Aku,Si Tante

Untuk Al,Habib,Syifa...
Hey kalian,,tante bahagia sekali mendapatkan kalian ditengah tengah hidup tante.
Saat ini,kalian masih balita,kecuali Al. Al sudah memasuki usia 6 di tahun 2015 ini. Jadi, kalian masih sangat lugu sekali tidak mengetahui banyak hal sehingga kalian akan menanyakan banyak sekali hal-hal di kehidupan ini yang kalian belum ketahui.
Maafkan tante ya,kemarin tante sempat marah-marah sama kalian.
Tante hanya ingin istirahat, dan membaca buku dengan tenang, namun sepertinya kalian sedang menyukai tante,sehingga kalian senang menghambur di pelukan tante dan bertanya ini itu.
Tapi sayangnya,tante tidak bisa menahan emosi sehingga tante membentak kalian dengan keras.Tidak hanya sekali,namun berkali-kali.
Tante masih dalam tahap belajar mendidik anak-anak. Dan,melihat tingkah kalian,tante merasa sungguh berat tanggungjawab untuk mendidik itu.
Tante harus mengalahkan ego untuk melayani kalian dengan baik.
Tante pun kudu bersabar melihat kalian yang berkali-kali memecahkan gelas.
Tante juga harus belajar tersenyum ketika kalian merengek-rengek meminta dibelikan petasan yang berbahaya itu.
Tante pun harus belajar memutar otak untuk mengembangkan ketrampilan kalian dengan berbagai aktifitas.
Al,Habib,Syifa,terimakasih ya. Kehadiran kalian adalah tarbiyah untuk tante.
Kelak,ketika kalian sudah menjadi kanak-kanak,semoga bisa membaca tulisan tante ini.

Between Pain and Suffering (Psychologycal Approach)


 
“Mbak, apa ga capek mba tiap hari bolak balik Klaten-Solo?”, tanya Ibu Handa.

Ya, pertanyaan seperti itu sering nangkring di hadapan saya ketika bertemu dengan orang-orang yang pertama kali bertemu di tempat kerja. Lantas, saya pun akan melakukan repetisi jawaban yakni, “ga bu, biasa saja”.
Kemudian saya berfikir, kenapa sebagian di kantor ini bertanya seperti itu. Mungkin bagi mereka jarak semacam itu terbilang sangat jauh. Untuk kalangan anak anak sekolah atau mahasiswa pun maka mereka sudah akan menjadi anak kost-kostan. 
Lalu, saya pun bertanya kepada diri saya sendiri, “Tami, apakah kamu capek?”. Dan, saya pun akan menjawab “iya”. Iya, jujur, kalau sudah malam tiba, maka saya sudah tidak punya tenaga sama sekali untuk sekedar menulis atau membaca buku. Yang saya lakukan sesampainya rumah adalah langsung istirahat. 
Memang, hal ini manusiawi ketika harus menempuh jarak yang sejauh itu setiap harinya dan kemudian mengatakan “lelah”. It's true that commuting from Klaten to Solo every day is exhausting. Hal itu sungguh normal. Maka jika saya tidak merasa “lelah” atau “sakit badan”, maka sayalah yang sebenarnya tidak normal.
Saya kemudian teringat dengan cerita Alm. H. Pepeng. Kita tau bagaimana sakitnya beliau. Dalam acara Chatting bersama YM yang diadakan oleh salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini, beliau mengakui bahwa ketika penyakitnya itu kumat, maka seluruh badan akan terasa sangat sakit. Dan, hal itu wajar jika dengan penyakit seperti itu bapak Pepeng merasakan kesakitan yang luar biasa. Namun, apakah bapak Pepeng terlihat kesakitan? Tidak, saya pribadi melihatnya tidak kesakitan. 
Well, hal ini yang akan saya bicarakan. Tentang pain, and suffering. Ketika kita terserang suatu penyakit misalnya, sakit gigi, sakit pms, sakit kepala, maka normalnya badan kita akan merasa kesakitan atau pain. Badan saya pegal dan batuk kerap menyerang ketika saya memilih untuk bolak-balik Klaten-Solo. Bapak Pepeng tentunya juga kesakitan. Namun, apakah kemudian kita harus merasa suffering? Apakah kita harus menderita karenanya? Mengeluh, menangis, cemberut, dan lesu? 
Dan disini, ada salah satu ayat Al Qur’an Surat Ar-Ra'd ayat 28:

