Batik

Kau tau
Aku selalu membayangkan dirimu memakai kemeja batik
Dan, kamu kelihatan menawan dengan baju batikmu

Antara Pakaian dan Hati

Di antara hari kerja, hari yang saya suka adalah hari Rabu. Karena hari Rabu seragamnya warna hitam untuk atasan dan bawahan. Kerudungnya sebenarnya warna merah, namun saya ganti sendiri dengan warna abu-abu polos.

Entah mengapa, hati saya merasa tenteram ketika mengenakan pakaian warna hitam, abu-abu, biru dongker, dan sejenisnya. Rasanya hatinya semeleh. Tidak neko-neko.

Rejeki Tukang Burjo

Burjo adalah makanan yang sangat jarang saya beli. Selama merantau dari kuliah hingga sekarang, saya hanya sekali membeli burjo. Bukan tidak suka, namun tidak begitu minat karena teksturnya yang suka bikin kenyang dadakan. 

Pagi itu saya berniat untuk membeli burjo.Dari tempat tinggal saya ke tempat kerja, saya biasanya melewati tiga gerobak penjual burjo. Yang satu dekat sekali dengan kost, yang satu ditengah-tengah, dan yang satu yang paling deket dengan kantor. Tentu saya berniat untuk membeli yang terdekat dengan kost. Toh saya belum pernah mencoba mencicipi semuanya. 

Qadarullah, si bapak tukang burjo deket kost tidak jualan. Maka saya langsung mengambil alternatif untuk membeli ke bapak tukang burjo yang ada di tengah-tengah. Alhamdulilah, bapaknya juga tidak jualan. Opsi terakhir adalah yang paling mendekati kantor. Alhamdulilah, bapaknya jualan.

Si bapak ramah. Si bapak memberikan alternatif cara makan burjo. Katanya, di makan saat panas enak. Pun saat diberi es juga enak. Si Bapak tersenyum dan memberikan burjonya kepada saya. Senyum bapaknya tenang dan terlihat begitu mensyukuri hari itu. 

Oh ya, kenapa tiba-tiba saya ingin makan burjo?
Karena pada malam harinya saya mimpi makan burjo.

Big Dream

Di sebuah ruangan meeting di kantor.
Aku duduk dengan salah seorang senior.
Tiba-tiba beliau bertanya seperti ini,
"What is your big dream, Tami?".

Hmmm.Aku tak menjawab. Namun malah bertanya kepadanya.
"What about you?"

"Get married", jawab beliau.

Menikah. Hmm, saat ini bukan itu yang menjadi impianku. Jujur. Bukan itu. Namun aku sedang melihat ke hati ini. Ingin kujawab "Ingin selalu mempunyai hati yang bersih sampai nanti meninggal. Qalbun salim". Tetapi tidak sampai kalimat itu keluar. Yang keluar hanyalah,

"I don't know"


:) :) :)

Kabarku Hari Ini

Apa kalian ingin tanya kabarku?
Maaf, sebelumnya karena tidak pernah berkirim kabar.
Aku tidak sedang baik-baik saja.

Hidupku sedang berantakan.
Ya, hidupku sedang berantakan.

Persis kubayangkan seperti badai tsunami yang baru datang.
Semua daratan menjadi luluh lantah tak beraturan.

Memang waktunya harus berantakan.
Agar aku tau mana salah yang telah aku kerjakan.
Ya, aku mengaku salah untuk semua apa yang sudah terjadi. 

Hidupku sedang berantakan.
Namun aku tidak menghendaki selamanya menjadi berantakan.

Setelah ini, aku akan memperbaiki hidupku.
Aku akan mulai menata kembali.
Aku akan semakin jeli.
Aku akan semakin teliti dan rendah hati.

Bismillah,
Dengan menyebut Rabb yang Maha Tinggi
Aku niatkan berubah mulai hari ini
Menyelesaikan semuanya menjadi lebih rapi

Hujan Bulan September Adalah Hadiah


Bismillah.

Aku suka jalanan sepi.
Aku tidak suka hingar bingar.
Pun aku kurang suka menjadi terkenal.

