Zootopia (A Film Review)



A city where anyone can be anything”, said Hoop. 

Satu lagi film yang masuk dalam folder film motivasi saya adalah Zootopia. Film yang dirilis pada awal tahun 2016 ini menceritakan tentang seekor kelinci yang bernama Judy Hoop yang berjuang untuk menjadi seorang police officer di sebuah kota yang bernama Zootopia. Zootopia adalah sebuah kota dimana semua hewan hidup, termasuk badak, banteng, singa, gajah, beruang. 

Well, seekor kelinci mempunyai cita-cita untuk mengamankan kota dimana ada penduduknya yang mempunyai badan yang jauh lebih besar dari pada si Judy? It seems impossible, isn’t it? Banyak orang mentertawakan impian Judy. Orang tuanya pun berusaha untuk merubah cita-cita anaknya tersebut untuk meneruskan bisnis keluarganya, menjadi petani wortel. 


However, stimulus-stimulus tersebut tidak mempengaruhi keteguhan Judy sama sekali untuk menjadi seorang police officer. You can feel Judy’s constancy by the conversation with her parents.

 Father : Judy, you ever wonder how your mom and me got to be so darn happy?
Judy : Nope.
Father : Well, we gave up on our dreams, and we settled. Settled hard. You see, that's the beauty of complacency, Jude. If you don't try anything new, you'll never fail.
Jude : I like trying actually.
Mother : What your father means is that it's gonna be difficult, impossible even for you to become a police officer. Bunnies don't do that.
Judy : Well, then I guess I'll have to be the first one. Because I am gonna make the world a better place. 

Dengan sikap optimis yang senantiasa dipupuk oleh Judy ditengah kegagalan-kegagalanya mengikuti proses menjadi polisi, akhirnya Judy mampu melewati semua tahapan tes yang diberikan. Dengan demikian, Judy Hoop resmi menjadi seekor police officer dan ditugaskan di sebuah kota besar yang bernama Zootopia.

Tentu, Judy sangat bahagia akan semua ini. Tentu, orangtuanya juga sangat happy dan terrified as well. 

Tetapi, inilah ternyata salah satu esensi dari hidup, masalah itu pasti selalu ada untuk Judy dan kita tentunya

Disrespect dan unwanted adalah situasi yang pertama kali dialami oleh Judy. Ya, semua kawanan yang ada di kantor ZPD (Zootopia Police Department) tentu meremehkan kemampuan Judy. Termasuk atasanya yang bernama Chief Bogo. Parahnya, Chief Bogo memberikan tugas kepada Judy sebagai petugas parkir. 

Judy yang mempunyai cita-cita semulia itu kemudian hanya ditugaskan sebagai petugas parkir di jalanan? Bagaimana menurut kalian respond Judi?

Yah, sure. Judy tidak bisa menerima keputusan Chief Bogo. Namun, boss is the boos kan. Sebagai anak buah, harus menuruti apapun kemauan atasan, meski dengan perasaan senang atau terpaksa. Begitupun dengan Judy. Akhirnya dia tetap melaksanakan tugas tersebut.

Dalam perjalananya melaksanakan tugas, dia bertemu dengan Nick, seekor rubah yang sangat pandai berbicara. Judy mengenal Nick ketika Nick sedang melaksanakan bisnisnya yang menurut Judy melanggar aturan, yakni membuat popsickle dari es salju, stick kayu bekas, dan cairan es yang disaring melalui pipa cerobong asap. In addition, Nick juga tidak membayar pajak negara selama menjalankan bisnisnya tersebut.

Keterpojokan Nick tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Judy untuk membantunya dalam sebuah kasus yang sengaja dia ambil, yakni menolong seorang Ibu tua (seekor berang-berang) untuk mencari suaminya yang tiba-tiba menghilang.

Singkat cerita, dari kasus menemukan berang-berang yang hilang tersebut, Judy diberikan kepercayaan oleh Chief Bogo dan juga masyarakat bahwa Judy adalah benar-benar seorang polisi yang bisa diandalkan. Dan Nick akhirnya juga menjadi seorang polisi untuk menemani Judy bekerja membuat dunia menjadi lebih baik.

Disamping filmnya yang sarat akan nilai-nilai motivasi, film ini juga mengandung banyak adegan yang saya jamin mampu meretakkan masker wajahmu. To sum up, film ini cocok dikonsumsi sebagai tontonan keluarga di waktu senggang. 