“..hanya dengan mengingat Allah, hati akan merasa tenang”

Ketika ada serangan dalam tubuh kita yang berupa sakit misalnya, maka kita tidak bisa menolaknya bukan. Sakit itu datang tiba tiba. Badan pegal, demam, nyeri itu hal spontan. Lantas, apakah kamu sedih dan menderita? Itu pilihan. Pain is ineveitbale. Suffering is optional.
Menderita dan sedih itu pilihan kita ternyata. Ditengah-tengah rasa sakit yang luar biasa tidak bisa tertahankan, maka Bapak Pepeng memilih untuk mengingat Allah. Maka, hatinya akan tenteram. Apakah kemudian sakit/nyeri dalam tubuhnya hilang? Tidak, tentu tidak. Rasa sakit itu masih ada disana. Masih ada dalam tubuh Bapak Pepeng. Namun, hati beliau bahagia. Hati beliau tenteram. Oleh sebab itu, yang terlihat dalam wajahnya adalah keadaan baik-baik saja.
So, once again, pain is invetibale, but suffering is optional. Semuanya kembali kepada kita untuk memilih bahagia atau sedih dengan sakit yang diberikan.

RamadhanQ 1436 #2

Dear Tami,
Hari ini adalah ramadhan hari ketiga ,bagaimana kabar semangatmu Tami? apakah menurun,stabil,atau meningkat? Semoga senantiasa meningkat ya.
Tami,selalulah bersyukur dengan mengingat ingat nikmat Allah yang sudah diberikan  kepadamu.Karena sungguh,Allah akan sangat akan mencintaimu jika kamu pandai pandai bersyukur.
Tami,ingatlah apa yg kamu dapatkan di hari kedua ramadhan kemarin. Ketika dalam hatimu berbisik bertanya,boleh ga ya membaca Al Qur'an dengan sangat lirih seperti solat. Kamu bertanya seperti itu karena kamu harus mencuri-curi waktu di kantor untuk tilawah agar bisa mencapai target harian tilawah. Dan dengan ridhoNya,kamu ditunjukkan oleh postingan link website ummi-online.com yg membahas tentang hal ini. Dan jawabanya adalah boleh dengan alasan bahwa tilawah itu seperti sadaqah,ada yg terang terangan dan ada yang sembunyi sembunyi. Prinsipnya adalah bahwa tilawah itu menggerakkan bibir kita.
Tami,ingat pula tentang pencerahan yang kamu dapatkan di hari ketiga ini. Di hari pertama ramadhan,kamu berdoa kepada Allah untuk disegerakan menikah. Namun kamu ragu,apakah menginginkan segera menikah ini adalah baik ataukah malah sebaliknya. Kamu takut jika mendesak Allah itu malah akan berakibat tidak baik. Dan,di hari ketiga ramadhan ini Tami,kamu mendapatkan sebuah pengetahuan baru yang merupakan jawaban dari pertanyaanmu tadi. Dan jawabanya adalah iya. Memang,terburu buru itu adalah tidak baik karena akan dekat dengan setan. Namun ada 4 hal yang sangat dianjurkan untuk diburu-buru atau disegerakan. Ketiga dari keempat hal tersebut adalah menguburkan mayit,solat tepat waktu, dan menikah.
Tami,waktu terus bergerak cepat.Jangan kamu lalai dan ramadhan akan berlalu sia sia dalam hidupmu.Semoga kamu termasuk orang orang yang beruntung.
Salam sehat.
by
Another Tami

RamadhanQ 1436

Dear Tami,
Bersyukurlah untuk hari ini,karena kamu bisa membaca Al Qur'an secara keras dan jelas.
Tidakkah kau ingat waktu ketika kamu harus membaca Al Qur'an secara pelan sekali?
Maka,syukurilah ramadhan kali ini dengan sebaik baik cara bersyukur.
ttd
another Tami

