Seleksi Google Connect Live 2019

Kala itu pekerjaan kantor sedang padat. Saya pun memaksa diri saya mencurahkan perhatian, tenaga dan fikiran untuk totalitas menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan oleh atasan. Tidak biasanya saya seperti itu sih. Biasanya ya dikerjakan seadanya aja. Namun, entah mengapa, kesadaran baik itu menghampiri. "Saya ingin menjadi karyawan bermartabat", pekik saya dalam hati yang terdalam. Menjadi karyawan bermartabat yang dimulai dengan mengerjakan pekerjaan dengan totalitas. Yeeaaaah!

And you know what...ketika kita sedang mengerjakan sesuatunya secara all out, do you feel very well inside your soul?  Semacam merasa ringan, plong, positif, cantik, muda, dan kaya .....hahahaha. Itu perasaan saya aja sih...krik krik krik.

Nah, biasanya, kalau pas lagi konsen begitu, ada-ada aja kabar baik yang datang. Tiba-tiba ada bunyi getar dari handphone saya. Bukan dari WA, Twitter, atau IG. Melainkan dari e-mail. Hmmm, jarang saya dapat e-mail sebenernya. Setelah saya buka, mata saya terbelolok oleh pesan yang masuk. It's from Google Local Guide. Aaaaak, I feel so excited and GR (Gegeden Rumongso) dapat pesan dari GLG. Isi pesanya adalah sebagai berikut:


Saya tahu tentang event ini awalnya dari blognya mbak Nurul Rahma. Beliau adalah peserta Google Local Guide Summit 2017 di San Fransisco, California, Amerika. Sejak baca tulisannya beliau, saya kemudian aktif di Google Local Guide (GLG) online. Sampai tahun ini, sudah mencapai level 6 which means saya dapat kesempatan untuk daftar seleksi Google Connect Live 2019 di California. 

Lalu, saya buru-buru redam rasa excited yang berlebihan itu dan tentu rasa GR yang sudah meluber. Sebab begini, "Hey Tami, ini itu baru undangan untuk ikutan seleksi, so sederhanakan keGRanmu".

Iya juga sih. Toh banyak juga pastinya para Local Guide yang mendapat email macam itu. Nah, sekarang kan tinggal perjuangannya  di proses seleksi itu. Salah satu syaratnya adalah we have to make one minute video prompt (using English for sure) dengan salah satu topik berikut:
1. Tell us about your favorite place and what makes it special.
2. What’s one thing you want everyone to know about your community?
3.  Why are you proud to be a Local Guide? 

Ya sesuatu yang worth it itu emang ga gampang ngraihnya sih ya. Padahal saya tuh kurang comfy kalau disuruh berhadapan dengan kamera. Apalagi bikin video. Kalian tau kan cerita saya tentang ketidaknyamanan saya dengan kamera ini? Tapi kalau ini adalah seleksi buat belajar tentang Local Guide langsung  ke Amrik, aaaah,,,,bolehlah diusahakan. Hahaha.

Now, saya sedang menimbang dan memikirkan video dan topik yang akan saya buat. Perlu banyak riset sana-sini untuk memunculkan design ide yang "gue banget" dan berdampak positif. No pain no gain. 


Solo, 18 Maret 2019
09.53

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan Rumlit Institut Ibu Profesional Soloraya 30 Hari Bercerita di hari ke-13

Menolak dengan Elegan

Jumat sore ba'da ashar adalah hari yang selalu ditunggu-tunggu untuk mereka yang ingin mencurahkan segala doa kepada Yang Maha Esa. Konon katanya, Jumat sore ba'da ashar adalah waktu mustajab dikabulkannya doa. Saya adalah salah satu orang yang percaya akan berita baik itu. Biasanya, saya akan berlama-lama untuk duduk di ruangan khusus sholat di perpustakaan kantor. Karpet yang bersih harum serta udara AC yang sejuk membuat hati makin nyaman untuk berlama-lama disana. Plus, tentu saja Si Bos yang tidak suka menganggu urusan privasi karyawannya, apalagi dalam urusan ibadah. Yang penting pekerjaan selesai sesuai deadline, maka kita pun bebas untuk beribadah berlama-lama.

Setelah puas, saya pun keluar dan bersiap menuju kubikel yang kadang bikin heppi dan kadang pula bikin sensi. Namun pas mau keluar dari pintu perpustakaan, suddenly I heard someone talked to me.

