Belajar Menjadi Lebih Baik

Ketika sedang mengalami hari yang buruk tersebab oleh kesalahan diri sendiri, saya ingin selalu mengingat kesabaran Ka'ab bin Malik ketika masyarakat seluruh negeri termasuk Rasulullah tidak diperkenankan bertegur sapa dengan Ka'ab.

Ketika doa yang senantiasa dipanjatkan belum juga terjawab oleh Sang Maha Mendengar, saya ingin terus mengingat Surat Maryam ayat  4 "Nabi Zakaria berkata 'Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbhui uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku". Dan juga wajah teduh dan tawakal pada Ustadz Syafi'i Antonio. Beliau juga belum dikaruniai keturunan hingga saat saya menulis ini.

Ketika ada berita tentang kesuksesan duniawi yang telah diperoleh seseorang, maka saya ingin selalu mengingat perkataan Rasulullah ketika seorang sahabat mengabarkan tentang jabatan duniawi yang diperoleh oleh si Fulan. "Semoga Allah menjaganya", kata Rasulullah.

Ketika permintaan yang sudah lama saya mohonkan dan ikhtiarkan terkabulkan, maka saya ingin selalu mengingat Surat Fussilat ayat 49-50. "Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan" (49). "Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah  dia berkata: 'Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. "Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan dari sisiNya'. Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepadanya azab yang keras" (50).

Ketika diri ini kelelahan untuk mencari pemenuhan hawa nafsu duniawi, maka saya ingin selalu mengingat Surat Al Hadid ayat 20-21. "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamanya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. Maka berlomba-lombalah kamu mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan kepada-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar".

Ketika diri ini suka memperhatikan amal orang lain, dan kemudian membanding-bandingkanya dengan tujuan memberikan penilaian, maka saya ingin terus mengingat sebuah kisah yang diceritakan oleh Ustadz Salim A Fillah. "Kitalah yang layak disebut buruk sebab kita gemar sekali menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri kita sendiri. Padahal kita akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan tentang orang lain".

Ketika diri ini mengaku ingin menjadi penjadi penghuni surga, namun membaca dan menghafal Al Qur'an saja malas, maka saya ingin terus mengingat para hafidz/hafidzoh yang sekarang sudah bertebaran ke muka bumi. Mungkin mereka mensedikitkan untuk tidur, dan mengiasi kebanyakan waktu mereka untuk mempelajari Al-Qur'an. Mungkin mereka pulalah yang setiap malam senantiasa terbangun untuk melaksakan solat lail untuk mendekatkan diri mereka kepada Sang Pencipta.

Ketika diri ini sedang tidak bersemangat untuk menjalani hari-hari ke depan, maka saya ingin terus mengingat perkataan salah seorang guru, "Allah tidak menyukai orang-orang yang pesimis".

#Bersambung

Mimpi Bertemu Rasul


Sumber:  https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&

"Mbak, saya bermimpi Nabi Muhammad", ucap Lala dengan wajah ketakukan di pagi hari kami bangun tidur.
"MasyaAllah La, serius?", jawab saya setengah tidak percaya.
"Iya. Wajahnya tidak jelas. Hanya sosok lelaki tinggi berbaju putih. Tersenyum kepadaku. Dia mengatakan bahwa dia adalah Nabi Muhammad". Cerita Lala dengan sangat berhati-hati.
"Ya Allah La, aku mrinding", ucap saya.

Lala adalah my roomate lima tahun lebih yang lalu di sebuah rumah asrama di kota Yogyakarta. Wajahnya putih seperti anak bayi. Perilakunya lembut, penuh kehati-hatian, dan tawadhu'. Dia suka memasak, membaca buku, dan bersih-bersih lingkungan.

Setelah lulus kuliah, dan berhijrah ke kota yang berbeda, kami jarang berkomunikasi lagi. Sudah lama sekali.

Namun, pagi, dalam perjalanan menuju tempat kerja sambil mendengarkan murotal surat ash-saff, saya kembali mengingat hari itu, hari dimana Lala menceritakan hal yang jarang di alami oleh manusia. Bermimpi bertemu Rasulullah.

