Captain Afwan, Pilot Sholih Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 (30HBC2111)

 


Aku suka pesawat, bandara, pramugari, dan pilot. Dulu sering banget kepoin vlog-vlognya para traveler yang suka review berbagai macam maskapai. Lalu merambat buat nonton juga beberapa vlognya para pramugari dan pilot. Daaaan pernah sampai juga stalking istri-istri para pilot. Hilang akal benar aku ini. Dan pas masa-masa suka sama airlines itu, aku sempat mbatin gini, "Ada ga ya pilot sholih gitu?".


Time flies. Sabtu, 9 Januari 2021, ada berita yang amat menyesakkan. Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 jurusan Jakarta-Pontianak (yang selama ini belum pernah mengalami accident) dikabarkan mengalami hilang kontak pada pukul 14.40 . Padahal baru saja lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta pada pukul 14.36. Menurut kabar, hanya 19 detik saja pesawat tersebut jatuh di Kepulauan Seribu, Pulau Laki. Pesawat tersebut membawa 62 orang yang terdiri dari 50 penumpang (40 dewasa, 7 anak-anak, dan 3 bayi), dan 12 kru. Ya Rabb, semoga korban yang muslim Engkau catat kematian mereka sebagai kematian husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan ditabahkan. 😭😭😭😭😭


Tidak lama setelahnya, ada yang viral di medsos. Sebuah foto tulisan dari Captain Afwan (pilotnya). Isinya sederhana, namun sangat bermakna. Dibalik kesederhanaan itu, ada ilmu, ketundukan, dan akhlak yang mendalam. Aku pun trenyuh dengan tulisannya. 




Captain Afwan mungkin selama hidupnya tidak begitu terkenal, namun setelah meninggalnya, beliau dikenal oleh banyak orang. Bukan karena sosoknya, namun karena nasihat yang keluar dari hati dan lisan beliau yang bersih. Salam takzim untuk Captain Afwan. Entah mengapa, meskipun belum kenal beliau, aku merasa amat dekat dengan beliau. Merasa satu tujuan, dan satu keluarga muslim. 


P.S.

Nama : Captain Afwan bin Zamzani

Tempat Tinggal : Perumahan Bumi Cibinong Endah, Bogor

Istri : 1

Anak : 3

Rejeki itu Bernama Perasaan Tenang dan Ide Cemerlang (30HBC2110)

 


Acara yang susah aku tolak ketika diajak adalah kondangan dan takziyah. Jika ada yang mengajakku untuk pergi ke kedua acara itu, pasti akan menjadi prioritasku. Seperti hari ini. Ada teman yang mengajakku untuk kondangan. Tidak apa-apa cuma setengah hari, fikirku. Nanti toh juga aku masih ada sisa waktu sekitar 3 jam untuk menyiapkan materi mengajar anak-anak di Rumah Baca Matahari. Tappppiiiiii...apa yang terjadi??? Di tengah acara kondangan, aku berfikiran lain. Mumpung lagi di Solo, aku berfikir untuk mampir-mampir silaturahim. Ada dua orang yang menjadi target untuk disilaturahimin. 


Dan akhirnya, aku meliburkan acara di Rumah Baca Matahari. Pertimbanganku adalah karena materi yang aku persiapkan, belum siap untuk diajarkan sore tadi. Jika pun dikerjakan dalam waktu 3 jam, yakin tak selesai. Masih harus mempersiapkan tempatnya juga. (Jika dianggap excuse, yow wis ra papalah 😕). Dengan sangat berat hati, aku liburkan anak-anak. 


Lama aku tidak silaturahim. Bagiku, silaturahim mempunyai makna tersendiri dalam hidupku. Aku sangat percaya bahwa silaturahim mempunyai banyak kebaikan-kebaikan. Bisa jadi efeknya langsung terasa, bisa jadi harus menunggu agak lama. 


Hari ini kebaikan itu memberikan efek langsung. Perasaanku tenang dan ada ide cemerlang yang datang ke otakku. Rasanya hepi. Ini juga bentuk dari rejeki, bukan?

