fluk.tu.a.tif

 

Mudah senang. Mudah sedih. 
Saha? Saya. 

Menguatkan

Kau tau. Selama ini, tidak ada orang yang menggenggam tanganku untuk menguatkanku. Setiap aku melihat seorang yang sedang menggenggam tangan kekasihnya, hatiku pun ingin juga seperti itu. Digenggam. Dibimbing. Dan dikuatkan.

 

Ketakutan yang Dicabut

 

Kenikmatan terbesar dalam sebuah proses adalah dicabutnya ketakutan-ketakutan yang ada di dalam hati.



Kejujuran

 


Aku menyukaimu

Kuharap kamu menerimaku

dan memberikanku kesempatan untuk memilikimu

Jeda Berharap



Pagi itu aku bangun dalam keadaan antara sehat dan tidak sehat.
 
Badanku sehat, tapi tidak dengan kondisi mentalku. Yang kurasakan adalah gelisah dan sesak sekali dada ini. Seperti ada batu besar yang menindih hati. Seperti terkurung dalam ruangan yang amat gelap, pengap, dan hampa. Tidak enak dan segera ingin mengakhirinya.

When your mind and your soul is not good enough, mau ngapa-ngapain juga ga bisa sepenuhnya kan? 

Tapi aku tidak terus berhenti. Aku memaksa diri untuk bergerak. Menyetrika, memijit wajah, dan berdoa. Namun, yang namanya dada sedang bermasalah, berdoa pun rasanya juga berat dan tidak menyentuh hati.

Hari itu adalah hari pertama bulan September.

Ada ingin amat kuat yang belum terkabul. Keinginan yang besar dan terasa memaksa. Kubawa keinginan itu kemana-mana dan kapan saja. Keinginan itu menguasai dan membelengguku.

Apakah karena itu aku gelisah dan sesak? Aku diam sejenak. Menarik nafas. Kucoba pelan-pelan meletakkan keinginan itu. Meninggalkannya pada suatu tempat yang tidak perlu aku membawanya kemana-mana. Sengaja menaruhnya di tempat yang tidak mudah kulihat dan tidak mudah aku ingat-ingat. 

Ya. Meletakkan harapan. Terserah mau jadi apa harapan dan keinginan itu.

Dan ajaib. Sekejap setelah kuletakkan harapan itu, hatiku menjadi ringan. Aku bisa bernafas lega.

Akhirnya, aku tahu jawabannya. Jika sudah mulai berat dan tidak kuat, letakkan saja. Terserah nanti mau jadi apa. Yang penting, kamu sudah berusaha.

Kekuatan

Di fase yang tidak mudah ini, aku sungguh bermohon kekuatan dariNya

Tentang Memiliki Anak


Suatu ketika, aku melakukan percakapan dengan seorang teman lelaki. 
Kami membicarakan soal pernikahan.
Kenapa kami harus menikah. 
Hmmm, maksudnya bukan aku dan dia menikah, namun kenapa aku ingin menikah, dan dia ingin menikah. 

Kalau aku jawabnya, karena aku ingin punya teman diskusi, dan mungkin dengan menikah akan mempunyai teman untuk melakukan lebih banyak kebaikan-kebaikan. 
Kalau dia jawabnya karena dia ingin segera mempunyai anak. 

Aku agak gelisah dengan jawabannya. 
Apakah lelaki semua berpikiran sepertinya? Menikah karena ingin segera mempunyai anak?

Di umurku yang sudah tua ini, aku seperti tidak berharap banyak untuk sesuatu yang tidak bisa kukendalikan sama sekali. Mungkin nanti, ketika ada seseorang yang datang dan menyatakan kecenderungannya padaku, aku akan mengatakan seperti ini, "Umurku sekarang sudah segini. Tidak sedikit yang mengatakan bahwa di usia yang sudah 30 ke atas, mempunyai anak adalah sesuatu hal yang tidak mudah. Tentu, aku tidak ingin mempercayainya. Cuma kadang secara spontan mempertimbangkannya juga. Bagaimana kira-kira sikapmu nanti ketika hal itu benar-benar terjadi? Apakah kamu akan meninggalkanku?"

Hari ini aku tidak bisa menerka-nerka apa reaksimu.
Tapi aku yakin, kamu adalah sosok yang amat dewasa dan bijaksana.