah menua, namun otak kan jangan ya. 


Sedih aku mengetahui dan menyadari akan hal ini. Sulit untuk berubah ketika kamu sendiri dan tidak ada penguatan untuk hati. Resign tidak semudah itu Furgoso. 


Tapi take it or leave it? Tetep sih aku memilih leave. Dan aku sekarang berusaha lagi untuk leave. Menyelamatkan kesehatan otak untuk masa depan yang jauh lebih subur adalah urgensi saat ini. I won't let otakku berada dalam tempurung. Aku harus berjuang untuk bisa grow. 


Semangat Marimar!!!!! 



Menghidupi Hidup

Kembali kurasakan hilang arah.
Terombang-ambing di atas sampan di tengah lautan.
Diam dan pasrah tanpa usaha.
Membiarkan ombak, badai, dan angin membawaku entah kemana.

Seperti orang mati?
Iya. Orang yang tak punya tujuan, mimpi, dan harapan, dialah orang yang hidup tapi mati.

Aku sempat seperti itu. Lama dan tidak tersadarkan.

Kenapa bisa begitu?
Aku jauh dari ilmu dan Tuhan. 

Aku tak mau mati. 
Hidupku harus berarti, karena nanti aku akan ditanyai, bagaimana kamu menghabiskan waktu yang sudah diberi?

Maka aku bangkit. 
Aku tetapkan tujuan.
Aku berjalan, meski pelan.

Maret ini, aku punya satu, dua, tiga, empat, lima goals.
Aku hidupi goals itu.
Aku solawati.
Aku bersemangat untuk mencapai goals itu. 

Semangat Tami!!

Jangan Mengambil Apa yang Dia Sukai, Jika Ingin Persaudaraan Terjaga

Dalam perjalanan menuju kantor tadi pagi, aku teringat akan sebuah nasihat tentang persaudaraan. Jangan pernah mengambil atau menyampuri apa-apa yang saudaramu sukai. Kamu sudah tau bahwa dia menyukai baju yang warna biru tersebut, maka jangan pernah dengan sengaja untuk mencoba memintannya darinya. Kamu tahu kalau dia tidak suka jika area yang bewarna kuning dimasuki oleh orang asing, termasuk kamu, maka jangn mencari gara-gara untuk memasukinya.  

A Boss, Not A Leader

Source: Pinterest


Hai. Lama tidak mengunjungimu. Desember kemarin aku sangat sibuk, dan Januari juga tidak jauh berbeda. Ada banyak hal terjadi, salah satunya adalah aku tidak lagi memperpanjang domain www.tamiahdasyahida.com, melainkan kembali ke alamat semula tamiahdasyahida.blogspot.com. Kondisi telah memengaruhi keputusanku untuk melakukannya. Tapi sungguh tak apa, tempat ini tetap menjadi rumah yang nyaman untukku bercerita. Bukan soal pagarnya, namanya soal bagaimana kualitas hubunganku dengan rumah ini. Aku berjanji akan lebih baik lagi tahun ini!


Aku mau bercerita tentang seorang atasan. If you are a staff, you can call him/her as a supervisor. If you are a supervisor, you can call him/her as a manager, and so on. 


I know someone, seorang atasan. Many people say he is not a leader, but a boss. Let me tell you about his attitude ya. First, dia seperti tidak ada keinginan untuk mengedukasi bawahannya. For example, ketika berjalan melewati bawahannya di lorong, dia tidak menyapa  sama sekali. Mukanya tegap lurus ke depan, aura dingin, dan terkesan angkuh. Ketika ada yang berisik, tidak ditegur, melainkan menggebrak meja. Perasaanya kalau seperti ini jadinya seperti ada jarak antara atasan dan bawahan. Jaman old sekali bukan? Second, dia seolah tidak peduli dengan masalah yang dialami bawahannya. Uang lembur belum dibayarkan hingga satu bulan berlalu, tidak ada perjuangan untuk mengurusnya. Padahal banyak yang mungkin butuh untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah. Furthermore, ada bawahannya yang menyampaikan aspirasi, namun tidak ditanggapi. Yes, you can say "tidak terbuka fikiran dan hatinya". Third, penakut. Ketika akan melangkah berinovasi, banyak sekali pertimbangan dan kecemasan yang ada pada dirinya. As a result, perusahaannya tertinggal jauh daripada yang lain. Departemen lain mengepush, tidak ada pembelaan diri. Iya-iya saja. Tidak ada suaranya. 