The most hilarious scene
sumber gambar: https://medium.com/@evan_soohoo/


Lupa

Beberapa hari ini saya mempunyai pengalaman buruk yang membuat saya ingin membenturkan kepala saya ke bantal doraemon berkali-kali. Pengalaman buruk tersebut dipicu oleh sifat (atau mungkin bisa disebut penyakit) pelupa yang bersemayam agak lama di dalam diri saya. Beberapa orang yang sudah mengenal saya dengan baik atau mungkin sering berinteraksi dengan saya cukup intens, pasti akan menyadari kelemahan saya ini dengan sangat cepat. Poor me!

Well, jadi inilah beberapa kisahnya.
1. Kunci Motor
Bulan Juli 2016, saya dipanggil atasan. Saya mendapat teguran lisan karena saya sering telat masuk kantor diluar batas kewajaran. Sebagai konsekuensinya, maka saya dilarang telat masuk kantor sampai bulan Oktober 2016. Maka, saya berusaha semaksimal mungkin mengatur waktu saya kembali untuk tidak telat. Salah satu treatmentnya adalah dengan membawa sarapan ke kantor. Yah, cara ini cukup berhasil. Namun, pada suatu hari yang sangat dingin, Ibuk saya memasak nasi goreng kesukaan saya (ada campuran wortel, daun bawang, mentimun, daun kol, ayam, sosis, cabe rawit banyak, dan tentu saya kerupuk). Well, saya tidak tahan harus memakanya satu jam lagi di kantor. Maka, saya putuskan untuk mencicipnya beberapa sendok saja. Tetapi, nasi goreng Ibuk sangat enak, saya menambah lagi. Tidak terasa saya menambah hingga 3 kali, dan jam sudah menunjukkan di atas batas wajar. Saya kelabakan (namun berusaha untuk tetap tenang as my mission). Saya ngebut. Ketika sampai kantor, parkiran sudah sepi. Saya berlari menuju tempat absen. Saya telat 10 menit dari jam seharusnya masuk kantor yakni 7.30. Tidak apa-apa, waktu itu adalah akhir bulan, jadi 10 menit dalam sebulan tidak masalah. Jam berjalan sebagaimana biasanya, hingga waktu menunjukkan pukul 16.30. Time to go home. Saya cepat-cepat pulang sebab saya sudah kelaparan. Pada saat menuju tempat parkir, saya merogoh jaket saya untuk mengambil kunci motor. Tidak ada. Saya merogoh kantong rok. Tidak ada juga. Saya mencari di tas. Tetap tidak ada juga. Saya berfikir sejenak. "Oh yeah, mungkin kunci motor saya ketinggalan di motor, kemudian pak satpam melihatnya dan mengamankanya.". Saya tersenyum kecil sendiri. Sampai tempat parkir, saya menuju motor saya. Ada kunci motor yang masih tertancapkan disana. Dan, posisinya masih "on". Glek. Huh. Freeze. Whaaat? 10 hours? Seriously? How can it be? What was I thinking? What have I done? Ya Rabb...sebegitu parahkan kualitas otak saya ini? Saat itu pula, saya ingin berteriak sekencang-kencangnya. Padahal, dua hari sebelumnya, saya baru saja melakukan perawatan rutin untuk motor tersebut, dan karena banyak komponen yang aus, maka saya harus merogoh dompet sebesar 650rb (Jumlah yang cukup banyak untuk ukuran motor).

2. Hand reem
Ketika ada lampu merah, biasanya saya hanya akan meletakkan gigi transmisi mobil matic pada kode N. Namun, saat itu, karena lampu merahnya lumayan lama dan saya kelelahan, saya menarik hand reem. Lokasi hand reem ditarik adalah ketika berada di terminal Magelang. Saat itu kami sedang menuju ke Temanggung (daerah kaki gunung Sindoro). Ketika sudah sampai Temanggung, yang kira-kira jaraknya adalah 1,5 jam dari Magelang, dan akan memarkirkan mobil yang otomatis harus menarik hand reem, si hand reem masih dalam keadaan di tarik. Glek.
Whaaaayyyyy??? Could you imagine that? 1,5 jam hand reem dalam keadaan ditarik dan mesin masih berjalan.