Tentu, tidak sembarangan orang yang diberikan kenikmatan bertemu dengan sosok agung itu. Mereka adalah orang-orang pilihan. Mungkin mereka adalah orang-orang yang mempunyai hati yang minim penyakit. Mungkin mereka adalah orang yang hanya menjadikan Rasulullah adalah satu-satunya tauladan kehidupan sehari-hari. Mungkin mereka adalah orang yang bibirnya senantiasa basah oleh kalimat sholawat. Mungkin mereka adalah orang yang sangat rajin menjalankan ibadah sunnah yang sering dilakukan Nabi. Dan mungkin mereka adalah orang yang senantiasa di doakan untuk menjadi anak yang soleh/ah.

Seperti Wirda, putri Ustadz Yusuf Mansyur. Beliau bertekad menghafal Al Qur'an karena pernah bermimpi didatangi oleh Rasulullah dan diperintahkan untuk menghafal Al Qur'an. Dan seperti teman saya itu, Lala.

 Saya, sambil takut-takut, meskipun merasa belum pantas, juga ingin merasakan kenikmatan di dunia untuk bertemu dengan Rasullullah di dalam mimpi dan diberikan satu nasihat spesial darinya. Semoga. Aamiin.

Allahumma shali'ala sayyidina muhammad. Wa 'ala ali sayyidina muhammad.


Mengingat-Ingat


Sumber:  https://www.google.co.id/url?sa=i&rct=j&q=&esrc=s&source=images&cd=
Di Surat Ar-Rahman, Allah berkali-kali menegaskan kepada para manusia tentang jutaan pertolongan dan nikmatNya kepada para penghuni bumi ini. Sebanyak 30 kali Allah berkata "Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang mampu kamu dustakan?".

Kalimat Allah itu tertiba mentonyor pipi kanan saya ketika saya bergeming dalam hati "Mana mungkin aku bisa mendapatkanya?" pada saat saya sedang menginginkan sesuatu yang sangat high dan impossible (Foto sama Mas Nicolas Saputra dan kemudian di upload di facebook).

"Hey, you, Tami, apakah kau tak ingat nikmat dan kejutan dari Allah selama setahun yang lalu?" berceramahlah Si Tami Yang Lain.

Iya, benar juga ya. Kalau difikir-fikir, berkali-kali saya mengalami hal-hal magic yang tidak disangka-sangka kejadiannya akan benar-benar ada.

Saya ingin menuliskannya agar level keoptimisan saya naik. Dan saya juga  ingin membaginya untuk para jin dan manusia agar tau lika-liku kehidupan saya (abaikan saja).

Pertama
Setiap pulang kerja, saya pasti melewati stasiun kereta api Purwosari. Tak jarang, kendaraan yang saya tungganggi terpaksa berhenti untuk menunggu kereta api lewat. Seringnya saya melihat deretan gerbong warna abu-abu, yang menandakan bahwa kereta api itu berkelas eksekutif (harganya setara dengan tiket pesawat terbang). Terakhir menaiki kereta ini adalah ketika saya masih duduk di bangku kuliah semester satu, gratis, dibayari sama kakak.
Kejenuhan di tempat kerja yang tidak ada kesempatan untuk travel a lot membuat saya terkadang marah dengan kondisi yang ada. Sebagai pelampiasanya, saya sering berdeming dalam hati sambil memandangi kereta itu, "Allahumma sholi'ala sayyidina muhammad, wa 'ala sayyidina muhammad. Ya Allah, saya ingin berpergian dengan pesawat, dan pulangnya dari Jakarta naik kereta ini". Begitulah kira-kira ritual doa yang senantiasa saya rapalkan ketika melihat pesawat dan kereta api eksekutif melintas. Entah kapan hal itu terjadi, saya pasrahkan saja pada Yang Kuasa. Entah membeli tiket dengan uang mana, saya juga serahkan pada Yang Maha Punya Uang. Pokoknya, yang penting saya berpergian dengan pesawat dan kereta tahun ini.
Matahari berkali-kali muncul dan tenggelam sejak keinginan itu ada dalam hati serta doa-doa terus di lontarkan.. Musim berganti, dan tahun pun juga berganti. Salah satu rekan kerja kantor memutuskan untuk resign. Saya ditugasi pak bos untuk menghandle beberapa pekerjaan beliau yang belum selesai, termasuk mengurus sebuah agenda ke Ibukota.
Bisa nebak bukan apa yang terjadi setelahnya? Betul. Pihak HRD membelikan tiket pesawat untuk keberangkatan ke Jakarta, dan tiket kereta api eksekutif untuk kepulangan ke Klaten. Perfect. Saya bahagia dan senyum-senyum sendiri selama beberapa hari. 