Is he a good one? I cann't say because I don't want to judge him. Namun, seorang atasan yang seperti itu akan membuat karyawannya merasa bahwa their workplace itu bukan seperti rumahnya yang nyaman untuk ditinggali. Atmosfernya menjadi kaku, dingin, dan tidak bersahabat. Tidak ada hubungan interpersonal yang terjalini. Hanya kerja-kerja, tanpa melibatkan hati. This would enable the employee to demotivate to work, and this would also lead to downfall. 


Is he a boss or a leader then? Baiklah. Mari kita pelajari perbedaaan antara leader dan boss bersama-sama ya. 


1. Leader memandu, boss memerintah. 

Sosok leader akan memandu, memotivasi, dan memberikan arahan kepada bawahanya, sedangkan boss sebaliknya. Ia hanya memerintah tanpa ada dukungan moril sama sekali kepada bawahannya dan hanya menggunakan kekuasannya. Dikira bawahannya robot, no sir, they aren't. 

2. Leader memotivasi, boss mengawasi

Seorang leader akan memberi tahu tentang apa yang harus dilakukan, bagaimana cara mencapai tujuan, dan memberikan dukungan ketika bawahannya sedang mengalami kesulitan. Leader peduli pada proses, tidak hanya hasil. Sedangkan seorang boss tidak akan peduli dengan masalah personal bawahannya, ia hanya akan mengawasi apakah pekerjaan bawahannya sudah selesai apa belum. Seorang boss hanya peduli soal hasil. 

3. Leader mendengarkan, boss berbicara

Jika atasanmu mengizinkanmu untuk berbicara dan mau mendengarkanmu passiaonately, maka dia adalah seorang leader. Namun, jika kamu tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara dan seolah-olah dibungkam tidak boleh speak up, maka atasanmu adalah seorang boss. 

4. Leader melatih, boss menyuruh

Seorang leader akan membimbing bawahannya dalam melaksanakan pekerjaan yang ditugaskan. Bukan berarti bawahannya tidak kompeten. Hanya saja akan diperhatikan, apakah ada kesulitan apa tidak ketika mengerjakan tugas tersebut. Sedangkan seorang boss adalah yang menyuruh saja tanpa mengecek prosesnya. 

5. Leader mengambil tanggung jawab, boss menyalahkan

Ketika terjadi masalah atau komplain dari customer, maka seorang boss cenderung untuk menyalahkan pihak lain (playing victim). Namun, seorang leader tidak akan mencari-cari siapa yang salah, namun fokus pada solusi. 


Dari sedikit paparan di atas, menurutmu, atasan yang kuceritakan tadi termasuk seorang boss atau leader? You name it. 


Last but not least, you cann't control others, you just can control yourself. Kamu tidak pernah bisa untuk menuntut orang lain berubah seperti apa maumu. Kamu hanya bisa untuk mengontrol dirimu. Jangan buang-buang waktu dan energi untuk hal-hal yang tidak bisa kamu kontrol ya. Love yourself dan salam sukses!


Kalau Fikiran Kita Baik Ke Suami, Maka Suami Akan Baik Ke Kita

Tami and Linda Mustaghfirrah. Semoga Allah senantiasa jaga Linda dan keluarganya. 


Aku sebenernya ngantuk berat sih, plus capek, pengen langsung tidur. Tapi hari ini sungguh berharga, sayang kalau ga kuabadikan lewat tulisan ini.