"Mbak Tami...wait-wait. I have a business deal with you", Ibuk Siti said.
"Apa tu Buk?", tanya saya.
Ibu Siti adalah seorang Ibu yang amat energik, visioner, dan cerdas tentunya. Di kantor, jabatan beliau adalah staff ahli marketing.
"Mbak besok syuting untuk promosi produk kita ya?", jelas beliau.
Glek. Syuting? Kamera? Lighting? Video? Di konsumsi banyak orang? Uuuuuh
...pengen mual rasanya saya.
"Hmmm, should I accept that?", tanya saya.
"Lha iyalah mbaaaak", jawab Bu Siti dengan senyum lebar.
"I have a right to reject, right?" Entah kenapa saya tertiba mengeluarkan kalimat itu.
"Laaaa whyyyyyyyy?", teriak Ibu Siti kaget.

Saya langsung kabur sambil cekikikan.
Saya yakin Ibu Siti tidak mungkin mengejar saya karena beliau sudah ada agenda meeting yang harus dihadiri segera waktu itu. Oh ya, saya dan Ibu Siti tidak terlalu akrab dalam hubungan kultural sehingga komunikasi kami ya hanya profesional dan terlihat kaku. Plus, beliau bukan atasan dan bukan dari bagian departemen saya.

Saya masih deg-degan dengan penawaran Ibu Siti. Tapi sebenernya saya lebih deg-degan dengan kalimat yang entah datang dari mana tak ucapkan "I have a right to reject". Iiiih, kelihatan jumawa menurut saya.
Sampai meja, saya terus berkomat-kamit istighfar dan bersholawat. Menenangkan hati yg gemuruh tak menentu. Padahal cuma tawaran kek gitu ya, tapi sudah groginya ga karuan. 

30 menit berlalu, ada temen kerja menyamperin saya di meja.
"Mbak, ayolah, mbok mau syuting", rengek dia.
Kala itu, saya punya jeda untuk berfikir jawaban yg agak cihui dan terlihat merendah.
"Kau tau kan wajahku penuh jerawat, kusam, dan kepalaku selalu miring kalau di depan kamera?", jawabku dengan nada rendah dan mimik wajah yg ingin seolah ingin dibelas kasihi.
"Aaaaah, mbak ni....nanti gampang bisa diarahkan sama kamerawannya", jelas dia.

Nah kan, apalagi diarahkan-arahkan begitu. Sama lelaki-lelaki yang tidak jelek-jelek amat lagi. Sungguh, entah mengapa, saya tidak nyaman dengan begitu. Takut tergodaaaaaa.
Si teman tadi lelah merayu saya, akhirnya dia pergi. Lega rasanya.
Setelah dia pergi, saya memutar otak untuk cara bagaimana mengatasi penawaran itu. Qadrullah, atasan langsung saya sedang cuti.
Tiba-tiba ada bisikan bijaksana dan terkesan cerdas mengalir damai di telinga saya.
"Tami, kamu berada di dunia kerja. Yang memerintah kamu bukan temanmu. Tapi yang memerintah kamu adalah atasanmu. Selama atasanmu tidak memerintah, maka kamu sangat berhak untuk menolak perintah itu. Jika atasanmu pun akhirnya diminta bantuan untuk memerintahkanmu, maka kamu pun juga masih berhak untuk bernegosiasi dengan cerdas. Yakinlah, atasanmu adalah orang yang mau mendengar dan memahami dirimu".
Setelah mendengar bisikan itu, saya rasanya ingin mengibaskan jilbab saya.



Klaten, 16 maret 2019
07.13
*Tulisan dibuat untuk memenuhi tantangan 30 Hari Bercerita Rumah Literasi Institute Ibu Profesional Solo Raya.

Memahami Orang Tua

Namanya Bu Hadi. Umurnya sudah kepala 7. Pendengaranya, ingatannya, dan pengucapannya sudah berkurang. Di usia yang sudah senja itu, beliau diberikan anuegerah kemauan untuk belajar membaca Al Quran.

Meskipun kemauan tersebut tidak datang dari dalam dirinya sendiri melainkan karena paksaan Ibu RT setempat, namun hal itu tetap menjadi sebuah rasa syukur tak terkira bagi semua keluarganya. Bu Hadi bukanlah orang yang pernah mengenyam pendidikan. Maklum jika beliau sekarang kesulitan belajar dan tidak banyak ilmu yang dikuasi dan bisa diamalkan. Semasa muda, waktunya dihabiskan untuk membanting tulang demi kelangsungan hidup anak-anaknya.

