Hari Baru


Foto1: Berkaca pada kaca yang tak sempat dibersihkan

Ada yang dilupakan ketika menyambut pagi, yakni senyuman.
Ada yang luput ketika bangun, yakni kesyukuran.
Mulai hari ini aku berjanji akan banyak tersenyum.
Bagaimanapun keadaannya, aku akan terus tersenyum.

Marahkah Aku Sama Allah?


Source: Pexels
Saya mengegas motor sampai pol hingga tangan sudah mentok. Tidak peduli otot punggung yang seolah ikut ketarik sakit. Jalanan Jogja-Solo lenggang alhamdulilah. Saya mengejar waktu. Kajian kitab rutin dimulai pukul 09.45, dan saya baru dari rumah jam 09.15. Perjalanan Klaten-Solo membutuhkan waktu satu jam.
Sebenernya tidak berangkatpun tak masalah. Tidak ada sekors. Tidak ada nilai. Tidak rugi bayar SPP. Toh nanti bisa lihat catatan teman. Toh juga kajian selesai jam 11.00. Palingan saya hanya akan dapat setengah jam materi saja. 

Namun, hari itu saya harus berangkat. Bukan mendapatkan materi niatnya, tapi saya mau menghapus dosa. Tidak peduli punggung yang sakit, tidak peduli perut yang melilit. Saya ingin berangkat kajian karena saya pernah marah sama Allah.

Dua pekan sebelumnya, something happen. Ada kejadian yang menimpa sehingga seketika membuat saya berpikiran seperti ini "Ya Allah, ini serius? Saya kan sudah begini dan begitu, masa seperti ini?". Plak. Astaghfirullah. Berharap kalimat itu tidak pernah terucap lagi.

Karena saya syok dengan apa yang diberikan Allah, dan istilahnya "kurang nrimo", maka saya jadi malas beribadah. Baca Al Quran ogah-ogahan. Tahajud hanya dua rakaat. Solat cepat-cepat. Sedekah sekedarnya. Kajian tak ada yang didatangi. Mati. Hati saya mati. Sakit. Hati saya berpenyakit. 

Hmmm, semacam bangunan yang sudah ditata rapi dengan segenap upaya dan tenaga serta air mata, kemudian karena ada angin besar, maka susunan tadi jadi acak-acakan tak beraturan. Lalu saya marah dan tidak terima.

Bodoh benar kan saya? Ya saya sangat mengakuinya keadaan waktu itu. 

Tidak seharusnya saya seperti itu. Saya hanyalah seorang hamba. Tak berhak marah atas segala ketetapanNya. Seharusnya yang dilakukan adalah menerima dengan syukur dan lapang dada. Allah menetapkan sesuatu pasti ada banyak hikmah dibaliknya. 

Maka, setelah kesadaran pulih, saya bekerja keras untuk bertaubat. Tidak peduli lelah dan letih. Saya terus melaju mendatangi berbagai kajian ilmu agar Allah ridho kepada saya. Saya menekan ego untuk terus berlaku sopan kepada orang tua. Tidak berkata sepatah kata pun ketika orang tua menyuruh atau menasihati. Saya dengar dan saya taat.

Saya sungguh takut akan murkaNya. Sunggu takut. 


"Duhai Allah, jika ada di antara kami disini datang dengan membawa lumuran dosa, maka kami mohon ya Rabb, jangan keluarkan kami dari tempat ini kecuali Engkau telah ampuni dosa-dosannya. Jika ada di antara kami ada yang membawa kegelisahan, jangan Engkau keluarkan dari tempat ini kecuali Engkau telah tenangkan hatinya. Jika ada yang datang ke tempat ini membawa kesulitan dalam hidupnya, mohon jangan Engkau keluarkan dari tempat ini kecuali Engkau telah ringankan beban kesulitannya. Ya Rabb, jika ada diantara kami atau keluarga kami yang sedang ditimpa penyakit, mohon sembuhkan dan angkat penyakitnya. Ya Allah, berikanlah kami petunjuk, yang dengan petunjuk itu kami istiqomah dalam beribadah kepadaMu, satukan kami dalam cinta dan kebaikan, jauhkan kami dari sifat yang tidak Engkau sukai. Ya Allah bimbing kami untuk semakin dekat kepadaMu, juga keluarga kami, kerabat kami. Mohon satukan kami di dunia, dan akrabkan kami ketika di akhirat. Ya Allah kami merindukan pertemuan dengan Rasulullah SAW, kami mohon ya Allah satukan kami di akhirat, dengan para syuhada, orang-orang sholih"