Hari ini aku menggunakan jatah surlok dua jam dari kantor untuk ketemuan sama Linda, temen kuliah dulu yang sangat kukagumi. 

Bagiku dia itu di atas. Dari keluarga terpandang. Suaminya pun juga orang terpandang. Makanya aku merasa berharga dan special ketika diajak ketemuan sama dia. 

Kita ketemuannnya sambil renang. Wait. Maksudnya renang itu adalah tujuan utama kami. Dan ngobrol itu dimaksudkan cuma jadi agenda sampingan aja. Tapi realitanya you know lah ya....90% ngobrol, 10 % renang.

I'm happy seeing her. Entahlah aku merasa terbuka, no sekat, dan ga grogi ngobrol sama dia. Semua hal aku ceritain. Dia pun juga. Semua hal diceritain. No jaim. Rasanya lega, dan seneng sekali lagi.

Ini nih intinya. Pas di tengah ngobrol ngalur ngidul itu, aku ada tanya sama dia. "Nda, ada ga sih perasaan merasa kesepian dan ga punya sandaran ketika sudah punya suami."

Kenapa aku tanya kayak gt? Karena ketika aku pribadi ni ngerasa amat lelah dan ga kuat njalanin hidup, aka butuh sandaran, aku sangat butuh suami. Aku kayak pengen dipeluk dan disayang. Lalu timbul pertanyaan, apakah suamiku akan bisa selalu bisa untuk memelukku?

Dan ini nih pointya. Jawaban Linda itu bijak banget cuy. 
"Kalau fikiran kita baik sama suami, maka suami juga akan bersikap baik sama kita. Disyukuri yang ada. Jangan terlalu merasa jadi korban."

Sepintas ga ngambung sama pertanyaaanku. But I get the point you know. Mungkin sometimes ga selalu suami bisa menjadi seperti yang kita inginkan, bisa selalu memeluk kita dan menjadi sandaran bagi kita. Karena dia kan cuma manusia  biasa yang punya hati dan fikiran sendiri, punya mood sendiri, sehingga bisa jadi dia juga lagi ga available buat kita. Mungkin aja kepala dan hatinya juga udah penuh ngurusin kerjaan.

Lalu, dengan kondisi suami yang lagi ga available gitu, apakah kita marah karena keinginan kita ga dipenuhi? Ga kan. Makanya teteplah brrbuat baik sama suami. Fikiran baik. Tidak usah banyak nuntut kamu harus gini, kamu harus gitu. Disyukuri. Sudah punya suami, disyukuri. Hatinya dilapangkan. Sandarkan aja sama Allah. InsyaAllah, suami nanti bakal meluk kita lagi. Pahami kondisi dia. 

Glek. Kata-kata Linda tadi serasa amat menamparku. Aku flashback ke belakang. Aku merefleksi sikap-sikapku yang lalu. Terlalu egois, dan terlalu berkespekstasi banyak sama laki-laki. 

Ya Allah, terima kasih lho ya. Terutama pertemuanku dengan Linda ini, yang aku yakini adalah campur tanganMu di dalamnya. Tolong jangan cabut kenikmatan ini. Tambahkanlah lagi nikmat ini dengan senantiasa mempertemukanku dengan banyak orang-orang sholih dan keren di negeri ini. 


9 Desember 2021
23.22

Tidak Tenggelam

Berat.
Tapi akhirnya kamu kembali bisa berenang kembali.
Tidak tenggelam.

Terima kasih untuk tidak berhenti.
Terima kasih unfuk tidak menyerah.
Terima kasih untuk tetap berjalan meski pelan.

The Time When I don't Like You, Tami

 

Lemah. Itulah dominan dari diriku mungkin. Ketika ada yang menenggelamkanku, maka aku akan tenggelam. Tidak seperti Nemo yang berusaha menyelamatkan diri, tapi aku terpuruk, terperosok dan tenggelam hingga tak punya daya sama sekali. 
No. You can't act like that. You have to love yourself, appreciate yourself, and be brave. 
Respect and value yourself. 