Setelah bersabar cukup lama dalam berjuang, alhamdulilah semua anaknya lulus sarjana dan memiliki kepemahaman baik dalam hal agama.

Mendengar cerita itu mampu melapangkan dada saya. Sebagai guru ngajinya Bu Hadi, tentu saya sempat tidak tahu harus bagaimana agar Bu Hadi lancar dalam belajar membaca Al Quran. Sudah 3 bulan, Bu Hadi masih belum bisa paham mana huruf a, ba, ta, tsa. Sudah 6 bulan, Bu Hadi belum hafal surat Al Ikhlas.

Hanya doa yang bisa saya usahakan mati-matian. Paham adalah kuasa Allah. Ilmu adalah milik Allah. Allah Yang Maha Memahamkan akan ilmuNya. 

Klaten, 16 Maret 2019
05.50
*Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti tantangan 30 Hari Bercerita yang diadakan oleh Rumah Literasi Institue Ibu Proffesional Solo Raya

Kekuatan Kesedihan



Mereka tertawa sore itu. Bebas dan lepas. Aku sempat tertegun melihat tawa pecah mereka. Setelah 8 bulan bersama, baru kali ini kulihat rona bahagia itu. Aku pun ikut lega dan gembira tentunya. Itulah tujuanku selama ini. Menjadi jembatan untuk anak-anak agar gembira ketika belajar. Aku ingin mereka senang belajar. Antusias dengan ilmu. Suka membaca buku. Berani bertanya untuk apapun yang tidak tahu. Meskipun ini jamanya sudah maju, tapi untuk yang hidup di desa juga sama saja. Pendidikan masih menjadi hal yang kurang untuk diperhatikan dan dimaksimalkan.

Di tengah tawa mereka, tiba-tiba ada satu pertanyaan lewat di telingaku, “Apa yang membuatmu melakukan semua ini?”. Mataku rasanya hangat. Ada air yang memaksa untuk mengalir. “Kesedihan”. Tanpa sempat berkoordinasi dengan otak, hatiku mengatakan itu. Seketika. Mungkin itulah kejujuran dan yang sebenarnya terjadi. Hatiku mungkin sudah lelah untuk ditutup-tutupi keasliannya. Sesak dia harus dibungkam setiap harinya. Karena otak lalai, sore itu, dia memilih untuk jujur. Ya, kesedihan yang membuat aku memulai semua ini, Rumah Belajar untuk anak-anak pedesaan.

8 bulan yang lalu, di sebuah rumah kecil di desa, aku menangis. Aku sedih melihat kondisi dan nasibku. Tertinggal daripada yang lain. Semua sudah berlayar dan mengarungi samudera, aku masih duduk bengong di dermaga hingga semakin hari semakin tua. Tidak mempunyai daya untuk bangkit dan mulai membuat rakit. Hanya bisa merebahkan tubuh dan menutup mata ketika kenyataan jelas-kelas di depan mata. Hatiku sangat rentan. Dan ketika terbangun, aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya. Aku biarkan air mataku jatuh berlinangan. Aku
biarkan tangisku terisak. Aku berikan ruang untuk diriku melakukan itu.

Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.

Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi

.

Sampai pada detik kesekian, aku pun tenang kembali. Aku ingin berubah. Aku ingin hidupku lebih bermanfaat. Dengan modal seadanya, keesokan harinya, aku mengumumkan kepada tetanggaku bahwa aku menyediakan waktu untuk membantu mengajari anak-anak belajar. Alhamdulilah, respon positif diberikan pada program tersebut. Awalnya hanya empat orang yang hadir, alhamdulilah sekarang sudah sampai 8 orang.

Dan kesedihan tidak selamanya buruk. Allah menghadirkan kesedihan untuk kita melesat lebih tinggi. Di balik kesedihan ada kekuatan yang ternyata Allah sudah siapkan untuk kita. Alhamdulilah tsumma Alhamdulilah.


Morning Bahagia

Bismillah.

I feel blessed this morning. Alhamdulilah. Then, what makes me blessed? What make me happy? I'll tell you ya.

Saya bangun sebelum adzan subuh berkumandang. Tapi, ga sempet tahajud. Waktu beranjak dari tempat tidur, adzan sudah tiba. Xixixi,,,,yup, jadi cuma bangun beberapa detik aja sebelum adzan sih.
Lalu, sebelum ke kamar mandi, saya memeras jeruk nipis dulu untuk detox tubuh. Saya minum dan dilanjutkan dengan minum air putih satu gelas. 