Ceritaku Tentang Uang (30HBC2108)

 


Pagi sebelum bekerja, aku sengaja untuk menyapu dan merapikan rumah. Entah kenapa sedang ingin merasakan rumah rapi setelah pulang kerja. Hal itu bukan kebiasaanku sih. Makanya agak spesial begitu. Tidak ada momentum apa-apa. Hanya saja moodku sedang baik. 


Seharusnya sih, jika semua berjalan normal-normal saja, keadaan rumah akan sama saja setelah aku balik kerja. Secara tidak banyak orang yang berseliweran di tempat aku biasanya beraktivitas. Tidak begitu halu begitu jika aku membayangkan suasana rumah rapi dan bersih sepulang kerja. 


Aaaaaaah, ternyata aku salah. Sampai rumah, aku kaget bukan kepayang melihat mobil alarmnya nyala. Pasti ada yang pakek. Lalu, aku mendekati mobil itu. Dan kondisinya adalah basah kuyup itu mobil. Artinya apa? Artinya adalah itu mobil kehujanan. Lalu, aku lihat kursi di teras berantakan tidak karuan. Di sebagian teras ada tumpukan tinggi, dan itu adalah hasil panen jagung yang untuk sementara memang diletakkan disitu. 

 

Urat syaraf punggungku langsung mengencang. My face feels hot. I feel like saying mean words. I feel like hitting or hurting someone. I feel like volcano erupting. Yeah, I got mad! Wajahku udah ga enak dipandang. Aku diam aja. Berusaha mengerem lidah agar tidak ada satu patah katapun keluar disaat-saat emosiku sedang marah. 


Tidak bisa hanya diam aja. Aku mulai merapikan kursi dan meja. Menyapu lantai. Suara gesekan kursi dan meja pun tak terelakkan. Rasanya aku ingin banting itu semua benda. Tahaaan...tahaaaan. Aku berjuang menahan diri. Setelah selesai, aku beranjak untuk mencuci mobil. Kepalaku udah senut-senut. Emosiku seakan mau meledak. Tahaaaaaaan....tahaaaaaaaan. Disaat sulit seperti itu, pusing, dada sempit, otot pundak menegang, pikiran ruwet plus kalut, aku memaksa diri untuk meminta pertolongan sama Allah dengan tingkat keyakinan yang limit. "Hasbunallah wa ni'mal wakil ni'mal maula wa ni'mal nashir". Bodoh amat lah, yang penting doa dulu aja. Aku sih berharapnya pertolongan itu instan, karena aku udah tidak tahan. 


Kuucapkan itu berkali-kali sambil menarik napas panjang. Pada ucapan yang keempat, aku merasakan urat syaraf pundakku mengendor. Otakku ringan. Seolah ada bola salju yang mendinginkan aliran darah yang memanas. Buuuutttt, eiiiit.....wait! Bola salju itu ternyata membawa sesuaitu semacam ide cemerlang dan melegakan rasanya. 


Kurang lebih, hal yang melegakan itu berbunyi seperti ini, "Tidak apa-apa aku harus merapikan teras dan mencuci mobil malam-malam dan capek-capek begini. Habis ini aku akan menuntut ganti rugi sebesar 100k untuk siapa saja yang membuat kekacauan ini." 😎😎😎



P.S.

Misi berhasil. I got the money and anger gone! 😝

Ingin Melayani Seorang yang Hebat, Seperti Park Chum-sam Melayani Sung Yi-gum di Drama Royal Secret Agent

Quote of the day-ku hari ini adalah satu kalimat dari salah satu penulis terkenal di Indonesia, Ika Natasha. She said, "The most beautiful hello sometimes comes after the most devastating goodbye." That's true. I totally agree with that statement. Kadang aku membayangkan, seseorang yang selama ini aku tahan untuk menghubunginya, tiba-tiba menyapa. Maka, bisa jadi sapaan itu adalah sapaan paling membahagiaan. Mesti hanya sesaat. 