Non-Verbal Communication is Sometimes Warmer than Verbal Communication

Tadi aku pulang kerja sore. Biasanya kalau pulang, langit udah gelap, sekarang masih terang.

Aku menikmati perjalanan pulang sore tadi. Tidak tergesa-gesa. Tidak salip sana-salip sini. Bahkan ketika ada yang meminta jalan, maka aku persilahkan.

Tidak seperti biasanya. Sore tadi yang meminta jalan untuk menyebarang adalah seorang pemuda dengan sepeda ontelnya. Padahal jalanan padat. Tapi ia tetap saja permisi lewat. Kayuhannya kuat. Maka aku berhenti untuk mempersilahkannya lewat.

He looked so cool. Why? Bukan penampilannya. Tapi tentang sopan santunya. Cara dia berterima kasih karena diberikan jalan adalah dengan meletakkan tangannya disamping kakinya, lalu memberikan acungan jempol.

"Bagus. Terima kasih." Mungkin itu maknanya.

Aku terenyuh. Amat elegance sekali caranya berterima kasih. Tidak dengan melambaikan tangannya tinggi-tinggi, tapi dengan sederhana, apa adanya, dan mengena. 

Lalu seketika pula aku ingat tentang pelajaran kuliah waktu dulu. Seoarang dosen menjelaskan tentang non-verbal communication. 

Non-verbal communication adalah proses menyampaikan dan menerima pesan dengan tanpa suara, intonasi, kata-kata ataupun tulisam, melainkan dengan gerak-gerik tubuh kita, ekspresi wajah, ataupun badan kita.

Ya, orang yang bersepeda tadi adalah salah satu contoh orang yang sedang  melakukan non-verbal communication.

And you know what, entah kenapa, non-verbal communication itu kadang dirasa lebih dan hangat.

Titik Damai

Di titik ini, aku merasa saangat damai.
Alhamdulilah. 


Rekomendasi Penginapan Nyaman di Selo, Boyolali (D'Highland dan Omah Kita)

Setelah sepekan yang melelahkan, memang perlu kiranya untuk pergi ke suatu tempat yang quite far away  (but not too far) and quite quiet. Salah satu lokasi yang cocok untuk dikunjungi adalah Selo, Boyolali. Selo ini terletak antara Magelang dan Solo, lebih tepatnya adalah di lereng Gunung Merbabu. Bisa kamu bayangkan kan how calm it is. Sejuk, dingin, tenang. Sangat cocok untuk healing. Nah, jika kamu pengen menginap disana, nih ada dua penginapan yang oke banget untuk dikunjungi. Kubilang oke karena tempat mereka strategis. Dekat dengan apapun yang lagi nge-hits di Selo. 


1. D'Highland 

Kayaknya nih diantara beberapa penginapan di Selo, penginapan ini yang ter-paling. Ada glampingnya, ada villanya (yang satu rumah gitu, namanya Garden Hills), dan ada restorannya. Sayang sekali pas aku berencana menginap disana, semuanya full-booked. Akhirnya cuma bisa dateng ke restorannya aja yang namanya Kadung Tresno Kopi

Di D'Highland ini yang sering laku itu ini, Glampingnya. Cukup murah kawan, cukup 350k untuk dua orang. Fasilitasnya juga lengkap. Jika nambah satu orang, maka kena charge 100k. 





Oh ya, karena aku ga nginap sana, aku mau cerita aja soal restonya ya. Aku kesana itu sore hari dimana kabutya pada turun. Dingin, enak, tapi ruameeeny pool. Aku kudu ngantri agar bisa dapet tempat duduk. Tempat yang jadi favorit itu di rooftopnya karena mountain view. Look at my pictures below. 


Nah, kalau soal rasa sih jangan terlalu expect ya. Karena kan disini emang yang dicari bukan memanjakan lidah melainkan pemandangannya. Aku marasa biasa aja soal makanannya. Pas disana aku pesen rice bowl dan matcha. Enak sih matcha-nya, tapi rice bowl-nya blas ga ada rasa. 