3. Pintu Gerbang
Saya seharusnya tidak menuliskan kalimat ini karena  semuanya hanyalah alasan semata. Tapi, untuk menuju kepada cerita intinya, perlu ada kalimat-kalimat alasan dulu. Tidak apa-apa ya? Baiklah. Jadi, hari itu saya dan Ibuk benar-benar lelah. Pekerjaan kami sangat banyak. Saya yang pulang kantor malam, masih harus mengerjakan beberapa pekerjaan Ibuk di rumah yang belum selesai. Jam 10 malam kami baru mandi dan solat isya'. Karena punggung kami sudah sangat sakit, maka kami langsung menuju kamar tidur masing-masing. Ketika bangun tidur, dan akan membuka pintu dan jendela rumah, kami baru menyadari bahwa semalam kami tidak mengunci pintu, pintu gerbang, dan bahkan pintu mobil. Beruntung tidak terjadi apa-apa. Meskipun demikian, saya dan Ibuk sungguh sangat menyesal akan kecerobohan kami.

Oleh karena hal-hal tersebut di atas, maka saya akan berusaha bertobat. Sebagai langkah awal pertobatan dan pengobatan sifat pelupa, saya mengawalinya dengan membuat Teks Proklamasi Perubahan.



Proklamasi


Saya, Uli Tri Utami, atas nama kebaikan masa depan, menyatakan dengan sungguh-sungguh bahwa saya:

1. Akan selalu mengecek posisi kunci motor ketika menginggalkan tempat parkir.

2. Akan selalu mengecek hand reem ketika akan menjalankan mesin.


3. Akan mengecek pintu gerbang sebelum tidur.

 Tanda Tangan

Tami, Si Perempuan Teliti :D



Etika Berdoa (By Ustadz Khalid Basalamah)