But, anyway, aku ga akan bahas itu sapaan ya. Tadi agar cair aja isi otakku, so I just write what I want to say and what is in my mind. Now is the time for the real content! Halaaah...macam blogger beneran aja nih aku. 😝


So, currently, aku lagi nonton drama korea yang judulnya Royal Secret Agent. Ini adalah drakor pertama yang aku tonton yang statusnya ongoing. I swear. Biasanya aku selalu nonton yang udah selesai, dan nontonya dengan sistem marathon. Biasanya pula aku selalu nonton atas dasar rekomendasi kawan. Tappiii kali ini aku menemukannya sendiri. Bukan yang pertama, tapi yang kedua setelah Black Dog. 


Drama ini itu adalah drama dengan setting kerajaan Joseon. That's why I like that! Terus ceritanya itu kadang menegangkan, dan lalu tiba-tiba menjadi komedi begitu. 


Tokoh utamanya adalah Sung Yi-gum. Awalnya dia adalah seorang yang penasihat di kerajaan. Dia adalah seorang pemuda yang cerdik. Dia sering bermain judi bersama teman-temannya di kerajaan dan sering mempermainkan temannya dengan menjual buku dewasa kepada teman-temannya. Buat apa? Ya demi uang. Dia itu kelihatan santai, tapi aselinya pinter. Pas ujian masuk pegawai kerajaan aja dia dapat nilai tertinggi. Nah, karena karakternya ini, secara tiba-tiba, dia ditunjuk untuk menjadi agen rahasia kerajaan. Dia bertugas untuk ke daerah-daerah dan bertemu rakyat untuk melaporkan apa yang dirasakan oleh rakyat selama ini. Nah, disitulah keliatan sikap kepemimpinanya yang aduhai! Bertanggung jawab, CEK! Cerdas dan penuh pemikiran strategis, CEK! Serius tapi santai, CEK! Cepat mengambil keputusan dan tidak ragu-ragu, CEK!


Sung Yi-gum ini punya pelayan namanya Park Chum-sam. Si Chum-sam ini sudah menjadi pelayan Yi-gum sejak lama. Chum-sam pernah mengatakan begini, "Seumur hidupku, aku hanya ingin melayani satu tuan. Dan tuan itu adalah Yi-gum.". Chum-sam itu royal, dan amat setia kepada tuannya. Urusan tuannya adalah yang utama. Dia selalu berusaha untuk melindungi tuannya. 


Ketika melihat sosok Chum-sam, aku tiba-tiba teringat akan harapanku untuk selalu berada di dekat orang-orang keren. Aku menyadari kekuranganku terutama bagian yang tidak bisa menjadi seseorang yang berada di depan. Tapi, aku mempunyai tekad untuk melakukan kebaikan-kebaikan. Aku ingin di samping dan di belakang seseorang yang dia adalah seorang pemimpin hebat. Aku ingin menjadi pelayan kepercayaanya. Aku yakin dengan berada di dekat seorang pemimpin hebat itu, jiwa dan pribadiku akan terpengaruhi dan tumbuh menjadi seorang yang lebih bersemangat, cerdas, dan tidak pernah mengenal putus asa. 


Dan salah satu harapanku di Januari ini adalah aku ingin bertemu dan menjalin hubungan dengan satu orang hebat. 

Menolak Bakwan dan Mendoan (30HBC2107)

 


6 Januari 2021, mendadak pusing kepala eike. Timbangan menunjukkan angka 58,67. Naiknya tidak karuan dalam sebulan. ENAM KILO woy!!!! Pantesan aja perutku puncit. Pantesan aja kalau pake kerudung, dadaku terasa membesar. Pantesan aja wajahku makin lebar. Dan pantesan-pantesan yang lain. 


Salahku juga sih. Dua pekan terakhir di bulan Desember, makananku tidak terkontrol. Mau makan malam, silahkan. Mau makan gorengan tujuh biji sekali duduk, silahkan. Mau makan kerupuk satu toples, silahkan. Mau makan teh dan kopi dua kali sehari, silahkan. Akhirnya, lemak pun juga mau tak mau dipersilahkan nempel sana-sini. Hedeeeeh!!!