Harganya pun ga terlalu mahal. Cocok untuk kalangan menengah ke bawah. 

Jelas ga? Ga jelas ya? Kkwkww. Oke. Jadi, harga minumannya itu kisaran 20-35k. Kalau makanannya start from 15K begitu. Satu orang minimal kalau ke sana itu ngeluarin 50k. Itu belum termasuk service tax-nya ya. 

Well gitu yang bisa aku share tentang D'Highland. Sekarang mau pindah ke Omah Kita. 

2. Omah Kita

Nah, waktu dikabari sama adminya D'Highland kalau kamarnya sudah habis, langsung kutanya tempat penginapan di dekat situ. Adminya baik, lalu ngasih rekomendasi di Omah Kita. Ya Allah, alhamdulilah masih ada kamar kosong di Omah Kita. 


Omah Kita ini letaknya cuma beberapa meter aja dari D'highland. Mungkin hanya sekitar 150 meter. Cukup dengan jalan kaki. Seneng kan. 


Tapi emang di Omah Kita harganya lebih mahal sih. Ada beberapa kamar disini. 


Aku nginep di kamar Bougenvile. Harganya 400K. Karena aku bertiga, maka nambah uang 100k (tanpa extra bed, kalau pake extra bed, tambah 50k). 

Kamarnya luas. Kasurnya gede dan emput. Kamar mandinya bersih. Ada air hangatnya. Nyaman deh pokonya. Aku yang kesana habis pulang kerja, langsung merasa lelah hilang pas merebahkan punggungku kesana. 

Ada kursi dan mejanya.

Ada coffee set, tea set, amnesties, dan air mineral.

Penampakan luarnya.

Tempat buat nyantai.

Restonya

Restonya

Begitu dulu review dan rekomendasi dari aku ya. Jaga hati, jaga diri. Jangan sedih berkepanjangan. Selamat berlibur. Semoga tulisan ini bermanfaat.






Kebiasaan Menyalahkan Orang Lain

Aku bekerja di sebuah institusi, an old institution. And old mind, as well. Karena ditempatku budaya saling bersaing itu masih kental terasa. Sebagai sebuah perusahaan, bukan bersinergi, melainkan ingin terlihat paling baik sendiri di tiap bagian, divisi, ataupun departemen. 


Menurutku, budaya bersaing yang masih menempel itu membawa kebiasaan untuk saling menyalahkan orang lain. Jika sedang ada masalah menerpa, maka pembicaraan itu cenderung mencari kambing hitam. Bahagia gitu kayaknya kalau melihat orang lain yang menjadi pihak yang tersalahkan. Mengutuki kegelapan, bukan menyalakan harapan. Bikin suasana negatif makin negatif kan? 


Padahal they are part of us. Jika ada bagian dari diri kita yang buruk misalnya, apakah kita akan membuatnya terpuruk? Gak kan. Menurutku lagi, mereka yang suka menyalahkan orang lain secara terang-terangan dan verbal adalah mereka yang tidak dewasa. 

Silent Days


Beberapa hari ke depan aku akan diam.
Sebab dengan diam aku merasa tenang.

Aku ingin hanya berdua dengan Yang Maha Kuasa. 
Merayu-rayu untuk mendapat cinta-Nya.


Pernikahan Sahabatku, Mariana Suci Swastika


Hanya ada 9 orang sahabat yang aku sebut-sebut namanya dalam doaku, dan salah satunya adalah dia, Mariana Suci Swastika.

Aku mengenalnya sudah lama, sejak tahun 2008. Sempet minder sebenernya berteman sama dia, tapi lama kelamaan rasa minder itu hilang. 

Alhamdulilah, terima kasih kepada Allah karena sudah menjadikanya sebagai sahabat dekatku. Semoga Allah jaga persahabatan ini.