Mari Berdansa




Gadis berusia 25an itu tertiba mengambil tisu tak henti hentinya dari rak mejanya. Cuaca tidak terlalu dingin, dan dia kelihatanya juga sangat sehat sedari pagi. Namun, setelah jam istirahat kerja, dia sepertinya mendadak terserang flu, hidungnya berair dan kelihatanya susah bernafas. Meskipun demikian, dia tetap aktif mengerjakan pekerjaan sambil terus mengambil tisu untuk menyeka hidunya.
Tetapi ternyata, tidak hanya hidung yang ia seka, sesekali matanya juga diseka. Nampaknya, dia baru saja mengalami gonjangan yang luar biasa dari dalam dirinya sehingga membuatnya harus mengeluarkan tetesan tetesan itu.
Dia mencoba untuk duduk tetap tegak. Sedikit sedikit menghela nafas panjang. Tanganya aktif bergerak menekan nekan tombol keyboard, membolak-balik buku, dan memindahkan arah kursor. Namun, dari sorot matanya, jelas sekali terlihat, fikiranya tidak sedang diperuntukkan untuk tulisan tulisan di layar komputer yang ada di depannya.
Dia hanya berusaha untuk terlihat normal, dan tidak meneteskan air dari kedua matanya. Dia malu untuk terlihat lemah. Dia malu untuk terlihat bersedih.
Gerak geriknya semakin gusar. Mungkin dia sudah tidak tau harus bagaimana menahan air matanya yang akan meledak keluar. Kemudian dia terlihat menarik nafas panjang lagi dan memejamkan mata. Mungkin dia sedang berdoa. Mungkin doanya adalah supaya hatinya kembali normal dan lapang.
Setelah membuka mata, dia langsung mengambil telepon gegangamnya. Selanjutnya dia berpindah kesibukan dari memencet keyboard komputer ke tombol layar telepon genggamnya. Lama sekali dia berkutat dengan telepon genggam tersebut. Namun, berangsur-angsur, raut mukanya berseri-seri. Sesekali dia kelepasan tertawa. Dia bahkan lupa dengan sekeliling tempat kerjanya. Dia tenggelam asyik dalam obralan bersama teman temanya di media sosial yang sengaja ia pasang di hape. Dia sudah terlihat bahagia. Flu mata dan hidungnya sudah sembuh.
Tampaknya, menghubungi beberapa temanya adalah jawaban dari doa ketika ia memejamkan mata tadi. Dia tidak mengeluhkan masalahnya, tetapi dia hanya menanyakan kabar dari teman-tema dan dilanjut dengan obrolan obrolan yang lain. Dari situ, dia mungkin mendapatkan kesadaran kembali bahwa dia tidak perlu terlalu bersedih hati karena diluar sana masih banyak yang ujiannya jauh lebih berat dari yang dia alami.
-----
Inilah yang namanya hidup dengan memutuskan untuk mengimani Sang Pemberi Hidup. Maka pasti derajat kecintaan itu akan senantiasa diuji dari waktu ke waktu. Ujian bisa berupa berita gembira dan berita kesedihan. Ada yang goncanganya kecil, ada yang goncanganya besar.
Apapun ujianya, hidup harus dijalani dengan kesempurnaan penerimaan atas kehendakNya, ketabahan, kesabaran, positif thinking, saling mendoakan dan menyayangi.
Meminjam perkataan dari kawanya pak Ali Mochtar, mari berdansa dengan ujianNya sambil tersenyum, meski itu berat.
A day to remember. We have friends for sharing and caring. You are not alone.

Kakakku, I Love You



Menampilkan CIMG2280.JPG
gb1. (dr kiri ke kanan) aku-kakak pertama (uli)-kakak kedua(wiba)