Kedua
Kakak pernah bilang begini kepada saya, "Aku tu pernah lihat anak muda yang nganterin ibuknya kulakan pake mobil. Dalam hatiku, berandai-andai, jikalau anak muda itu kamu, dan ibu itu adalah ibu kita".
Saya menunjukkan ekspresi datar ketika itu. Saya selalu takut untuk belajar menyetir mobil. Saya takut tidak bisa menstabilkan gas, dan tidak bisa mengira-ira jarak untuk parkir serta belok. Ketika akan belajar mobil, kepala saya selalu pusing. Tapi, kalau saya tidak bisa membunuh beruang ketakutan di dalam diri saya itu, maka berarti saya akan membiarkan ibu saya kulakan barang dagangan dengan menggunakan motor terus. Padahal, barang-barang yang dibeli selalu banyak.
Saya masih belum bisa membayangkan untuk berlatih mobil. Solusi yang selalu ditawarkan adalah menyewa sopir, yang berarti akan mengeluarkan biaya tambahan untuk membayar. Tetapi, hal ini tidak boleh berlarut-larut. Saya harus berubah, dan saya harus membunuh ketakutan itu. Demi Ibuk!
Nampaknya, Kakak dan Ibu saya berdoa sangat kuat untuk kemudahanku belajar. Baru satu bulan berlatih, Allah sudah memperkenankan saya untuk mengantar Ibu kulakan di tempat yang sangat padat transportasinya. Tepat seperti apa yang di dambakan oleh kakak saya dulu "seorang anak muda yang mengantar ibunya kulakan dengan kendaraan roda empat". Maha Agung Allah.


Maka, masihkah saya tidak mempercayai kekuatan doa? Masihkan saya ragu akan pertolonganNya? Masihkan saya berputus asa untuk bangkit dan berjuang? Masihkah saya takut untuk meminta kepada Dzat Yang Maha Baik dan Bijaksana?


Akankah Kita Akan Terus Bersahabat?


Sumber:  https://www.google.co.id/search?biw=1440&bih=771&tbm=isch&sa=1&q=persahabatan+kartun&oq=persahabatan+kartun&gs

Salah satu group WA di HP saya adalah Kita Semua Bahagia (KSB). Anggotanya terdiri dari Saya (Tami, Goldar B), Yessy (Goldar AB), Kiki (Goldar O), Bella (Goldar B), dan Avis (Goldar O).

Saat menulis ini, saya bertanya-tanya dan mengingat kembali bagaimana bisa ada group WA yang satu ini terbentuk. Kami bukan berasal dari kampus yang sama. Kami pun bukan berasal dari organisasi yang sama. Kami tidak tinggal satu kos. Kami hanya sama-sama tinggal di jogja dan lulusan PPMI Asma Amanina. Dan satu lagi, kami sama-sama tidak punya teman kala itu. Teman yang bisa buat makan bareng, teman ngobrol ngarol-ngidul, teman bergaya, teman bercanda, teman bernyanyi, teman menggombal, dan teman berbelanja.

Meskipun kami tinggal ditempat berbeda, kami sering berkumpul di kos Yessy dan Avis. Yessy kala itu, tahun 2014, masih bergulat dengan skripsinya yang tidak kunjung selesai. Dia sering menghabiskan waktunya di kos untuk mengerjakan skripsinya atau menonton drama korea.  Avis, yang kebetulan sudah lulus kuliah, sangat sibuk dengan aktifitas sosialnya, sehingga jarang berada dikos. Kiki, meskipun sudah menikah dan sedang hamil, sering ditinggal suaminya pergi. Dirumah dia sering tidak mempunyai teman. Tetangganya adalah para orang tua. Jadi, dia suka berkunjung ke kos Yessy untuk menunggu suaminya sambil ngobrol dengan Yessy. Saya tinggal di asrama kampus yang terletak di Wates, Kulonprogo. Saya sering pergi ke jogja untuk kuliah dan kabur dari asrama. Jika sudah lelah dan penat dengan kehidupan asrama, saya biasanya akan singgah di kos Yessy. Bahkan sering menginap dan yang pada akhirnya saya ikut kos disana. Kos Bella terletak tidak jauh dari kos Yessy. Bella juga sering ke kos Yessy, sekedar untuk tidur bareng atau makan bareng.