 

Tidak bisa dibiarkan nih lama-lama kalau begini kan. Mumpung belum terlambat, aku akan mulai lagi untuk mengatur diri. Ya, hari ini, tanggal 7 Januari, aku menjaga lagi pola makanku. Prinsipnya cuma dua, no fat sugar and exercise everyday. 

 

Taaaaapppiiiii....you know what! Suatu niat itu pasti ada aja ujiannya. Pagi tadi, bangun tidur, Ibukku sudah memasak yang menimbulkan aroma lezatos. Bakwan, mendoan, dan oseng-oseng mi soon. Gilak! Menggoda sekali itu makanan. The battle is on!

 

Aku tarik nafas dalam-dalam. Aku aktifkan kesadaranku, Aku ajak bicara diriku sendiri. "Tami, jika kamu bisa untuk tidak makan itu bakwan dan mendoan, suatu hari nanti tubuhmu akan menawan." 😌

 

Apa yang terjadi? Guess! 

 

Sampe detik ini, pukul 11.38, tidak ada bakwan dan mendoan di toples makananmu. 😁😁😁💪💪💪

Biar Aku Saja yang Kehujanan, Kamu Jangan (30HBC2106)

 


Januari adalah hujan berhari-hari. Hampir tiap pulang kerja, aku selalu kehujanan. Bersyukur saat ini aku tidak kerja lembur, jadi maghrib sudah sampai rumah. Kalau kehujanan pun paling enggak langit belum gelap. 

 

Kalau pulang kerja kehujanan itu, aku merasa hidup itu penuh perjuangan. Bayangkan nih ya! Di tengah jalan, awannya gelap, hujan mulai deras, ada seorang gadis yang sudah berumur sedang berhenti menepi. Motornya kotor, kelihatan tidak pernah dicuci. Motornya pun keluaran lama. Motornya menandakan bahwa pemiliknya bukanlah tipe orang yang gampang untuk ganti kendaraan. Dia berjaket besar dan bertas ransel. Jika melihat dari penampilannya, semua orang pasti akan memanggilnya IBU. Kelihatan tua sih! Di sandaran tempat kakinya, selalu ada tas kecil. Itu tas untuk bekal makannnya. Warna tasnya pun sudah berwarna pudar. Kancingya sudah mulai rusak dan tidak diganti-ganti. Membingungkan! Apakah dia seorang yang hemat atau memang tak punya uang? 


Hujannya pun semakin deras. Tapi dia tidak juga bergegas. Selow aja membuka jok belakang motornya. Di sana ada jas hujan warna biru dongkernya (yang lagi-lagi juga sudah sobek sana-sini) dan juga sepasang sandal jepit warna hitam. Ia lepas sepatunya, dan berganti sandal. Mantelnya pun digunakan pelan-pelan karena sisa-sisa tanah di ujung mantelnya masih menempel disana, belum sempat dibersihkan. Setelah semua beres, dia membatin "Laaah, sebenernya percuma aja pake mantel ini. Toh nanti juga bakal basah kuyup jugak." 


Dia pun melanjutkan perjalanan pulangnya. Di tengah hujan, dia sebenernya tidak pernah sedikitpun merasa sedih. Waktu seminggu cuma hujan dua sampai tiga kali itu, dia selalu merasa bahagia pulang kehujanan. Namun, saat ini, tiap hari dia kehujanan. Lumayan melelahkan juga ternyata. Oh ya, satu lagi. Helm dia itu juga helm tua. Kacanya sudah tidak bening lagi. Jadi ketika hujan, tidak bisa ditutup itu kaca. Bagian tersakitnya adalah ketika hujan yang turun itu besar-besar dengan kecepatan tinggi. Praktis mengenai wajah dan amat tidak enak rasanya. Ditambah lagi, kadang kalau masih ada sisa sunscreen di wajahnya, matanya jadi amat perih. Kalau berhenti, nanti ga sampai-sampai rumah. Melanjutkan langkah dengan terus mengucek mata pun akhirnya dia lakukan. Kalau tidak tahan, dia hanya berucap "Hasbunallah wa nikmal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashir. Ya Allah, biar aku saja yang kehujanan, tapi dia jangan. Semoga, kalau dia sedang melakukan perjalanan, tidak lagi pakai motor, tapi pake mobil." 😅



Menyalakan Harapan (30HBC2105)

 


Laptopku baru aja jadi. Dua hari sebelum libur tahun baru 2021, aku menservicenya di ELS Solo. Keluhannya adalah kipasnya berbunyi setelah lama pemakaian. Kufikir aku akan menunggunya lama, dua pekan begitu. Tapi belum ada seminggu sudah jadi. Alhamdulilah. 