Ketika perjalanan ke kamar mandi, sekalian saya bawa kotoran gelas dan sendok untuk dicuci. Usai mencuci, saya wudhu dan kemudian sholat subuh yang diawali dengan sholat rawwatib qabliyah. Selesai sholat, saya dzikir dan murajaah dua doa yang sudah dihafalkan pekan ini. Doanya adalah sebagai berikut. Oh ya, pas sholat dan berdoa, saya berusaha untuk mengkosongkan hati dari siapapun kecuali Allah SWT. 
1. Q.S  An-Naml: 19
رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
 "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".
2. Q.S Al Kahfi: 10
رَبَّنَا آتِنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
 "Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)".

After that, saya paksa diri untuk membaca al ma'tsurat dan mengkhatamkan satu juz Al Qur'an. Berusaha semaksimal mungkin untuk fokus dan meresapi setiap bacaan yang dibaca. Alhamdulilah done. Dilanjut dengan minum air putih dua gelas.

Lalu, saya melakukan aktivitas yang membutuhkan kekuatan luar biasa untuk mengalahkan kemalasan yang menghimpit. OLAHRAGA. Hahaha....Alhamdulilah saya menang melawan syetan. Saya pun olahraga senam di kamar. Keringat bercucuran. Saya ga memikirkan senamnya, Pokoknya just do it. 

Done properly. Saya bergegas mandi dan mencuci baju yang cuma beberapa biji saja. Oh ya, pas di kamar mandi, saya sempatkan untuk menyikat lantai dan toilet juga. Setelah mandi, dandan dan sholat dhuha 2 rakaat (karena keburu berangkat). 

Dalam perjalanan kerja, saya membeli sarapan nasi pecel. Saya pesan kepada penjualnya untuk memperbanyak sayur dan mengurangi porsi nasi. Saya ambil gorengan 3 biji dan satu plastik kerupuk.
Rasa pecelnya enak, meskipun hanya dengan harga yang sangat terjangkau.  Sampai tempat kerja, ada satu botol jus di meja. 
 

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah. 
Pagi yang seperti ini yang saya selalu ingin ulang dan tingkatkan. 



Solo, 12 Maret 2019

Sajak Rindunya Rocky Gerung

Mereka yang mengikuti perkembangan negeri ini, pasti sudah tidak asing dengan yang namanya Rocky Gerung. Saya tidak begitu mengikuti sih, namun saya tau beliau. Kok bisa? Ya iya, karena teman dekat saya adalah pengamat setia perkembangan negeri ini. Apalagi saat-saat ini menjelang 17 April 2019 ini, DM di IG isinya dia dengan tautan tentang kabar terkini. Salah satunya adalah beberapa video ceramah Rocky Gerung. Penasaran dengan beliau, saya langsung bergerilya mencari tau segala sesuatu yang berkaitan dengan Oppa Rocky.

Whaaat? What do you call him? Kwkwkwk....yes, setelah mencari lebih jauh sosok beliau, saya akhirnya suka dengan sosok gayanya Oppa Rocky. Karena beliau istimewa, maka memanggilnya pun juga istimewa, yakni "Oppa".

Salah satu hal yang saya suka darinya adalah tentang caranya menuliskan perasaan rindu. Cakeeep banget. Kalimatnya singkat, namun bak pedang, langsung menghunus ke dasar jiwa. Klepek-klepek...
Tulisan tentang rindu itu biasa beliau posting di akun medsos satu-satunya yang dimiliki, yakni twitter.

Berikut adalah kumpulan sajak rindunya Rocky Gerung. Selamat menikmati.
1. 10 Nov 2017   12.42 AM
Hanya rindu yang mampu mendengar sunyi.
Selamat malam.

2. 7 Jan 2017     11.19 PM
Malam itu hidup.
Hasrat memberinya nyawa,
agar rindu tak kehabisan alasan.

3. 20 Jun 2018     06.45 PM
Kata mengandung arti karena suasana.
Seperti rindu dan senja.

4. 2 Sep 2018     6.18 PM
Hujan di akhir hari
Menetaplah hingga malam
Rindu sedang menuju ....
Selamat sore.

5. 8 Mei 2018     12.03 AM
Tak tiba, tak berarti tak ada.
Seperti rindu.