Kegiatan yang sering kami lakukan adalah saling menemani (belanja, makan, pergi ke stasisun atau bandara, de el el). Maka, (mungkin), untuk memudahkan komunikasi, siapa yang sedang longgar, siapa yang sedang membutuhkan bantuan, kami membuat satu group WA, yakni Kita Semua Bahagia (KSB). Why KSB? Ya, karena saat itu banyak alasan kondisi yang membuat kami mudah untuk tidak bahagia. Belum lulus, belum dapat kerja, dipaksa orang tua menikah, terus menerus mendapat penolakan beasiswa, keguguran, dan banyak kekecewaan. Namun, kala itu kami tidak mau larut dalam kesedihan. Untuk itulah, filosofi yang kami coba untuk bangun adalah apapun yang terjadi, kami tetap bahagia.

Dulu, kami sangat dekat. Setiap hari, kita tahu kegiatan masing-masing. Kita tau bagaimana keadaan hati masing-masing. Kita tau detik ini, menit ini, kita sedang ngapain. Kita saling tau apakah hari ini kita sehat atau tidak. Kita bahkan tau kondisi dompet masing-masing. Group KSB selalu rame. Kita membahas hal yang tidak penting menjadi hal yang sangat penting. Kita saling blak-blak an tentang apa yang sedang kita rasakan dan apa yang sedang kita inginkan.

Itu dulu.

Sekarang, Kiki sudah mempunyai anak dan tinggal di Bekasi. Bella sudah menikah dan tinggal di Jepang (kadang di Jogja). Avis di Bogor untuk menghafalkan Al-Qur'an. Yessy bekerja di Pontianak. Saya, disini, bekerja di Solo.

Group KSB menjadi sepi. Percakapan menjadi hambar (seringnya). Mungkin kami sedang sama-sama sibuk. Mungkin kami sekarang menjadi sungkan atau kurang percaya diri untuk saling menyapa. Mungkin kami terlalu banyak kenyataan pahit yang dihadapi, dan terlalu rumit untuk diceritakan, serta belum tentu masing-masing dari kita punya waktu untuk mendengarkan. Mungkin keadaan ruh kami sedang berbeda, ada yang sedang sangat bahagia, dan ada yang sedang sangat sedih tersebab kondisi yang sedang menimpanya. Mungkin, dan mungkin lainya.

Pada suatu saat, Yessy mewakili perasaan saya, menyatakan perasaannya di group KSB. Dia mengatakan bahwa dia kangen jogja, dan teman-teman yang ada di dalamnya. Teman-teman yang ditemui sekarang, tidak seperti yang dulu di temui di Jogja. Saat itu, terjadi obrolan yang sangat panjang. Saya ketinggalan obrolan. Namun, ada salah satu pernyataan dan kenyaatan yang dikeluarkan oleh Kiki yang seketika membuat saya freeze. Dia menuliskan:

"Kita sekarang sedang sibuk dengan kehidupan masing-masing."


Yang sudah menikah, waktunya sudah terkuras untuk mengurus anak dan suami. Yang belum menikah, waktunya terkuras untuk menunggu dengan berjibun aktifitas yang menghibur. Kita sama-sama sedang dalam masa perjuangan untuk memenuhi kebutuhan kita masing-masing secara mandiri. Memastikan masa depan yang sejahtera dan mandiri.

Saya sempat sedih dengan kenyataan itu. Saya takut kehilangan teman untuk berbagi.

Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya mencoba untuk mempertahankan hubungan persahabatan dengan siapapun dengan sekedar menanyakan kabar mereka. Meskipun hanya terjadi percakapan singkat, dan tidak semua diceritakan, serta kadang malah terasa percakapan kami hambar, saya masih terus berharap semoga suatu saat nanti, kami bisa saling bertatap muka dengan wajah-wajah bahagia kami. Bahagia bersama setelah perjuangan yang penuh liku.