Klaten, 21 April 2019

Pintu Modal Bagi Para Pejuang Hidup



Siang itu setelah menunaikan sholat dhuhur, bel istirahat kantor berbunyi. Saya tidak biasa makan siang. Namun lebih suka memanfaatkan waktu untuk tidur di perpustakaan. Rasanya merebahkan badan di lantai itu lebih bisa memulihkan energi ketimbang makan siang. Apalagi jika karpet lantainya empuk dan AC menyala sempurna. Sungguh menjadi kenikmatan hakiki untuk seorang pekerja seperti saya. 

Saya pun bersiap meluruskan seluruh tubuh. Handphone ditaruh di saku. Kedua telapak tangan saling bertumpuk di atas perut. Mulut ini sudah akan mulai beristighfar sebagai wirid pengantar tidur. Tiba-tiba handphone bergetar. Tanda pesan WA masuk. Hati saya girang karena yang menghubungi adalah adik tingkat waktu kuliah yang lama tidak bersua. Dia menanyakan kabar dan mengatakan merindukan saya. Ah, menggembirakan sekali bukan?

Astuti Wally namanya. Orang Ambon asli dan sangat memperhatikan urusan dakwah. Dia fokus dalam membina anak-anak menghafal Al Qur’an. Saya akui, ketika dulu masih bersinggungan dengannya, hafalan dia amat bagus. Tenang dan tenteram hati ketika mendengar dia melantunkan ayat-ayat suci Al Qur’an.

Sekarang dia dan suaminya mengurus Rumah Tahfidz di Ambon. Itu adalah Rumah Tahfidz pertama di daerahnya dan lembaga itu mereka dirikan secara mandiri, tanpa bantuan dana dari manapun. Ya kalau ada yang membantu tentu tidak ditolak.

Siang itu, Astuti menceritakan idenya untuk membangun bisnis di daerahnya. Tempat Astuti memang pelosok dan belum berkembang. Dia butuh modal dan memerlukan pinjaman. Tentu dia mencari sumber pinjaman modal yang tidak ada ribannya. Dia mencari suatu lembaga atau perorangan yang mau meminjami dirinya modal dan bisa dicicil cara pengembaliannya tanpa ditarik bunga sepersenpun.

Ahaaaa! Ketika Astuti mengatakan itu, saya tertiba keingat akan mimpi yang terpendam. Saya pernah mempunyai angan-angan untuk menjadi orang (red: keluarga) yang berdaya. Ketika ada orang yang datang kepada saya untuk pinjam modal, maka saya akan memberikannya untuk mereka. Tentu tidak gratis. Harus dikembalikan uangnya dengan cara mencicil. Akan ada surat perjanjiannya dan besarnya cicilan dalam sebulan. Adakah bunga? Tentu tidak ada. Hal itu dilakukan semata-mata karena ingin mencari ridho Allah, membantu orang, dan meraih berkah.

Bismillah. Hari ini saya kembali menyalakan mimpi tersebut. Dimulai detik ini saya bermohon kepada Allah agar selalu diingatkan akan mimpi itu dan memberi taufik hidayah untuk merealisasikan impian menjadi pintu modal bagi para pejuang hidup.

Klaten, 17 April 2019

Memadamkan Api Neraka

Terkadang, rahmat Allah ada pada ujian.
Seperti ketika Buya Hamka ketika masuk penjara.
Kalau tidak masuk penjara, mana mungkin beliau bisa menuliskan kitab tafsirnya.

Hidup adalah ibadah.
Hidup adalah ujian.
Bagi mereka yang ikhlas dengan ketentuanNya, maka keiklasan itu insyaAllah bisa memadamkan api neraka.


#noteformyself

Met Palestinians


That night I asked Allah "Ya Allah, ada masjid yang utama di muka bumi ini. Yang pertama adalah Masjidil Haram. Yang kedua adalah Masjid Nabawi. Dan yang ketiga adalah Masjid Al Aqsa. Ya Allah, terima kasih Engkau telah panggil hambi ke Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Kurang satu masjid lagi ya Allah. Masjid Al Aqsa. Mungkinkah suatu hari saya bisa kesana ya Allah?". 

