Perasaan Ketika Diakui sebagai Teman


Sumber: Pixabay
Kejadian ini terjadi di tempat parkir tempat kerjaku ketika jam pulang. Motorku terjepit dan susah untuk keluar. Aku tidak bisa mengeluarkannya secara mandiri.

Lalu, tiba-tiba ada seorang bapak-bapak dari bagian lain berteriak kepada Pak Satpam, "Pak, tolong bantu cah kae. Deknen koncoku."

Waaaah. Hatiku sumringah. Aku merasa ada yang mengakuiku menjadi temannya. Aku merasa ada yang menganggapku ada dan menjadikan diriku bagian dari dirinya. Terdengar lebai. Namun, perasan-perasaan itu amat penting untuk mengisi tangki hati. Padahal aku tidak begitu kenal tu bapak. Tidak tau namanya. Cuma tau bahwa beliau kerja di tempat yang sama denganku. 

Ternyata, ketika ada yang mengatakan "Dia adalah temanku." itu membuat perasaan menjadi bahagia lho. Amat bahagia.

Box of Gratitude Menjelang 10 Hari Terakhir Ramadan 1441

Sumber: Pixabay

Menjelang 10 hari terakhir ramadan tahun ini, aku sengaja menyambutnya dengan hal-hal baik yang bisa kulakukan. Tidak muluk-muluk. Aku membersihkan rumah kembali, menyiapkan tempat berdoa, dan juga memilih satu orang untuk aku sapa. 

Sebenarnya apa yang aku rasakan menjelang hari-hari amat mulia itu di antara hari yang mulia? You know what, aku merasa aku tidak ada progress. Aku tidak meningkat. Jika ada assessment yang bisa mengukur apakah aku bertambah menjadi orang beriman apa bertwakwa, aku sangat ingin melakukannya. Sayangnya tidak ada. Jika aku bisa tau apakah amalku selama ini diterima apa enggak, tentu, dengan pemikiran manusiawiku, aku bakal akan lega. 
Selain itu, dengan beberapa kejadian di tempat kerjaku, aku melihat masa depan itu suram. Fikiran yang enggak-enggak diam-diam menjalar dalam fikiranku. Aaarrrgh, ga tenteram akhirnya. 

Dalam situasi seperti itu, tampaknya aku harus melakukan cara agar kembali normal kembali.

Ajaran agamaku itu amat sederhana. Ada nasihat seperti ini, "Agama islam itu hanya ada dua hal, yakni bersabar dan bersyukur.". Aku memaknai nasihat itu secara sederhana. Jika aku sedang mendapatkan kesenangan, maka harus bersabar. Biasanya akan melambung hatinya jika diberikan kesenangan dariNya. Jika aku mendapatkan hal yang sedang tidak mengenakkan, maka aku harus lebih banyak-banyak menghitung syukur atas nikmat-nikmat yang diberikanNya hingga saat ini. 

Well, itulah aliran perasaanku yang sebenarnya. 

Kembali lagi ya ke persiapan menyambut 10 hari terakhir ramadan. 

Aku memilih salah satu teman kantorku untuk aku sapa. Namanya Reiza. Karena aku off dari WA, maka aku menyapannya dengan SMS. Aku bertanya hal sederhana, yakni hanya kabar dan tentang puasanya. Ketika aku SMS, dia fast respond. Qadarullah dia lagi haid saat itu. Selain itu, dia amat baik. Aku tanya tentang kabar kantor, dia memberikanku informasi penting terkait kondisi kantor saat ini. MasyaAllah. Dia amat informatif. 

Lalu?

12 jam setelah aku SMS Reiza, aku jadi teringat kejadian tahun-tahun lalu yang aku berdoa dengan amat kuatnya minta agar aku tidak haid di 10 hari terakhir ramadan. Beberapa solatku di bulan Sya'ban hanya aku mohonkan untuk itu. Beberapa ada yang terkabulkan, beberapa aku mendapati hanya bisa 70% puasa di 10 hari terakhir. Pasti sih ya, yang namanya perempuan akan mengalami masa dimana dia akan haid di 10 hari terakhir ramadan. Itu normal sekali.