6. 1 Jan 2018
Rindu adalah embun malam,
yang setia menanti pagi,
kendati akan menjadikannya tiada.

7. 28 Jul 2017     12.52 AM
Malam menyempurnakan rindu..

8. 18 Sep 2015     11.20 PM
Rindu itu sejenis tasawuf.
Jangan memaksa paham.
Ia tiba pada waktunya.

9. 7 Jan 2018    12.47 AM
Rindu adalah sunyi yang terdengar.

10. 9 Okt 2016     11.11 PM
Terperangkap dalam rindu,
jiwa menari menikmatinya.

11. 18 Jun 2017    10.30 PM
Bernaung pada malam,
rindu melumat siswa waktu.
Yakin pada tiba sediakala.
Tak ada yang habis...
bagi rindu.

12. 29 Agt 2017     12.46 AM
Biarkan rindu mengalir.
Ia hanya mengairi,
bukan membanjiri batinmu.
Selamat malam.

13. 26 Jan 2018    1.34 AM
Rindu adalah nyawa waktu.

14. 4 Jun 2017     12.26 AM
Beri jalan kepada rindu.
Ia akan menuntunmu,
ke mata air harapan.
Selamat malam.

15. 15 Des 2017    12.02 AM
Rindu bukan persoalan.
Ia adalah jawaban yang belum selesai.
Bahkan tak harus.
Selamat malam.

16. 19 Jul 2017    12.08 AM
Rindu tak menpersyaratkan
"kegentingan yang memaksa"

17. 5 Agt 2017    11.40 PM
Rindu hanya menemui mereka yang tak posesif

18. 25 Jul 2014    2.12 AM
Rindu adalah cinta sebelum dicemari janji.

19. 12 Mei 2018    12.24 AM
Rindu tak pernah menetap.
Tapi ia selalu kembali.

20. 18 Mar 2015    1.00 AM
Rindu adalah sabda alam ekpada malam.

21. 13 Mei 2018    6.41 PM
Senja menghantarkan rindu pada pilihan:
menempuh malam atau menyelasi perjalanan.

22. 12 Jan 2019   12.40
Rindu menuntunmu,
bukan untuk tiba.
Selamat malam

Allah Kasih Signal

Bismillah.

Saya gelisah. Tidak saat ini, namun kemarin. Rasanya ada yang menekan-nekan dada saya sehingga berat untuk bernapas. Selain itu, ada seperti rasa nyeri. Pikiranpun ikut-ikutan kalut, kosong, dan tidak fokus.

Hingga tak tahu harus bagaimana lagi, akhirnya saya berhenti. Saya mampir ke sebuah masjid yang bangunannya megah dan membuat nyaman beribadah. Saya solat tahiyatul masjid dan menunggu solat maghrib sambil tilawah Al-Quran. Qadarullah, sampai adzan maghrib selesai berkumandang, hati saya juga masih belum plong. Hujan deras mengguyur. Saya tambah larut dalam kesedihan yang entah disebabkan apa.

Solat maghrib berjamaah dimulai. MasyaAllah suara imamnya merdu sekali. Air mata saya pun menderas mengalir. Disitu, ganjalan dalam dada saya langsung pecah dan lenyap. Saya merasakan kelegaan yang menenangkan. Sejuk. Ringan.

Saya pun pulang. Bukan karena hati saya sudah baik-baik saja, namun karena hari sudah mulai malam. Sampai rumah, saya membuka hape. Ada beberapa pesan masuk. Yang saya buka pertama kali adalah pesan orang-orang terdekat saya dl. Termasuk dari pesan sahabat. Seketika saya membuka pesannya, saya terdiam sesaat. "Alhamdulilah. Ternyata perasaan gelisah tadi adalah tanda saya akan mendapatkan kabar ini".

Alhamdulilah tsumma alhamdulilah. Meskipun kabar itu kurang menyenangkan, saya merasakan ada tambahan kelegaan di hati saya.

Saya kemudian ingat perasaan itu beberapa waktu lalu. Ketika perasaan itu menghampiri, biasanya akan ada sesuatu yang terjadi. Biasanya kabar yang mampu menggoncang jiwa. Allahua'lam.

Dan, kepada Allah sepantasnya kita menyerahkan urusan hati yang gelisah itu. Meskipun akan menerima kabar yang kurang menyenangkan, namun ketika hati dititipkan kepada Allah, semuanya akan baik-baik saja.

Klaten, 3 Maret 2019