Terakhir, doa rabitah baru saya resapi dan gunakan sepenuhnya akhir-akhir ini. Ketika kami sudah saling jauh, sibuk dengan urusan masing-masing, dan mengalami fase yang berbeda, maka, saya serahkan dan titipkan rasa persahabatan ini kepada Sang Pemilik Hati manusia.

"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepadaMu, bersatu dalam rangka menyeru di jalanMu, dan berjanji setia untuk membela syariatMu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya. Ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya dan penuhilah dengan cahayaMu yang tidak pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepadaMu, hidupkanlah dengan ma'rifatMu, dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalanMu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong."

Find Myself In You


Find Myself In You

by Nicole Star

I talk to God about you,
Yet I have no idea who you are
And although I haven’t met you yet, I already know you’re different
I know we share the same amount of passion in our bodies
I know we understand each other
I already love you so much that I’m exercising patience to the highest degree
I talk to God about you
Knowing He designed you specifically for me and only me
I know you’re somewhere out there wondering what it would be like to be with someone like me
I know you’re somewhere getting your life together
But rest assured, I see the light in your darkness
And I already accept your flaws as they were mine
I know you’re out there living each day with a hopeful heart
So I talk to God about you…
Knowing that one day you’ll find me
And you will choose me. Each day. And if you had to, you would pick me all over again. Without a doubt
And I am already so proud to have you
Although I haven’t met you yet
I know we’ll be each other’s back bone
I can feel it in my soul
How much you will adorn me
How supportive you will be of me
How I’ll never have to question your loyalty
I talk to God about you
Because I confide in Him and pray
So that when you come along, I have the strength to let my guards down
& the ability to love you the correct way
And until then, I’m going to keep myself together… Until I find myself in you.

Beri Saya Peluang!

Akhir pekan kemarin, saya berkesempatan berbincang dengan beberapa teman lama dari berbagai sumber. Ada teman dari organisasi kampus, ada teman kontrakan, ada teman di masa pengabdian, ada teman kost-kostan, dan ada teman yang asal kenal. Mengobrol kesana kemari dengan berbagai topik pembicaraan. Salah satunya adalah tentang pekerjaan kita masing-masing. Saya dan mereka, kebetulan kami berada pada kisaran usia biologis yang sama, mengalami masalah yang sama akhir-akhir ini.

Beberapa diantara masalah pekerjaan kami adalah:
1. Atasan yang kurang menghargai hasil pekerjaan kami
2. Tidak mendapat banyak peluang mengerjakan pekerjaan
3. Kurangnya pengarahan tentang pekerjaan yang harus dilakukan
4. Kelelahan, kebosanan, dan kemuakan dengan rekan kerja dan juga sistem pekerjaan

Dan pagi ini, saya mendapatkan sebuah artikel bagus tentang definisi masalah yang sedang kami hadapi saat ini. Yang sebenarnya adalah masalah yang mungkin terpicu karena tidak adanya awareness tentang perbedaan psikologis generasi antara atasan yang notabene adalah generasi X dan karyawan yang notabene adalah generasi Y. Artikel baca di sini

Beberapa hal yang saya garis bawahi di dalam artikel tersebut adalah:
1. Generasi milinium mempunyai dua kebutuhan utama di tempat kerja, yaitu: Pertama, mereka (red:saya) butuh diberikan contoh bekerja efisiensi agar meminimalisasi kesalahan. Kedua, memberikan apresiasi yang diberikan melalui peluang kerja.
2. Bensin para generasi Y, selain gaji yang menghidupi, adalah juga melakukan pekerjaan yang keren sehingga mereka merasa menjadi orang yang spesial dan berarti.

Happy Working!

Belajar Merasa


http://www.healthyhippie.net/wp-content/uploads/2012/03/5972202_f520.jpg

Rabu, 4 Mei 2016, pukul 16.15, nenekku meninggal dunia di usianya yang ke 95 tahun. Beliau sudah sangat sepuh dan sudah sakit (tidak bisa berjalan) sejak tiga tahun lalu.