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah, tahun ini aku tidak ada rasa khawatir akan haid di 10 hari terakhir ramadan. Selain itu, haidku tahun ini juga tuntas dan tidak ada keraguan apakah sudah selesai atau belum. Hal tersebut adalah hal yang harus aku syukuri banyak-banyak. Rejeki waktu yang diberikan tidak boleh disia-siakan.

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah, meski di masa pandemi, dan mesti THR hanya dibayarkan 60%, Allah masih memudahkanku untuk pajak motor, makan tanpa susah payah, dan membantu Ibuk untuk memberikan buka kepada para tetangga. 

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah, meskipun aku belum mempunyai suami hingga saat ini, aku masih mempunyai dua orang tua yang amat hebat dan amat sehat. Masih mempunyai orang tua merupakan hal termewah yang tidak boleh disia-siakan. Mudah-mudahan Allah senantiasa membimbingku untuk bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya membersamai mereka di dunia ini. Mudah-mudahan pula, kematian mereka nanti adalah kematian husnul khatimah dan kematian yang tidak mengagetkan untuk anak cucunya. 

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah untuk tiap tetesan hidayah yang menyadarkan diri agar kembali pada jalan yang diridhoi.

Ketakutan Pekerjaan

Hari ke-19 Ramadan.

Tiba-tiba aku merasa ketakutan.
Aku takut jika aku adalah salah satu orang yang namanya akan kehilangan pekerjaan.
Aku tidak bisa membayangkan nanti apa yang akan aku lakukan.
Aku seperti tidak punya keyakinan akan masa depan.

Aku sempat heran.
Aku belum pernah sebelumnya merasakan hal yang demikian.

Aku selalu yakin bahwa Dia sudah mengatur segalanya dengan amat mapan.
Sungguh, aku tak pernah khawatir akan harta, dunia, bahkan pekerjaan.

Ada apa sebenarnya ini?

Bencana aku bilang.
Ketika aku kehilangan keyakinan.
Keyakinan akanNya dengan segala keMahabesaranNya.

Doa untuk Hatiku

Ya Allah,
jangan Engkau letakkan dunia di hatiku.
Letakkan dunia di tanganku.

Menata Hari Kembali


Kadang, ada waktu aku tidak banyak menggunakan social media. Sengaja menarik diri, karena ada yang mesti dibenahi.

Di akhir-akhir bulan Sya'ban ini, aku ingin memperbaiki hubunganku dengan Allah. Aku mengajak diriku untuk banyak diam dan banyak menuntut ilmu. Karena aku percaya, ilmu adalah jembatan untuk aku membenahi diri dan tentunya membenahi hubungan dengan Allah Azza Wa Jalla.

Agar teratur, aku harus menjadwal kegiatan-kegiatan apa yang akan aku lakukan (to do list). Rasanya lega dan ringan ketika apa-apa yang ada di pikiran diluapkan adalak sebuah tulisan.

Aku terlalu sombong dan congkak belakangan ini. Owh, mungkin juba selama ini. Pun, aku juga susah untuk memaafkan orang. Itu adalah kerikil-kerikil yang harus aku singkirkan.

You know what, aku punya impian baru. Aku ingin menjadi seorang ahli silaturahim. 

Ingin Mengalami Perasaan "Merasa Dilindungi"


Sore kemarin aku menikmati sore dengan membaca buku di halaman depan rumah.
Langitnya cerah dan anginnya lembut menyapa wajah.

Perasaan tenang dan damai seketika datang ke dalam relung jiwaku.

Lalu, sepupuku hadir. Dia bercerita tentang kejadian yang dialami beberapa waktu terakhir. Sepulang kerja, dia merasa takut dan khawatir kalau-kalau nanti ada preman yang mengganggunya (lagi). Memang, akibat tragedi Covid-19 ini, salah satu dampaknya adalah banyak begal di malam hari. Kemudian, dia menghubungi calon suaminya untuk menggantarkannya pulang. Calon suaminya itu dengan gagahnya datang dan mengawasi dari belakang motor sepupuku tadi sepanjang perjalanan pulang.