Image result for praying
  1. Tidak boleh meminta yang haram. Allah suci dan baik, jadi tidak boleh meminta yang haram.
  2. Tidak boleh makanan, minuman, dan pakaian yang haram. Ada seorang yang  rambutnya acak-acakan, bajunya berantakan, kemudian tidak mengenakan sandal, mengangkat tanganya ke langit dan berdoa. Kemudian Allah tidak mengabulkan doa seorang tersebut.
  3. Tidak boleh tergesa-gesa. “Seseorang akan dikabulkan doanya selama ia tidak tergesa-gesa” HR. Muslim
  4. Para sahabat bertanya, “Bagaimana ciri-ciri tergesa-gesa ya Rasulullah”. Kata Rasulullah “Dia mengatakan saya sudah meminta, saya sudah meminta, belum ada hasilnya. Lalu dia tinggalkan doa 
  5. Kata para ulama, selama kita tidak meminta yang haram, pakaian kita bersih, dan kemudian kita mengangkan tangan dan meminta “Ya Allah...”, semenjak itu pula Allah sudah menentukan batas waktu diterimanya doa tersebut
  6. Tidak usah khawatir. Allah sudah atur waktunya
  7.  Semua di muka bumi ini ada ajalnya (tanggal expired). Termasuk doa.
  8.  Ada seorang sahabat yang pembantunya pada suatu hari mecahin piring. Si sahabat ini marah-marah. Melihat kejadian ini, Rasulullah kemudian berkata “Jangan kamu marah-marah dengan pembantumu. Sesungguhnya piring ini punya ajal, sebagaimana kamu juga punya ajal".
  9.  Sabar adalah menerima dulu takdir Allah, kemudian ikhtiar. Bangun tidur kena flu, ucap Alhamdulilah. Terima dulu. Kemudian baru ikhtiar mencari obat.
  10.  Kalau Allah mencintai hambanya, maka Allah akan mengujinya. Bagi yang bersabar, ada pahala yang besar untuknya. Namun kalau dia berkeluh kesah, maka dia tidak akan mendapatkan kecuali keluh kesahnya saja”, (adaptasi HR. Tirmidzi). 
  11. Ujian sakit juga ada ajalnya. Kalau belum waktunya sembuh, meskipun sudah minum obat yang paling mahal, maka penyakit itu juga tidak akan sembuh.
  12. Seseorang minta kerajaan. Maka, ada yang baru 50 tahun diberikan. Semuanya tergantung dengan bobotnya. Nabi Zakaria minta anak sementara istrinya sudah tua dan mandul. Dia menikah umur 30 tahun, istrinya 20 tahun. Pada saat menikah, istrinya sudah mandul. Dia berdoa. 10 tahun belum dikasih, 20 tahun bedoa belum dikasih. Dan baru dikasih anak pada usia Nabi Zakaria 100 tahun. 70 tahun berdoa, baru di kasih anak. Kenapa? Karena nabi Zakaria meminta doa yang berat. “Ya Allah, kasih saya anak dari istri saya yang mandul”. Kalau dalam akal manusia, tidak ada istri yang mandul mengandung. Tapi Allah kasih karena Nabi Zakaria sabar dalam menunggu. Nabi Zakaria menikmati proses hingga batas watu doa tersebut dikabulkan. 
  13. Nabi Ayyub menikah pada usia 30 tahun, dan istrinya 20 tahun. 20 tahun pertama hidup Nabi Ayyub sangat bahagia. Nabi Ayyub ini tinggi gagah dan mempunyai jabatan sebagai raja nabi. Dia adalah orang kaya di negerinya. Istrinya cantik, putih, dan tinggi. Allah karuniakan Nabi Ayyub 12 anak laki-laki. Semua anak-anaknya mempunyai fisik yang gagah, pintar dan menjadi tokoh masyarakat. Nabi ayyub punya perternakan, perkebunan, dan perikanan luar biasa di negerinya. Namun apa yang terjadi setelah 20 tahun tersebut? Di awal tahun yang ke 21, selama 5 hari berturut-turut, Nabi Ayyub di uji oleh Allah. Hari pertama, Allah uji Nabi Ayyub dengan penyakit kusta. Hari kedua, 12 anak laki-lakinya meninggal seketika di hari yang sama. Hari kedua, Allah matikan semua hewan yang ada di perternakannya. Hari ketiga, Allah kenakan hama di semua perkebunanya. Hari kelima, laut yang suka dibuat ambil ikanya, tertiba ikanya berkurang, sehingga tidak ada hasil perikanan.
  14. Sabarnya Nabi Ayub: Dari rumah yang besar, pindah ke rumah yang kecil. Dari makanan yang banyak, sekarang menjadi makanan yang sedikit. Badanya sehat berubah menjadi penyakit kusta. Punya anak banyak menjadi tidak punya anak sama sekali. Semua jamaah Nabi Ayyub menjauhinya.
  15. Setelah 18 tahun di uji, yang tinggal bersama Nabi Ayyub hanyalah istrinya saja. Istrinya suatu ketika berkata kepada Nabi Ayyub, “Ya Nabi Allah, engkau kan Nabinya Allah. Mintalah kepada Allah agar disembuhkan penyakitnya. Ga usah minta anak, ga usah minta harta. Minta sembuh saja agar anda bisa berdakwah”. Apa jawaban Nabi Ayyub? “Wahai istriku, berapa lama dulu kita mendapatkan nikmat?”, tanya Nabi Ayub. “20 tahun”, jawab sang istri. “Berapa lama kita di uji sekarang?”, tanya Nabi Ayub lagi, “18 tahun”, jawab sang istri. Kata Nabi Ayyub, “Saya masih malu minta sama Allah karena belum seimbang antara nikmat 20 tahun dan cobaan yang baru 18 tahun”.
  16. Pelajaran dari keyakinan Nabi Ayyub adalah bahwa setiap cobaan itu ada tanggal expired-nya. Ada akhirnya.
  17. Setelah 20 tahun dicoba, doa Nabi Ayyub adalah “Ya Tuhanku, Engkau telah menimpakan penyakit untukku, dan Kau adalah Dzat Yang Maha Penyayang.
  18.  Nabi Ayyub tidak menghardik Allah. Nabi Ayyub tetap berprasangka baik kepada Allah bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Penyayang: "Engkau mau sembuhkan penyakit kusta ini tidak apa-apa, juga tidka sembuhkan juga tidak apa-apa”.
  19. Kemudian apa yang terjadi setelah doa itu di panjatkan oleh Nabi Ayyub? Allah mengangkat penyakitnya. Disehatkan tubuhnya. Banyak orang yang menghadiahkan hewan ternak kepada Nabi Ayyub dan kemudian diternak oleh Nabi Ayyub. Jadilah kemudian peternakan yang paling besar di negeri itu. Semua nelayan yang sudah berhenti, kemudian kembali lagi bekerja kepada Nabi Ayyub. Banyak orang menghibahkan tanah perkebunan juga, dan jadilah perkebunan itu perkebunan yang besar, bahkan dua kali lipat dari semula.
  20. Kalau Alah mendengarkan doa yang indah dari hambaNya, maka Allah sengaja menterlambatkan jawabanya, agar ia tetap dalam doanya.