Ketika simbok (panggilan akrabku kepada nenek) sakaratul maut, saya tidak berada di rumah, melainkan di kantor. Kira-kira 45 menit setelah nenekku dinyatakan meninggal, saya baru dikabari. Kaget. Namun hati saya semeleh. She was very nice three days before her time. Meskipun saya belum tau cerita bagaimana beliau meninggal, namun saya yakin beliau meninggal dalam kondisi yang sangat baik, dan di hari yang baik. (26 Rajab 1437H).

Saya baru sampai rumah maghrib. Rumah sudah dipenuhi dengan kursi dan lampu terang menyala di segala sudut. Banyak orang dirumah. Saya tidak mempedulikan mereka, namun langsung menuju ruangan tamu dimana simbok di tidurkan. Jasad beliau diletakkan di meja tinggi nan panjang dan diselimuti kain jarik (kain batik berbentuk persegi panjang). Saya tidak berani mendekati jasad beliau sendirian. Saya memanggil ibu untuk menemani melihat jenazah simbok.

Namun, jasad simbok sudah tertutup kain kaffan rapi, termasuk bagian wajahnya. Terakhir saya lihat wajah beliau sangat tirus. Banyak keriput dimana-mana. Sudah tidak mempunyai gigi sama sekali. Wajahnya putih bersih, dan bibirnya tipis indah. Beliau sangat cantik di usianya. Saya tidak meneteskan air mata, hanya berbisik dalam hati, "Simbok, yang bahagia ya di kehidupan sekarang. Semoga Allah mengampuni semua dosa-dosa".

Setelah cukup melihat jasad simbok, saya solat maghrib di kamar. Saya berencana menyolatkan jenazah simbok setelah solat magrib dan menunggu imam solat jenazah.

Tidak lama setelah solat maghrib, ada satu rombongan bapak-bapak dan ibu-ibu jama'ah mushola datang untuk menyolatkan. Saya bergabung dengan mereka. Harapan saya, semoga banyak orang yang melayat dan menyolatkan simbok.

Setelah solat, kami bebarengan membaca surat yassin. Saya mengikutinya. Niat saya, membaca Al Qur'an, sebagai amalan jariyah untuk leluhur.

Dalam hati saya bahagia, sebab banyak orang yang peduli dengan simbok. Mereka datang kerumah untuk menyolatkan simbok, dan berbincang kepada keluarga yang ditinggalkan untuk memberikan dorongan motivasi. Hari Rabu itu, tamu silih berganti datang hingga tamu terakhir pada jam 12 malam. Setelah itu semua orang pada kembali kerumah masing-masing untuk beristirahat. Ada beberapa orang yang tetap tinggal untuk menunggu jenazah simbok yang baru akan dikebumikan di hari Kamis nya.

Rumah kami menjadi sepi. Keadaan tersebut membuat saya mensyukuri kehadiran para pelayat itu. Kedatangan mereka membuat hati kami terobati setelah ditinggalkan oleh nenek kami. Kedatangan mereka membuat kami percaya bahwa we are not alone. Dan kedatangan mereka membuat kami merasa bahwa mereka menyayangi kami.

Hari Kamis, para pelayat kembali berdatangan. Ada keluarga jauh dekat, tetangga rumah, ada tetangga desa, ada teman bapak, ada teman ibu, ada teman paman, ada teman kakak, ada teman kakak ipar. Bahkan, ketika sudah selesai pemakaman, masih banyak orang-orang yang datang. Kami merasa bahagia dengan kedatangan mereka.

Hari itu, di hari kematian simbok, saya belajar hal yang paling berharga dalam hidup. Bahwa, ketika ada orang yang sedang kesripahan (ditinggal keluarganya meninggal), maka yang dibutuhkan adalah perhatian. Mungkin juga sama dengan ketika kita sakit, maka hal yang paling membahagiakan adalah perhatian.

Sejak saya menyadari hal itu, saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa ketika saya mendengar atau mengetahui ada orang yang sakit atau kesripahan, maka saya akan berusaha untuk bersimpati dengannya. Kalau tidak bisa bersilaturahim langsung, minimal saya akan mengiriminya pesan singkat.

Sebab, berusaha membuat orang lain bahagia adalah passion saya.

Terakhir, semoga Allah memberkahi dan merahmati orang-orang yang datang kerumah kami. Semoga Allah meridhoi kita semua dan mematikan kita semua ke dalam surga firdausNya.