September adalah musim panas di kota saya tinggal.
Sudah berbulan-bulan tidak turun hujan.
Gersangnya tidak karuan.
Panasnya membuat keringat terus bercucuran.

19 September hujan turun di kota Surakarta untuk pertama kali.
Hujan pertama kali setelah tanggal 30 Juni.
Hujanya deras sekali. Tidak hanya gerimis seperti di bulan Juni.
Aku berfikir pastilah mulai hari itu musim sudah akan berganti.

Eit, tapi tidak.
Berminggu-minggu setelahnya tidak ada hujan yang turun kembali.

Aku jadi ingat sesuatu.
Tanggal itu adalah hari ulang tahunku.
Aku berdoa semoga hari itu tidak ada orang yang mengingatku.
Aku hanya ingin tenang bersama Rabbku.

Aku bahagia.
Hujan turun di waktu yang sudah mulai senja.
Tanpa ada tanda-tanda hujan akan tiba.

Hujan adalah tanda cinta.
Begitu yang aku baca di kumpulan sabda-sabdaNya.
Aku mengucap syukur tak henti-hentinya.


Solo, 5 Oktober 2018
 

Sedekah untuk Donggala: Cerita Penggalangan Dana Siswa


via Pexel
Oktober - Desember 2018 adalah waktu sibuk di tempat saya bekerja. Tiap hari harus lembur, berangkat jam 07.30 dan pulang minimal jam 21.00. Tak jarang weekend harus masuk kerja. Waktu habis untuk mengerjakan pekerjaan saya. 

Apa yang saya rasakan? Tidak ada. 
Karena saya membayangkan diri sendiri seperti robot. Tidak ada perasaanya sama sekali.
Jika tidak dikawal hati agar niatnya diperbaiki, maka sudah sungguh saya merugi. 

Bisa dibayangkan saya jarang bersosialiasi sama orang. Hape harus saya matikan karena jika hape nyala saya tidak bisa berkonsentrasi bekerja. Saya jarang wa nan (ya karena ga ada yang wa). Jarang pula ada yang menelpon. Duuuh, syedihnya. 

Sampai suatu malam ada kawan saya menelpon. Namanya Mbak Hajar. Kami telponan lama sekali. Satu jam-an. Membicarakan hal penting hingga yang tidak penting. 

Beliau bercerita tentang penggalangan dana yang dilakukan di sekolahnya. Sasaranya adalah murid-murid dan guru-gurunya (red: semua warga sekolah). Kepala sekolah Mbak Hajar mengatakan kepada Mbak Hajar begini, "Bu, nanti anak-anak di kelasnya digerakkan untuk menggalang dana buat Donggala ya. Minimal sekelas sejuta yak". Tentu Mbak Hajar menganggap kepala sekolahnya itu hanya berkelakar mentarget segitu. Mana mungkin kelas yang hanya berjumlah 18 orang bisa sampai segitu. Mbak Hajar asal saja menjawab "Ya Pak". 

Langsung deh Mbak Hajar memangggil ketua kelas dan menyuruh untuk menggalang dana.
Tidak lama, sang ketua kelas sudah kembali dengan membawa hasil galangan dananya tersebut. 

Stupendous!
Mbak Hajar kaget dengan isi amplopnya. Warna uangnya hanya merah dan biru.
Setelah dihitung, jumlah totalnya adalah 1,5 JUTA.
MasyaAllah. Luar biasa. Uang segitu kalau dibagi 18 anak, bisa tau sendiri kan rata-rata per anak menyumbang berapa?
Padahal, mohon maaf, untuk kelas yang lainya saja tidak lebih dari 200ribu.

Well, sedekah tidak dipaksa.
Namun, bukan itu pointnya. 
Anak-anak kelas tersebut rasa sosialnya tinggi. Mereka tidak peduli tanggal tua. Mereka tidak peduli entah nanti makan apa. 

Yang saya lihat, mereka hanya peduli tentang ridho Allah ta'ala. 

Barakallahu fiik.