Ahad, 17 Oktober 2021 adalah hari yang bersejarah. Seoarang laki-laki sholih nan bertanggung-jawab datang untuk menjadi imam baginya.

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah. 

Barakallahulaka wabaraka alaika wajama bi khoir. Semoga Allah limpahkan keberkahan yang banyak untuk Mariana dan keluarganya sekarang. Semoga Allah selalu jaga, lindungi, dan rahmati Mariana dan suaminya serta keluarganya. Aamiin.

Dan aku bersyukur bisa menyaksikan seluruh proses akad nikah, Mariana. Ternyata dilibatkan dan dianggap ada itu adalah sebuah kebahagiaan tersendiri di hati.

Oh ya dan satu lagi, aku juga bersyukur karena sudah diperkenalkan dengan keluarga baru, temen-temen Mariana yang di Jakarta. 

MasyaAllah tabarakallah.

Memulai (lagi) untuk Menulis Gratitude Box

Bismillahirrahmaniirahim. 

Hari ini aku mulai lagi untuk menulis kebiasaan positif yang sudah lama aku tinggalkan, yakni menulis gratitude box. Dulu aku biasanya menulisnya ketika akan memulai pekerjaan di kantor. Aku nyalain komputer, menghadirkan kesadaran, menilik jiwa apa yang dirasakan, mengingat kejadian-kejadian, menuliskannya, dan mencetaknya. Lalu, aku gulung-gulung dan aku ikat. Kumasukkan ke dalam kotak yang aku labeli "Gratitude Box" yang kuletakkan di depan meja kerjaku. 


Hari ini hari Jumat. Tepatnya jam 6.24 AM. Biasanya jam segini aku masih berjalan ke tempat kerja. Namun, hari ini berbeda. Tadi malem aku dapat surat ijin dokter untuk tidak masuk kerja selama sehari lantaran aku dinyatakan sakit (batuk menggigil yang ga mau berhenti-henti). Rasanya seumur-umur aku belum pernah dapat surat ijin dokter euy. Aku syukuri. Karena dengan begini, aku lebih merasa slow down. Tidak dikejar-kejar target. Tidak merasa habis ini harus ngerjain ini. Makanya kan aku bisa menulis ini, dan tadi malem aku bisa membaca buku dengan lebih khusyuk. 


Meskipun dinyatakan sakit, aku masih bersyukur. Aku ga pusing, ga demam, ga mual, sehingga masih bisa beraktivitas seperti biasanya. 


Hari ini aku juga bersyukur karena orang tua saya masih sehat, dan bisa berkativitas seperti biasanya. Aku masih punya rumah untuk tempat tinggal, dengan isi yang bisa dikatakan sudah cukup lengkap. 


Tak lupa yang paling penting adalah hari ini aku masih dalam keadaan Islam, dan masih ada keinginan untuk memperbaiki hidup. Aku bertekad dan memohon kepada Allah untuk diberikan kemauan dan keyakinan yang kuat, terutama dalam hal menikah. 


Dan yang terakhir, aku bersyukur karena merasa diberikan petunjuk untuk membangun koneksi jiwa kepada dia, jodohku, yang keberadaanya ada namun belum berjumpa. Semoga istiqomah untuk mendoakannya, dan istiqomah merasakan bahwa dia benar-benar ada. 



Klaten, 15 Oktober 2022

Karena Aku Tidak Kaya


Tadi sore, temenku telpon. Dia mengabari kalau mau khitbah sekaligus lamaran. Dia bilang, tak apa kalau calon suaminya ga kaya, karena ia sudah kaya. 

Kalau aku mungkin kebalikan, semoga suamiku kaya dan mau bekerja, karena aku tidak begitu kaya.

Ya Rabb, ampuni hamba. Jaga jodoh hamba. Lindungi dia. Sayangi dia. Perbaikilah kehidupan dunia dan akhiratnya. 