Antara Kucing dan Perasaan Manusia

"Tam, mreneo, kucinge moro meneh", teriak Ibuk di subuh hari. 
Saya sangat exited mendengarnya, dan buru-buru lari keluar memenuhi panngilan ibu. Beberapa hari sebelum hari itu, Ibuk selalu bercerita kalau ada Kucing Anggora yang datang ke pekarangan rumah, sekedar untuk duduk. Ibuk bilang kucingnya sangat besar, bulunya lebat, warnanya putih bersih. Tetapi, badannya nampaknya kurus dan dia kelaparan. Karena Ibuk terlalu sibuk, Ibuk tidak sempat memberinya makan. Ditambah lagi, Ibuk tidak tau menau tentang makanan Kucing Anggora yang konon mempunyai makanan khusus.
"Kae, deloken, apik tho?", ucap Ibuk.
"Woaaah, kereeen Buk!", jawab saya penuh takjub. Saya memandanginya sebentar, dan kemudian masuk rumah kembali karena akan pergi beraktifitas. Ketika saya keluar rumah kembali untuk pergi, Si Kucing sudah tidak ada disitu.
Kata Ibuk, kucing itu beberapa hari datang kerumah. Bahkan, sempat berani untuk masuk rumah. Mendengar kenyataan itu, sebuah ide pun melintas di kepala saya.
"Buk, nek kucinge mrene meneh, kek ono maem yo Buk, opo Susu Bendera", rengek saya pada Ibuk.
"Koe kuat ngopeni?", tantang Ibuk,
"InsyaAllah kuat Buk", tegas saya.
Pada pagi hari berikutnya, Si Kucing masuk lagi kerumah. Kali ini, jarak saya dan Si Kucing sangat dekat karena dia bersembunyi di bawah motor yang biasa saya gunakan untuk beraktifitas. Dia melingkarkan tubuhnya disana. Benar kata Ibuk, dia kelihatan sangat kelaparan.
Saya pun menunda untuk berangkat kerja. Saya membuka lemari, mengambil susu, dan membuatkan susu putih untuk Si Kucing. Saya juga membuka lemari es untuk mengambil nugget, dan menggorengnya.
Semangkuk susu dan sepiring kecil nugget saya letakkan di dekat kucing putih tadi. Namun, dia malah menjauh, dan naik ke atap. Sampai atas, dia sempat menengok ke arahku, seolah-olah dia mengatakan bahwa dia takut padaku. Tatapan matanya itu seoalah-lah juga mengatakan bahwa dia bingung mencari tuanya.
Owh, saya kasihan padanya. Kemudian, dia duduk, menegakkan kepalanya, dan memejamkan matanya. Saya masih berdiri menyaksikan tingkahnya. Sesekali dia membuka matanya dan menatap ke arah saya. Pada saat dia membuka matanya untuk waktu yang agak lama, saya bilang sama dia, "Cing, kowe luwih kan? Maem mo. Ngeleh kowe mengko. Uwis, ojo wedi karo aku. Tak rawat nek koe gelem mrene. Mengko sore tak gawakke maem an kesukaanmu".
Setelah saya selesai bercakap, kalian tahu apa yang dilakukan Si Kucing itu? Dia memejamkan matanya kembali, dengan posisi kepalanya tegak. Heh, saya cuma geleng-geleng kepala. 
Karena waktu sudah makin siang, maka saya meninggalkan Si Kucing. Berharap, Si Kucing mau untuk saya rawat. 
Di tengah perjalanan menuju tempat kerja, saya memikirkan sikap Si Kucing. Dia datang kerumah saya, namun ketika saya dan Ibuk mendekatinya, dia malah takut dan pergi. Saya memang tidak tau menau karakter kucing, namun mungkin sikap kucing seperti itu sudah biasa. Sebagai seekor kucing yang sedang mencari suaka, dia perlu waktu untuk adaptasi. Dia perlu waktu untuk mengenal tuanya. Dan baiklah, saya putuskan untuk menunggu saja. Hahaha, macam menunggu jodoh saja
Sikap kucing tersebut juga membawa alam fikiran saya kepada karakter hati manusia. Hihihi, dalam banget yak perenungan tentang kucing ini. Bahwa, sekeras apapun usaha kita untuk memenangkan hati seseorang, kita tetap tidak akan berkuasa untuk memenangkannya. Sebab, hati adalah urusan yang rumit. Sebab, hati adalah urusan Tuhan. 
Untuk itu, saya berharap kepada Tuhan, jika kucing itu baik untuk saya dan keluarga, maka jadikanlah kucing tersebut peliharaan kami.