Mendengarnya, aku pun merasa lega dan aman. Rasa khawatir dan was was sudah hilang. Sepupuku akhirnya selamat.

Namun, disisi lain, aku merasa ingin merasakan itu. Ingin merasakan mempunyai seseorang yang bisa kuandalkan. Ingin merasakan mempunyai seseorang yang bisa aku mintai pertolongan. Ingin merasakan perasaan dilindungi.

Selama ini, aku melakukan dan menanggung apapun serba sendiri. Bahkan seringnya, berbicara dan berdiskusi juga sendiri.

Pengen suatu saat nanti bisa berdua. Itu saja.

Perasaan Ketika Membuat Kesalahan




Aku ingin sekali bercerita kepada seseorang begitu. Namun, aku tak pandai untuk memulainya. Selalu ada rasa grogi yang membuat cerita bakal tersendat-sendat. Lagipula, aku merasa semua orang sedang sibuk dengan urusannya masing-masing. Aku pun menepi saja.

Aku memutuskan untuk bercerita kepada hujan.

Hai Hujan, selamat sore. Terima kasih ya karena hari ini, 31 Maret 2020, kamu datang dengan amat derasanya. Sampai aku pun tidak bisa melihat ada apa di ujung jalan sana. Aromamu segar. Suaramu menenangkan batinku. Aku yakin kamu adalah hujan yang taat. Hujan yang tidak pernah menolak ketika diminta untuk turun ataupun berhenti. Hujan yang ketika aku memajamkan mata untuk menikmati kedatanganmu, aku merasa seolah-olah kamu berkata “You are loved”. Hujan yang seolah-olah berkata kepadaku begini “Don’t worry. Jangan sedih, jangan merasa kamu tidak punya kawan. Jangan gelisah, jangan pernah merasa kamu tidak ada dukungan. Aku datang untukmu dan menemaimu.”

Terima kasih ya sudah datang di waktu yang amat tepat. Perasaanku sedang sesak dua hari ini. Aku merasa aku membuat kesalahan bicara kepada seseorang. Aku merasa isi pembicaraanku dan juga cara bicaraku tidak menarik. Padahal, aku amat suka berbicara dengannya. Dia pintar dan memberiku banyak wawasan baru. Benar-benar menjadi kebahagiaan dan kebanggaan bisa berbicara dengannya. Aku selalu ingin agar dia suka berbicara kepadaku. Aku ingin menjadi partner diskusi yang nyaman untuknya. Namun apa daya, dua pesan terakhirku tidak ada balasan darinya.

Lalu aku mendadak ketakutan. Apakah ada yang salah dengan kata-kataku? Apa dia tidak suka dengan bahasaku? Apa dia menjadi ilfell dengan sikapku? Apa dia akan menjauh dariku?

Dua hari aku menerima dan mendekap erat ketakutan-ketakutan itu. Aku biarkan hatiku kritis dan fragile serta insecure. Aku berusaha untuk mengganti kacamata dan menghapus fikiran negatifku. Aku mengajak diri untuk menjadi “Bodo Amat”.

Hujan, disaat seperti itu, aku tidak membiarkan diriku menulis dan membuat status WA. Aku tidak membiarkan diriku hanya diam saja. Kemarin, aku menyibukkan diri menyelesaikan deadline kantor. Lalu, aku membersihkan rumah, dan mengurus kucing serta olahraga. Keliatannya sibuk, namun hatiku sebenarnya sedang kalut memikirkan kesalahanku.

Aku terus berusaha, Hujan. Aku terus berusaha agar aku tidak terbelenggu dengan ketakutan-ketakutan itu. Ketakutan akan kesalaham dan ketakutan akan asumsi orang. Aku berharap, kedepannya aku menjadi seorang yang lebih berani. Berani salah, dan berani untuk bangkit dari ketakutan asumsi orang.

Live your busy life!

Klaten, 31 Maret 2020
18.33