Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sajak. Tampilkan semua postingan

Kebiasaan Menyalahkan Orang Lain

Aku bekerja di sebuah institusi, an old institution. And old mind, as well. Karena ditempatku budaya saling bersaing itu masih kental terasa. Sebagai sebuah perusahaan, bukan bersinergi, melainkan ingin terlihat paling baik sendiri di tiap bagian, divisi, ataupun departemen. 


Menurutku, budaya bersaing yang masih menempel itu membawa kebiasaan untuk saling menyalahkan orang lain. Jika sedang ada masalah menerpa, maka pembicaraan itu cenderung mencari kambing hitam. Bahagia gitu kayaknya kalau melihat orang lain yang menjadi pihak yang tersalahkan. Mengutuki kegelapan, bukan menyalakan harapan. Bikin suasana negatif makin negatif kan? 


Padahal they are part of us. Jika ada bagian dari diri kita yang buruk misalnya, apakah kita akan membuatnya terpuruk? Gak kan. Menurutku lagi, mereka yang suka menyalahkan orang lain secara terang-terangan dan verbal adalah mereka yang tidak dewasa. 

Kenapa Blog Ini Ada

Kenapa?

Karena aku yakin kau akan mencariku suatu hari nanti. 

Kau tak akan menghubungiku. 

Karena kita paham, diam dan sunyi itu lebih baik. 


Maka disini, aku ingin menulis kembali. 

Aku ingin terus menulis di sini. 

Aku ingin terus berkabar padamu.


Mungkin tak kau baca saat ini. 

Mungkin akan kau baca lima tahun nanti. 

Tak apa. 

Aku ingin dihatimu selalu ada aku. 

Aku ingin kau selalu mendoakanku.

Kejujuran

 


Aku menyukaimu

Kuharap kamu menerimaku

dan memberikanku kesempatan untuk memilikimu

Karena aku sedang miskin

Pagi ini aku berangkat lebih pagi.
Uangku tinggal dua pulun ribu.

Karena aku sedang miskin,
Aku pergi  ke pasar.
Aku beli kue pukis lima ribu. 
Pun aku juga beli kue gandos lima ribu.

Di kota ini,
sepuluh ribu sudah bisa beli 20 kue.

Jadi uangku tinggal berapa?
Kamu pintar.
Uangku tinggal sepuluh ribu.
Nanti akan aku gunakan untuk beli lauk buka puasa.
Nasi sudah aku masak dari rumah.

Buat apa kue itu?
Kamu kan puasa?

Karena aku sedang miskin,
aku akan membagikannya kepada rekan-rekanku.

Aku tidak peduli rumus dunia.
Yang aku pedulikan hanyalah rumus langit.

Puisi Kerendahan Hati

Kerendahan Hati
oleh Taufik Ismail


Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
Yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
Yang tumbuh di tepi daun

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
Memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
Tentu harus ada awak kapalnya
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
Rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

Doa


Kupejamkan mata.
Dan terus menyebutmu dalam doa. 

Rindu


Ketika kamu merindukan seseorang, apa yang kamu lakukan?
Bisa tolong beritahu aku? 

Kabarku Juni Ini




Ada beberapa kejadian di beberapa bulan lalu yang membuatku tidak ingin menikah. Namun, itu adalah syubhat bukan? Bisikan syaiton bukan? Maka, segera setelah aku tersadar, aku cepat-cepat  menumbuhkan semangat itu lagi. Paling tidak, kalau belum tumbuh, aku bisa memulainya dengan memaksa diri. Ya. Begitu saja kabarku hingga Juni ini.