Punya Anak Banyak Bukan Alasan

"Punya anak banyak bukan alasan", ucap Avis.


Pekan ketiga bulan Juli 2016, saya dan Avis berkesempatan untuk berjumpa di kota Jogja setelah hampir 4 bulan tidak bertemu. Avis adalah satu-satunya teman yang mempercayai doa yang tersemat dalam alamat email saya, tami.bijaksana@gmail.com. Baginya, entah jujur atau hanya membumbung, saya terkadang bisa menjadi bijaksana ditengah-tengah dominasi sifat negatif saya yang ceroboh. Hahahaha.

Namun demi kebahagiaan hati, maka saya mengganggap statement Avis itu jujur. Karena itulah saya suka berteman dengannya. I feel I am a good girl when I meet her. She can see the positive things inside myself though others cannot.

Kami bersepekat untuk bertemu di tempat pernikahan teman kami, Mbak Ria di Perumahan Puri Sakinah 2, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Jadilah momen pernikahan Mbak Ria sebagai salah satu ajang reuni dan ajang silaturahim para santri Asma Amanina. Saya bertemu anak-anak Asma lintas angkatan. Saya bertemu dengn Ustadz Deden Anjar (Pengasuh Ponpes Asma Amanina), dan keluarganya (Umi Isma, Haura, Aiman, dan Adiknya Aiman). Tidak ketinggalan, saya bertemu dengan guru-guru tahsin yang pernah mengajari membaca Al Qur'an kepada saya. 

Kami saling bertegur sapa. Bertanya sekedarnya. Saling tersenyum. Saling mendengarkan. Saling mengerti. Tidak ada suasana ingin saling menonjolkan. Kami saling merendah untuk menciptakan pertemuan yang damai. Rasanya adem bisa bertemu kembali dengan orang-orang yang mengusahakan untuk menjadi baik di hadapan Sang Pencipta.

Acara walimahan selesai, saya dan Avis sudah kenyang dan kami pun beranjak pergi. Dia sengaja saya ajak untuk ikut bersama keluarga saya berpiknik ke pantai Goa Cemara. 

Di pantai, sambil menunggu sunset, kami bercerita tentang cerita-cerita yang selama ini saling kami lewatkan. Saat itu, saya berniat untuk melaunching salah satu nilai yang ingin saya jalankan, yakni "tidak ada yang disembunyikan kepada sahabat". Dan Avis adalah salah satu orang yang saya deklrasikan menjadi sahabat dalam hidup saya. 

Avis memulai bercerita tentang rencananya ke depan. Dia bercerita tentang kegiatanya selama menuntut ilmu di Bogor, pelajaran-pelajaran kehidupan yang dia akhirnya petik, cek-cok dengan bapak-ibu nya, dan sampai dengan soal kisah romantikanya. Tidak ada disembuyikan. Dia jujur bahwa dia sedang pusing, takut, dan bingung. All things I did not realize about her condition by only guessing from her happy face. 

Saya akhirnya juga belajar untuk terbuka dengan Avis. Saya pun juga menceritakan tentang apa yang sedang saya rasakan dan fikirkan saat ini, dan kisah-kisah yang Avis lewatkan dari saya. Termasuk juga berbagi tentang masalah-masalah batin yang sedang saya coba untuk selesaikan.

Percakapan saya dan Avis selalu berjalan dan berakhir dengan serius. Kami keseringan terlalu serius menghayati perjalanan hidup masing-masing. Sampai suatu ketika percakapan itu tinggal kenangan saja, seperti saat saya menulis ini, maka saya hanya bisa geleng-geleng kepala sendiri, menertawakan dan sekaligus bangga dengan ulah sok filsuf kita. 