 

Perasaanku biasa saja menjalani libur tahun baru. Tidak ada acara khusus untuk menyambutnya. Tidak ada wish list, tidak ada resolusi, dan tidak ada target-targetan. Aku menjalani harinya biasa saja. Cuma memang karena itu libur panjang dan aku sudah lama tidak merasakan liburan yang sesungguhnya, I mean go somewhere for several days gitu, maka aku ambil liburan itu untuk pergi ke rumah mbakku di Jogja. Aku memang menyusun beberapa acara. Memasak untuk sedekah jumat, bersepeda di pegunungan, bertemu beberapa teman, kuliner bakmi godok, dan juga senam. Bahkan di malam tahun baru, aku lupa kalau itu tahun baru. Qadarullah hari itu hari Kamis, malam Jumat. Semalaman suntuk, aku dan mbakku memasak beberapa jenis kue tradisional untuk disedekahkan di hari Jumat di masjid setempat. 

 

Waktu itu, ada yang ngechat menanyakan resolusiku di tahun 2021. Hari itu sungguh aku tidak punya keinginan apapun. Hati dan fikiranku macam tak ada daya, hanya mengalir mengikuti arus saja. Seketika aku paham dengan apa yang dulu aku tanyakan akan kata-kata Andrea Hirata di novelnya Sang Pemimpi, "Orang yang tak punya mimpi itu macam orang mati." Waktu itu aku masih lumayan muda, jadi ga tau rasanya ga punya mimpi itu kayak apa. Sekarang aku tau, sekarang aku merasakan. Ternyata kaya zombie beneran. Bersyukur sebelumnya aku membaca kata-kata dari Ika Natasha tentang rosolusinya di tahun 2021. Resolusinya di tahun 2021 adalah "to live". When I read that, I didn't get the meaning. Lalu, aku pun menggunakan kata "to live" untuk membalas chat temanku tadi. Cepat dan singkat aku balas wa nya "to live". Aaaaaand, setelah kata itu sent, aku rasanya paham maksudnya. Bahwa "to live" artinya adalah hidup, semangat, dan mengaliri setiap detik kehidupan dengan energi-energi yang penuh harapan. 


Yeah, aku tau apa yang terjadi di dalam diriku. Semangat hidup itu pudar. Semangat hidupku redup. Dan aku membiarkannya pudar dan redup. Benar apa yang dikatakan oleh Mbak Dewi Nur Aisyah, bahwa semangat itu perlu dirawat. Seperti keyakinan yang harus dipelajari dan dicari, maka semangatpun perlu dijaga agar tidak pudar, redup, dan mati. 


Lalu, aku mau apa di tahun 2021? Belum juga aku menemukan apa yang aku inginkan. Lalu, ada dua orang teman yang sepertinya dikirimkan untuk memberikanku semangat. Yang pertama menelpon dan bercerita tentang mutasi pekerjaannya. Dia juga bercerita tentang impiannya tahun ini untuk bekeliling Indonesia dan nginep di hotel GRATIS. Uhuy! Yang kedua temenku wa dan minta untuk edit buku journal plannernya. Wiiih...lama aku tidak membuat jurnal begitu. 


Semesta pun dikonspirasikan untuk membantuku. Aku merasa bersemangat kembali. Aku mulai menyalakan harapan dalam hatiku. Aku mengampil sticky note dan menuliskan harapan-harapanku di bulan ini dan tahun ini. Kutulis dengan rapi dan kutempelkan di kaca di depan aku menulis jurnal ini.

 

Dan setiap pagi aku berdoa, semoga harapan ini terus menyala.