Begitu besar gesekan diantara kami. Pertengkaran sering terjadi. Hal yang sepele saja terkadang membuat kami bisa berdiam diaman cukup lama. 2x24 jam lah maksimal. Hehe.
Begitulah hubunganku dengan kakak keduaku, Mbak Wiba. Nama lengkapnya adalah Uli Wibawanti. Saat ini, dia sudah dititipi seorang anak laki laki bernama Habib, dan seorang anak perempuan bernama Syifa. Alhamdullilah.
Seringnya, setiap kali aku sedang mengalami keruwetan emosi, maka hal yang disampaikan mbakku itu langsung menjadi sulut api yang siap meledak.Maka pertengkaran sering terjadi, meskipun hanya melalui telepon, karena dia bertempat tinggal jauh dari tempat tinggalku. Namun, apakah kalian tau? Menurutku, semakin banyak pertengkaran sepele, ataupun ejekan ejekan yang menyakitkan, hal itu malah membuat hubungan kami semakin akrab dari hari ke hari. Yang jelas, kami mempunyai komitmen untuk menjadi saudara yang akur, hingga kelak di ujung waktu.
Baiklah, aku tidak akan membahas banyak tentang pertengkaran kami, tapi aku ingin mengungkapkan sesuatu yang kukagumi dari sosoknya.
Mbakku Wiba adalah sosok yang sangat rapi. Lihatlah, lemari pakainya tertata begitu indahnya. Lantai rumah pasti disapu minimal dua kali dalam sehari. Tempat tidur dirapikan setelah tidur, dan akan tidur. Kamar mandi selalu disikat dan diberi wewwangian. Ketika memandikan anaknya, maka setiap lekukan tubuh anaknya dilihat betul betul apakah sudah bersih atau belum. Ketika pulang kampung, maka kamarku akan disulab menjadi rapi, layaknya kamar hotel. Ah, tidak bisa aku meniru kerapianya itu.
 Menampilkan 20150610_173730.jpg
Gb2. kamarku yang disulap jadi rapi
Selanjutnya, mbakku itu adalah orang yang sungguh sangat sederhana, dan menerima. Dalam hal membeli baju, dia paling dalam setahun hanya membeli baju sekali. Kadang pun tidak. Sandal, lihatlah, sandal yang dipakai pada tahun 2015, masih sama dengan sandal yang dipakai pada tahun 2010. Dalam soal makanan, maka demi untuk memberikan asupan gizi yang baik untuk anak anaknya, maka dia hanya akan menerima untuk makan sayur yang dipetik dari pekarangan rumahnya, dan tahu tempe. Tidak hanya itu saja, penerimaan terbesarnya adalah menerima untuk meninggalkan karirnya dan mengasuh anak anaknya dirumah. Dan, pastinya, terus menerus membuat formula agar hidupnya dan keluarga kecilnya bahagia dengan kesederhanaan.
Serta, di tengah kondisinya yang alhamdulilah dicukupkan, dia selalu berusaha bersedekah untuk yang lain. Dia menamam timun emas di pekarangan rumahnya, dan buahnya selalu lebat. Kebetulan, banyak tetangganya mbakku itu yang terkena serangan darah tinggi, ketika memetik timun emas dari pekarangan mbakku, maka tekanan darahnya langsung turun dan mengaku tubuhnya makin ringan. Satu lagi adalah tentang keahlian memasak. Mbakku itu sangat payah dalam hal memasak. Hal yang dia bisa banggakan hanyalah membuat makanan jawa yang disebut dengan “klepon”. Tentulah di daerah Jakarta sana, makanan semacam itu menjadi makanan yang jarang. Maka, mbakku sering diminta bantuan untuk membuatkan itu makanan. Pengakuan mbakku, “Biarlah, aku hanya bisa bersedekah lewat ketrampilan”.
Sekali lagi, sikap “nrimo” itu selalu indah. Sikap sederhana itu selalu bisa diterima oleh banyak orang. Dan, itu yang kudapat dari mbakku. Terimakasih Mbakku, kau telah dan akan selalu menasihatiku lewat sikap sikapmu itu. I love you.

Kapan Hambar

jangan diumbar,
nanti hambar
kuturuti nasehat itu
ku terus mengumbar
agar segera hambar
ku umbar dalam ucapan
ku umbar dalam tulisan
dan ku umbar dalam cerita
lalu sudah hambar kah?
belum ternyata.
jika waktu pengumbaranku kurang lama,
baiklah,
aku akan terus masih mengumbar
agar kelak menjadi hambar
bukankah ini hanya persolaan waktu?
bukankan manusia sepertiku tak ada kuasa utk memutuskan peng-hambar-an rasa?
bukankah seperti itu takdir yang harus kulalui?
tenanglah,
aku perempuan tangguh
tenanglah,
aku pasti membuatnya hambar suatu saat nanti