Dan kemudian hening. Saya melanjutkan pemandangan malam Masjidil Haram dari lantai paling atas. Malam itu adalah malam terakhir saya disana, jadi saya ingin menikmati duduk disana lama-lama. Lalu saya membuka buku catatan doa. Disana berisi titipan-titipan doa dari keluarga, tetangga, dan sahabat. Saya membacanya kembali.

Setelah selesai, saya menutup buku. Kemudian disamping saya datang dua orang perempuan muda mengenakan abaya hitam dan kerudung merah. 
"Nice book", ucap salah satu dari mereka. Ternyata dia mengomentari buku catatan doa saya. 

"Thank you", I replied. 
"Do you live here?", I asked.
"No", she answered.
"So?", I insisted.
"WE COME FROM PALESTINA"

Saya gelagapan. MasyaAllah. Benarkah ini? 
Saya langsung tidak mau kehilangan kesempatan. Saya mengajak ngobrol mereka. Kami mengobrol sangat akrab layaknya sudah lama kenal. Obrolan yang paling berkesan adalah ketika saya menanyakan kepadanya apakah kalian juga memahami arti bacaan Al Quran ketika kalian membacanya? Mereka menjawab iya. MasyaAllah.

Ternyata mereka berdua ngajinya di Masjid Al Aqsa. Disana mereka menghafal Al Quran dan mempelajari tafsirnya. Selain itu, mereka juga aktif dalam kegiatan pendidikan di Masjid Al Aqsa. Lalu, hal tak terduga terjadi. Dia menawari untuk menyimak bacaan Al Quran saya dan akan menjelaskan isi apa yang dibaca. 

Sudah lama bacaan Al Qur'an saya tidak ada yang menyimak. Dan hari itu ada yang meluangkan waktunya untuk menyimak bacaan Al Qur'an. You know what, there is a bunch of happiness inside my soul. Perasaan tenteram dan tenang yang mendalam. Alhamdulilah tsumma Alhamdulillah.

Alllah Maha Mendengar. Allah Maha Perkasa. Allah Maha Berkuasa.
Saya yakin, di setiap doa yang terpanjat, Allah akan mengabulkannya. Allah akan menjawabnya. Seperti kata Ustadz Khalid Basalamah bahwa doa itu ada ajalnya. So, bersabarlah! 


Solo, 3 Februari 2019
16.16

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan 30 Hari Bercerita Hari ke 16 Rumlit IIP Soloraya.

Jangan Jadi Abu-Abu

Beberapa waktu yang lalu, saya dikabari ada tetangga yang meninggal. Saya tidak begitu kenal dengan beliau. Kalau ketemu hanya menyapa saja tanpa pernah mengobrol.

Kematian beliau mengagetkan semua orang. Tidak sakit dan tidak ada tanda-tanda akan meninggal. Pukul 08.00 berangkat kerja dan pukul 10.00 meninggal. Penyebabnya? Kecelakaan kerja. Jatuh dari ketinggian 5 meter. Innalilahi wa inna ilahi raji'un. 

Saya dikabari itu langsung berniat pulang. Meskipun tidak kenal akrab, namun beliau adalah muslim. Saya selalu semangat takziyah karena setiap takziyah saya teringat sebuah percakapan antara Nabi Muhammad dan Abu Bakar ash Sidiq.
"Siapa yang hari ini berpuasa?". Abu Bakar menjawab "Saya".
"Siapa yang hari ini mengantar jenazah?". Abu Bakar menjawab "Saya".
"Siapa yang hari ini memberi makan fakir miskin?". Abu Bakar menjawab "Saya".
"Siapa yang hari ini membesuk orang sakit?". Abu Bakar menjawab "Saya".
Rasulullah Shalallallahu Wasalam kemudian bersabda "Tidakkah semua ini dilakukan seseorang kecuali mereka akan masuk surga".

Saya pun takziyah malam-malam. Alhamdulilah pemakamannya malam. Kalau siang, sudah dipastikan saya tidak bisa takziyah dan ikut prosesi pemakaman.

MasyaAllah. Saya takjub dengan pemakaman beliau. Banyak sekali orang takziyah. Penuh. Ga berhenti tamu yang datang dari kabar duka terdengar hingga beliau dikuburkan. Saat itu saya baru tahu kalau beliau adalah jamaah LDII. Beliau memang totalitas dalam keLDIIanya. Memang beliau tidak begitu aktif di kampung kami, namun mungkin beliau sangat aktif di jamaah beliau.

