Our May Day



We grow up. We are not a student anymore officially. In our society, generally people who have graduated from school, they are faced by many choices; working, getting married, or even continuing the study. But we choose to work because of a financial need.
Dita has been working since 2011 for some different institutions. She began her career by joining a program  namely Indonesia Mengajar initiated by our Minister of Education, bapak Anies Baswedan. She worked as an Elementary school teacher for a year set in Sumbawa Island. After finishing her contract, while seeking for a new job, she worked for a research institution from her campus for two months and located in a district in West Java. After the program completed, she applied a job in a social company and she was accepted. Unfortunately, she felt that the job was not in line with her passion and she did not like her job that time so she decided to resign and looked for another job. Having some consideration, to survive her family life, she accepted her friend’s job offer as a Japanese translator for an international company in Jakarta. She was able to stand out there for about 14 months, and she ended her contribution there on April 2015.  What’s next then? Wait.
Meanwhile, I have definitely a different path with Dita. Though we are friends, it does not mean that we have to walk in the same path. After I graduated from a university in 2012, I worked for Dirjen Pendidikan Tinggi as a year contract teacher in a rural area in North Kalimantan. After that I took a scholarship offered by the government to join a year lecture program namely PPG (Teacher Professional Program). I finished the lecture on February 2015. Next, my struggle in looking for a new suitable job was started. I sent some job application letters and some of them called me to have a series of tests. So, from March to April I had spent my time to have some tests. Two courses and a company announced that I passed all the tests. The announcement of those three workplace happened in the last week on April and it began to be difficult time for me since I have to choose one of them. Which one did I choose? Wait.
The day had come. The first of May was a May Day. Dita had her holiday for a week and she spent it at home. Sure, I was at home too. So, we saw each other within Dita’s holiday.
“May is a new month for us, and a new life either. We will be a new laborer in a new institution. I am going to work for Tiga Serangkai company and you are going to be a civil servant in Ministry of Social Services”, I said to Dita.
“Yes Tami. Wherever we are, don’t forget about our mission, be useful for others”, She added.
Well, we both realized that we were not born from a rich family. We realized that we needed to be a financially independent woman. We realized that we have to survive.
We believe that working (red: being a career woman) is a part of praying. Therefore, we consider our activity right now is a praying though our work does not impact to people directly. 

 Hasil gambar untuk sahabat

Miss Terius and Mr. Rius in Malinau (Part 5)

 
Hi Mbak Selly..how are you? I heard you come home already in Surabaya. I hope you enjoy your time right now.
Do you still remember me? Hehe, yeah, I am Tami, a girl who you met with in Malinau.
I always keep a moment I spent with you long time ago. The time when you and I spent several days in mba Indah’s house. We talked many things. You told your story, and so did I. And in the middle of our talking, you advised me something really precious.
You told me “terkadang ada hal hal yang tidak perlu untuk dijelaskan”.  Sometimes there is a thing that we are not neccecarry to know the explanation.
“Let the time explains to you. Right now might be not the proper time for you to know the clearity. You are not ready for knowing the fact”, you added.
Mbak Selly, your words were so amazing for me. It brought the nature of advise that is for enlightening. Yeah, it was likely a light for me. It was the time when I understood one of the formula of life. It was the time when I realized that I needed to be patient with God’s plan. I keep your words till now Mbak Selly. Many thanks for your sharing.
Thank God I met you.
Keep inspiring ya Mbak.

 Hasil gambar untuk time

Miss Terius and Mr. Rius in Malinau (Part 4)