Wisata ke Embung Manajer, Selo, Boyolali : Jalannya Bagaimana dan Ada Apa Disana


Awal Oktober 2021, aku pergi ke Embung Manajer, Selo Boyolali. Aku berangkat dari Solo hari Sabtu siang, dan menginap di sana semalam. Meskipun Solo dan Boyolali dekat, namun nyatanya wisata ke Selo belum pernah kujajal sama sekali. Dulu mungkin memang ga banyak pilihan tempat wisata makanya ga kesana, namun kali ini tentu sudah berbeda. 


Perjalanan dari Solo sampai ke Selo membutuhkan waktu sekitar 1 jam 15 menit. Kok cepet? Ya ngebut tentunya. Pake motor aku. Belum berani kalau pakai mobil. Dari Solo (area Sriwedari) jam 12 siang, sampai penginapan Omah Kita jam 13.20 (karena mampir Alfamart di Pasar Cepogo beli camilan) dengan kecepatan rata-rata 90km/jam. Oh ya, aku ini termasuk orang yang cemasnya maksimal sama jalan di pegunungan. Beberapa hari sebelum perjalanan sudah cek sana-sini bagaiman medan jalan menuju kesana, betapa kemiringan dan menanjaknya. Motorku motor beat buatan tahun 2014. Jadi, perjalanannya sungguh aman. Tak ada ngeden-ngedennya sama sekali. Lancar tanpa beban (karena memang sendirian dan tak boncengan). 




Cuaca waktu itu panas, dan badan masih sangat lelah. Jadi diputuskan untuk ke Embung Manajer pagi harinya. Dan ternyata dekat sekali penginapanku dengan Embung Manajer. Jalan kaki cuma 15 menit, dan aku pakai motor dan cuma 5 menit paling. 


Jalan mau masuk ke Embung Manajer rada ngeri sih Kak. Jadi dari jalan utama itu, belokannya ga keliatan. Ga dibuat gapura khusus atau papan nama begitu. Tapi Google Map sangat tepat dan fully
help. Jalan ke Embung Manajer amat curam, dan hanya jalan setapak. Tentu mobil tak muat. Kalau pakai motor, kalau boncenganpun, mendingan jangan. Kalau sendiri masih okelah naiknya. Tikungan tajam dan menanjak bakal ditemui selama menuju Embung ini. Kalau tidak yakin bisa, nanti akan ada jasa ojek di bawah. Harganya 10k. Oh ya, HTMnya cuma 5k. 



Kalau aku naiknya kuat, alhamdulilah. Asal hati tenang, semua bisa terkendali. Naaaamuuuuun, turunya aku udah ga punya nyali. Lebih berbahaya turunan kan ya daripada jalan naik. So, aku minta bantuan ojek untuk nganter sampai bawah. Idep-idep juga ngasih rejeki ke orang. 

Nah tadi itu untuk jalannya. Lalu sekarang disana bisa ngapain aja?

1. Menikmati alam dan Photo-Photo

Jelas lah ini. Datanglah pagi-pagi, niscaya udara masih sangat sejuk dan segar. Kamu akan disuguhi dengan pemandangan Gunung Merbabu yang amat jelas. Pastinya juga bisa foto-foto dengan background yang sangat ciamik. 

Melamun


Bersyukur




Curhat-curhatan

2. Camping

Yup. Sekarang kan lagi pada suka camping kan yak. Disana itu ada spot untuk camping. Bayarnya cuma 15k per orang. Banyak keluarga-keluarga gitu yang ngecamp bareng. Banyak anak kecil juga. 


Yang tempat camping itu di atas

Kulihat kemarin di sana ada toilet. Tapi aku tak melihat apakah bagus apa enggak ya. Di sana juga ada yang orang jualan, namun sayangnya jualannya ga lengkap. Aku cari gorengan dan mendoan kagak ada. Akhirnya cuma beli sempol yang rasanya bukan sempol dan air mineral aja. 


Well, cukup sekian cerita dari aku ya. Tempat ini recommended banget lah ya untuk kalian yang pengen short escape dan healing. Semoga bermanfaat.