Tapi, setelah bertemu dan bercerita dengan Avis waktu itu, ada beberapa pesan yang membekas dalam benak saya dan memberikan pelajaran kepada saya. Seperti antara lain:
 1. Ketika kami bercerita tentang kesibukan urusan kita masing-masing, dan sampai-sampai tidak tau kabar teman/tetangga kita, Avis kemudian teringat salah satu kata-kata dari seorang working mother, "Punya anak banyak bukan alasan". Iya, saya sepakat. Bahwa ketika kita sudah berubah status menjadi Ibu dengan banyak anak, maka hal tersebut tidak kemudian menjadi alasan kita untuk tidak memperhatikan hak-hak orang-orang disekitar kita, seperti menghadiri pernikahan, membalas sms, datang tepat waktu ke sebuah majelis, mempunyai rumah yang rapi, khatam satu kali selama bulan Ramadhan, dan mempunyai berat badan yang ideal. Hahahaha.
2. Bahwa untuk mencapai kebahagiaan, tidaklah kita perlu mencarinya kemana-mana jika hal itu malah membuat frustasi. Namun yang perlu dilakukan adalah dengan menurunkan standar kebahagiaan kita.
3. Bahwa untuk menciptakan kebahagiaan kepada orang lain, terkadang ada sesuatu yang harus dikorbankan. Kalimat tersebut Avis kirim ke layar handphone saya, ketika saya mengabarkan kondisi saya di malam hari di hari itu, "Avis, di jam segini (21.21), aku masih nganter ponakanku untuk cukur rambut. Aku udah ngantuk. Dan kuputuskan untuk pulang ke rumah besok pagi. Aku memutuskan untuk stay di rumah mbakku semalam lagi".



Mengulang-ulang Ilmu

Salah satu sebab saya mendapatkan rejection letter beberapa waktu lalu adalah karena tidak lain saya itu blekak-blekuk dalam berbicara dalam bahasa Inggris. Padahal,saya itu lulusan bahasa Inggris lho. Namun, kenyataan pahitnya adalah saya tidak mengusasi penuh tentang ilmu yang saya geluti di selama di bangku kuliah. Kenyataan pahit berikutnya adalah bahwa nilai IELTS saya jauh dibawah anak dosen saya dari jurusan Ilmu Komunikasi di kampus teratas negeri ini.

Kenyataan yang menyesakkan dada. Hiks. Tetapi, hal tersebut kemudian menjadi penyulut saya untuk mengambil sebuah langkah. Terinspirasi dari film Filosofi Kopi, saya ingin menghidupkan kembali mimpi yang dulu, yakni menjadi seorang pengajar Bahasa Inggris yang handal. Saya ingin mengajari anak-anak bagaimana berbahasa Inggris yang baik dan beradab. 

Therefore, saat ini saya mensetting diri saya pribadi sebagai seorang pre-intermediate English learners (you know, sudah berpuluh-puluh purnama saya meninggalkan dunia bahasa Inggris). Saya akan memulainya dari NOL kembali (doakan istiqomah yak). Berikut adalah tiga langkah yang saya adaptasi dari sebuah link untuk bisa berkomunikasi lisan dengan Bahasa Inggris dengan lancar. 

1. One Day One Speech
Terinspirasi oleh commencement speech yang dibawakan oleh Elen DeGeneres yang amat sangat hilarious, maka saya ingin setiap harinya membuat satu teks pidato yang akan saya bacakan sebelum saya tidur. Dengan begitu, saya akan melatih kemampuan menulis dan berbicara saya at the same time. 

2. One Day One Passage
Dulu saya pernah menjadi seorang freelance English writer yang tugasnya adalah membuat evergreen news. Yakni saya mencari artikel dengan topik tertentu, kemudian saya menuliskanya kembali dengan kalimat saya sendiri. Yah, dan saya akan memulainya lagi, insyaAllah.

3. One Week One Song
Saya jarang mendengarkan music, terus terang saja. Haha. Namun, untuk mendukung misi saya di atas, maka saya akan mewajibkan kepada diri saya pribadi untuk mendengarkan satu musik berbahasa Inggris. Saya akan memahami isinya, dan memperhatikan penggunaan kata yang dipilih. Sesekali saya akan menyanyi bersama penyanyinya, namun tidak dalam satu panggung lho yah. Saya juga akan mencoba menuliskan review isi lagu tersebut.
 
4. One Week One Movie
Yes, inilah yang ditunggu-tunggu. Watching movie. Salah satu aktifitas yang amat saya sukai. Namun, kali ini, agar menonton filmnya tidak berlalu sia-sia, saya akan menjadikan movie tersebut sebagai salah satu media untuk meningkatkan kemampuan berbahasa saya. Saya akan membuat sebuah laporan yang berbentuk review yang isinya antara lain, main idea, quotes of the movie, lesson from the movie, dan vocabulary/phrase/idiom yang ada dalam film tersebut.