Salah satu guru ngajiku pernah menasihatkan kepada santrinya, salah satunya aku, untuk memilki sahabat dalam hidup ini. Sahabat berbeda dengan kawan. Sahabat jumlahnya hanya sedikit. Bahkan kalau dihitung, jumlahnya pasti tidak akan melebihi 5 orang.
Mempunyai sahabat bagi seorang muslimah menjadi hal yang esensial. Salah satunya adalah untuk menghindarkan adanya fitnah hati. Ustadz Syatori Abdura’uf mendefinisikan fitnah hati sebagai perasaan yang seharusnya tidak dikembangkan oleh seseorang. Contohnya adalah mengembangkan perasaan suka dengan lawan jenis yang bukan menjadi mahramnya. Setiap manusia pasti mempunyai masalah. Dan, perempuan pasti membutuhkan teman untuk sekedar berbagi masalah tersebut. Jika dia memilih seorang laki laki menjadi sahabatnya, dan mencurahkan isi hatinya tersebut kepada laki laki itu, maka yang bermain disana adalah hati, dan sangat mungkin untuk keduanya tumbuh perasaan suka (red: cinta). Fatal bukan?
Untuk itulah Islam menganjurkan untuk mencari sahabat sesama jenis. Heh, indah ya Islam itu!
Well, dan perkenalkanlah salah satu sahabatku di dunia ini. Dia kutemukan dalam perjalananku mencari jati diri di sebuah tanah yang sangat asing bagiku, tanah Malinau. Kwkwkw. Tidak kusangka sebelumnya aku akan bertemu dengan sosok seperti dia. Let’s throw back.
Dua hari kedatanganku di Malinau, aku diajak oleh keluarga tarbiyah mengikuti agenda rutin mereka, yakni rihlah (red: rekreasi). Karena aku belum mengetahui tempat dan tentu tidak punya transportasi, maka dialah yang menjemputku. Hey, kagetnya aku melihat sosoknya. Tubuhnya sangat tinggi, orang jawa menyebut tubuh setinggi itu dengan julukan genter . Tidak banyak senyum, dan terkesan sedikit arogan, jutek, dan tidak friendly. “ih ni orang tarbiyah koq dingin nya kayak gini”, komentar spontan hatiku waktu itu.
Belakangan ku ketahui namanya adalah Puri. Angkatan kuliah satu tahun lebih di atasku, namun umur kami sama. Penduduk asli Kalimantan, namun ada keturunan darah jawa nya. Bergolongan darah AB. Tidak banyak bicara. Care. Semangat menuntut ilmu yang tinggi. Sangat tertutup.
Selama di Malinau, dia menjadi partner dalam kegiatan di keluarga tarbiyah. Kami sering bertemu, kami sering berdiskusi, dan tak jarang kami sering bertukar isi perasaan. Ternyata, waktu demi waktu, kami merasa klop satu sama lain. Dan, pada suatu ketika, diriku mendaulat dia menjadi salah satu sahabatku.
Kata kakek Jamil Azzaini, seorang sahabat adalah dia yang sedikitnya mempunyai tiga hal yaitu sumber inspirasi, supporter, dan controller.
Sumber inspirasi. Yup, tentu. Mbak Puri adalah sumber inspirasiku. Obroloan kami tidak hanya sekedar mengobrolkan masalah yang dangkal, namun lebih kepada bertukar dengan ide, gagasan, dan cita cita. Ide ide nya dan gagasanya untuk mendidik generasi menjadi generasi rabbani membuatku terkagum kagum. Kegigihanya untuk terus mengupgrade keilmuan islam turut juga menulariku. Kehati hatinya dalam menjaga aurat menggerakkanku untuk menirunya
Supporter. Yup, mba Puri adalah sosok yang selalu menyemangatiku. Ketika aku lagi demotivasi, dia adalah orang yang kulirik untuk kujadikan tempat sampah. Dia selalu datang lewat pesan singkatnya untuk memberikan apresiasi pada prestasi prestasi hidupku. Mba Puri pun yang tiada lelah menjadi pendukungku untuk meraih cita citaku. Saat aku galau pekerjaan, aku konsultasi dengan dia. Saat aku galau kuliah, pun dia yang memberikanku solusi solusi. Thanks bro!
Controller. Sahabat yang baik bukan hanya sebagai sumber inspirasi dan supporter, ia juga berpersan sebagai controller. Ia tak segan mengingatkan ketika temanya berbuat kekeliruan. Mba puri selalu menanyakan tentang liqoku. Mba Puri selalu mengirimkan kisah kisah inspiratif dan pengingat di layar handphoneku.
Heh, sungguh nikmatnya mempunyai sahabat yang tepat. Terimakasih sahabat. Semoga kita diberikan keistiqomahan sampai akhir hayat, dan berakhir dalam khusnul khatimah. 

#mbak bantu saia recall moment indah di Malinau, nanti tak tulisnya. Kwkwkkwkwkw


Hasil gambar untuk persahabatan

Miss Terius and Mr. Rius in Malinau (Part 3)



Miss Terius and Mr. Rius in Malinau (Part 3)
“Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan”
(Imam Syafi’i)

“It seems imposibble until it’s done”.
(Nelson Mandela)

Sampe sekarang, aku masih menganggap pertemuanku dengan mbak Lisa sebagai hal yang mustahil. Namun kenyataanya kejadian waktu itu tidak mustahil. Dan waktu itu sudah berlalu sekitar setahun silam.

Aku dan Mbak Lisa adalah salah dua orang yang diundang makan malam dirumah salah satu tokoh di Malinau. Mbak Lisa rumahnya sangat jauh dari kota. Acara gala dinner nya pun berakhir hampir tengah malam, sehingga mba Lisa mau ga mau harus mencari tempat menginap. Dan ditempatku lah mba Lisa menginap.

Aku dan Mbak Lisa sama sama adalah anak perantauan dari Jawa dan mendapat tugas mengabdi di tempat yang sama. Kami dipertemukan dalam sebuah acara pengajian yang diadakan tiap pekan. Sebelumnya kami tidak terlalu akrab, namun karena malam itu, kami menjadi sangat akrab.

Alamiahnya perempuan, kalau sudah bertemu maka akan banyak cerita disana. Kami pun sebelum pergi beristirahat, menyempatkan diri untuk berbincang bincang masalah yang bisa dibilang sangat pribadi. Aku pun bercerita apa yang aku alami, dan begitu pula mba Lisa. Kami bercerita tentang perjalanan hidup, karir, cinta, jodoh, dan kebahagiaan hati.

Hingga tak terasa, waktu sudah akan menunjukkan waktu subuh. Maka kami pun mengakhiri obrolan kami.

Aku mengambil pesan penting dalam pertemuanku dengan mbak Lisa ketika di Malinau dulu. Bahwa dimanapun kita berada, kita akan ditempatkan dengan orang orang yang mempunyai pengalaman historis yang sedikit atau hampir sama dengan kita. Tujuanya adalah untuk saling bisa mengerti, mendukung, dan menyemangati. Bahwa setiap orang pasti mempunyai ujiannya masing masing. Tidak selamanya orang yang dipandang bahagia dan hidupnya serba enak, menjalani hidupnya seperti yang dilihat. Bahwa cita cita itu harus diperjuangkan. Oh ya, satu hal yang berkesan dari mbak Lisa adalah dia mempunyai semangat mengejar cita cita yang sangat tinggi, semangat keilmuanya luar biasa. Dan, bahwa hidup tidak untuk mengeluh. Dari mbak Lisa, aku belajar tentang tersenyum setiap saat dihadapan orang. Mba Lisa tidak pernah mengeluhkan keadaanya yang jika dilihat olah kaca mata orang lain sangat mengesalkan. Contoh: Terjatuh dr motor saat akan bekerja; Ditempatkan ditempat tugas yang jalanya sangat licin dan tidak beraspal.

Terimakasih mbak Lisa untuk pertemannya.