MasyaAllah. Sekali lagi, saya takjub tidak terkira dengan banyaknya teman-teman beliau yang datang takziyah. Mereka datang, mensolatkan, dan mendoakan almarhum.

Pemandangan elok yang terlihat malam itu menampar saya. Nanti, ketika saya meninggal, akankah ada yang melayat? Akankah banyak yang mendoakan dan mensolatkan saya serta memintakan ampun saya? Apakah saat ini banyak orang yang mencintai dan mengenal saya?

Saya mengingat aktivitas yang saya lakukan setiap harinya. Saya tidak aktif di kampung. Saya tidak aktif di tempat kerja. Di beberapa komunitas, saya hanya setengah-setengah. Saya merasa saya belum bold, belum terdefine dengan jelas who I am, dan belum terlihat taringnya.  Saya sungguh biasa-biasa saja. 

Lalu, akankah banyak orang yang akan mendoakan saya ketika nafas ini sudah berhenti?

Solo, 28 Maret 2019
19.11

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan 30 Hari Bercerita Hari Ke-22 Rumlit IP Solo Raya

Pas Butuh Pas Ada

25 Februari 2019


Foto 1. Menunggu Kepastian
Alhamdulilah puji syukur waktu itu. Hati saya melambung. Rasanya perih pekerjaan yang sudah dilakukan sebelumnya terbayar sudah. Bonus proyek yang sudah dilakukan cair. Seketika, saya langsung memploting rejeki yang sudah Allah berikan. Untuk keperluan A, B, dan C yang mana ketiga keperluan itu tidak urgent sifatnya. At least, saya ingin meniru teori-teori mengelola penghasilan yang sudah banyak dibaca di internet. "Saya ingin berinvestasi", gumam saya dalam hati. Yeah, maka saya membulatkan tekad tersebut kuat-kuat. Rasanya waktu itu hidup itu ringan dan tidak ada tantangan. 

4 Maret 2019


Foto 2. Bengkel Nasmoco Klaten

Karena dapat bonus proyek, maka saya dan rekan-rekan kerja merencanakan untuk liburan ke luar kota. Rencananya liburan akan dilaksanakan tanggal 17 Maret 2019. Keputusan rapat memutuskan untuk menggunakan dua mobil, dan salah satu mobilnya adalah punya saya. Maka dari itu, Senin pagi 4 Maret 2019 saya putuskan untuk service mobil di Nasmoco Klaten. Service rutin itu seperti medical check up. Mengecek segala kondisi mesin dan semua bagian mobil. Saya service karena akan berpergian jauh, jadi memastikan saja kalau kondisi mobil baik-baik saja. Mobil saya tinggal, dan kemudian saya berangkat kerja. Sekitar pukul 10.00, saya mendapat telpon dari Pak Adhy, SA (Service Advisor) mobil saya. Beliau menangkap ada yang aneh dengan mobil saya. Dan setelah dicek, ternyata ada beberapa bagian mesin yang rusak parah. Beberapa diantaranya adalah Water Pump, V Belt, Pipe, Water By Pass, Silg Galon, Sealer Toyota, Puley S/A crankshaf, Seal pulley crank inn, Iddler pulley,  dan Pulley A/S idle. Itu baru yang diganti, belum jasa perbaikannya. Aaaaaaaak....otot saya lemes pas lihat grand totalnya. Kayak mimpi. "Serius ini?", pekik saya dalam hati. Tidak pernah diduga.
Foto 3. V Belt and Water Pump


"Mbak, itu belum di diskon. Kalau didiskon, maka totalnya ini.", pesan Pak Adhy di WA beserta gambar slip total setelah diskon.
Angkanya masih tinggi. Dan saya mendadak panas dingin. Kemudian saya mencoba untuk diam sejenak, dan berfikir. Saya berfikir akan membawa mobil itu pulang dan mencari bengkel bisasa di pinggir jalan untuk bisa mengganti. Sebelumnya saya survey dulu harga spare part di bengkel biasa, dan hasilnya juga sama aja. Spare partnya sudah tinggi harganya. Plus, Pak Adhy mengabarkan kalau beliau tidak berani melepas mobilnya, sebab akan sangat fatal untuk dikendarai. Hmmmm, and you know what, from long time ago I put my deep trust in Nasmoco. Meskipun mahal, namun Nasmoco itu selalu memberikan yang terbaik untuk pelanggannya. 
Akhirnya, Pak Adhy meminta saya untuk datang ke dealer untuk berdiskusi lebih lanjut. Saya pun ijin pulang kantor agak siang. Alhamdulilah ijin didapatkan. Sampai sana Pak Adhy sedang melayani pelanggan lain. Saya memanfaatkan waktu untuk sholat asar terlebih dahulu. Dalam sholat, saya meminta petunjuk dari Allah. "Ya Allah, Engkau tahu berapa saldo rekening saya, dan untuk perbaikan mobil, saya hanya sanggup nominal -sekian- ya Allah", rengek saya sama Allah. 
Foto 4. Ruangan Solat Nasmoco Klaten