Itulah empat rencana yang akan saya lakukan untuk complete my mission. It's always easier to talk than done. But, doakan, semoga semangat saya terjaga untuk mewujudkan misi tersebut. Banyak godaan di kanan kiri kawan untuk saya give up.

So, itulah misi saya dalam waktu dekat ini? Kalau kamu apa?

Filosofi Kopi: Menemukan Diri Sendiri


 

"Saya tidak pernah main-main untuk urusan kopi", ucap Ben.

Kalimat tersebut di ulang sebanyak dua kali oleh Ben (Ciko Jeriko) dalam film karya Angga Dwimas Sasongko yang berjudul Filosofi Kopi. Ben adalah seorang barista professional di kedai Filosofi Kopi milik Joni (Rio Dewanto). Ben adalah seorang yang sudah menyatu dengan kopi. Masa kecilnya dekat dengan dunia kopi. Ayahnya adalah seorang petani kopi. Ketika bertumbuh dewasa, dia berkeliling dunia untuk menuntut ilmu tentang kopi. Baginya, kopi adalah perwakilan jiwa seseorang. Baginya, kopi adalah cerminan karakter manusia.

Keseriusan Ben akan kopi sangat terlihat akan cara bagaimana dia meracik kopinya untuk para pelanggan yang datang di kedainya. Dengan wajah yang serius namun santai (enak dilihat deh pokoknya), dan tangan-tangan yang extra hati-hati menuangkan kopi-kopinya, Ben berhasil menarik para penggila kopi ibukota untuk datang ke kedainya. Daya tarik Ben juga di dukung dengan memberikan satu kartu untuk satu cangkir kopi yang di pesan. Isinya kartunya apa? Isi kartunya adalah karakter akan kopi yang dipesan. Kopi tubruk melambangkan bahwa orang tersebut apa adanya; sederhana; tidak begitu memperhatikan penampilan; namun menyimpan kekuatan luar biasa. Kopi capuccino merepresantikan kelembutan; kegenitan; keindahan; dan sangat mempedulikan penampilan.

Puncak kebermaknaan kopi dalam hidup Ben saya lihat ketika ada seorang investor yang memberikan tantangan kepada Ben untuk membuat satu ramuan kopi yang belum pernah ada di dunia ini. Konon katanya, investor tersebut sudah melakukan perjalanan keliling dunia untuk menikmati kopi-kopi yang ada. Ben menerima tawaran tersebut. Selama dua minggu, Ben berjibaku dengan ramuan kopi tantangan tersebut. Dia mulai dengan memilih biji-biji kopi terbaik yang ada. Dia mengikuti pameran biji kopi dan menawar pelelangan dengan harga yang sangat tinggi. Dia membaca banyak buku tentang kopi dan ramuanya. Dia tidak tidur dan tidak mandi berhari-hari demi untuk melakukan percobaan ramuan kopi yang tidak ada duanya.

Ben mempunyai keyakinan kuat tentang ramuan kopinya. Ben tau betul bagaimana cara mensangrai kopi. Ben tau betul bagaimana cara menanam kopi (pemilihan pupuk, tingkat kemiringan tanah, pemotongan kopi, komposisi air) sehingga menghasilkan biji kopi spesial. Ben paham sekali bagaimana dia harus menuang dan menggiling kopinya agar tercipta secangkir kopi nikmat.

"All out" adalah satu komentar yang pas untuk kerja keras Ben menciptakan kopi tantangan itu. Ben menamai kopi tersebut dengan sebutan "Ben's Perfecto". Ramuan kopi terakhir yang dibuat Ben. Master piece nya Ben. 

Apakah Ben's Perfecto memenangkan taruhan tersebut? Sudah bisa tertebak. Keberhasilan selalu berbanding lurus dengan usaha yang sungguh-sungguh (dan tentunya doa serta keyakinan yang kuat). Keberhasilan selalu disertai dengan kerja larut malam. Keberhasilan pasti mencicipi masa-masa keputus asaan.

Overall, saya menyukai film tersebut. Saya menyukai karakter Ben: Menseriusi satu pekerjaan; Menjadi ahli dalam bidangnya; Bekerja dengan maksimal; dan Menjiwai apa yang dikerjakan. Bagi saya, Ben adalah representasi orang sukses. Bagi saya, selain bermanfaat untuk banyak orang, definisi orang sukses adalah mereka yang mampu jujur terhadap dirinya sendiri, dan menemukan siapakah diri mereka sesungguhnya.