Solat selesai, dan saya menuju meja Pak Adhy. Pak Adhy tersenyum melihat saya yang tampak rada kaget. Lalu, Pak Adhy mengajak saja ke bengkel untuk menunjukkan kerusakan yang ada. Beliau sampai berbusa, saya pun ga donk sama sekali tentang mesin. Yang saya fikirkan waktu itu hanyalah nominal uang. Hahahhaa. 
Akhirnya, negosiasi harga pun tiba. Saya terus menekan Pak Adhy agar memberikan tambahan diskon. Namun, tidak bisa. Akhirnya saya meminta untuk mengurangi spare part yang tidak sangat-sangat urgent untuk diganti. Alhamdulilah, tiga spare part yang harganya paling rendah pun bisa dinego untuk tidak diganti. Lalu, Pak Adhy menghitung lagi totalnya. Daaaaaaan masyaaaAllah, pas banget dengan nominal yang saya doakan pas sholat ashar. Meskipun rekening saya merosot dan impian investasi kandas, saya tetap bersyukur karena Allah sudah mencukupkan semua biaya tanpa hutang. Untuk menghibur diri, saya berucap, "Mobil itu seperti kuda pas jaman Rasulullah. Mobil adalah kendaraan untuk mengantarkanmu kepada aktivitas ketaatan". 
Mobilnya pun sehat kembali dan liburan dibatalkan karena dua hari sebelum pergi, ada keluarga anggota yang meninggal

25 Maret 2019

Alhamdulilah gajian lagi. Karena peristiwa 4 Maret yang lalu, maka automatically saya harus hidup super ngirit dan mengerem segala keinginan. Alhamdulilah, Allah cukupkan semuanya. Gajian kali itu juga tidak seperti biasanya, karena awal tahun, biasalah ada bonus dan kenaikan gaji. Jadi, gaji yang diterima tidak hanya gaji pokok saja, ada tambahan sedikit. Saya menerimanya dengan suka cita tentunya. Terus saya mengucap syukur kepada Allah dan berdoa "Ya Allah, berikanlah keberkahan pada harta yang Kau titipkan ini". 

28 Maret 2019

Saya mempunyai feeling untuk men-service motor saya karena rasanya sudah tidak enak dan rasa-rasanya juga sudah lama tidak di service. Saya memilih dealer Kurnia Kasih Purwosari untuk service sebab disana yang paling dekat dengan kantor saya. "Apapun yang terjadi, saya siap insyaAllah. Tapi sepertinya sih juga tidak terjadi apa-apa. Cuma akan service seperti biasa", gumam saya dalam hati. Seperti biasa, saya tinggal itu motor disana, dan saya melanjutkan untuk bekerja.
Jam 09.30 ada telpon dari Kurnia Kasih. Saya menyiapkan mental untuk menerima apapun faktanya. Saya mengangkat telponnya. 
"Selamat pagi Buk. Ini saya ingin memberitahukan bahwa ada beberapa spare part yang mesti diganti", ucap masnya. Saya menarik nafas panjang.
"Lampu depan mati, busi, V belt, oli, dan biaya service rutin", ucap masnya.
"Oh ya, berapa mas totalnya?", tanya saya.
"Sekian sekian sekian Bu", ucap masnya. 
Saya lebih tenang mendengar nominal yang diucapkan masnya. Bukan karena lebih sedikit, karena ya, Alhamdulilah, motor itu pas butuh, Alhamdulilah Allah pas kasih rejeki.
Sekali lagi saya mencoba untuk menghibur diri, "Ya Allah semoga biaya perawatan ini berkah. InsyaAllah saya akan selalu menggunakan motor tersebut dalam jalan ketaatan kepadaMu".


Solo, 29 Maret 2019
16.41

*Tulisan ini dibuat untuk memenuhi tantangan 30 Hari Bercerita Hari Ke-21 Rumlit IIP Soloraya.