Yessy Triana



Allah mempertemukan untuk satu alasan.
Entah untuk belajar atau mengajarkan
Entah hanya untuk sesaat atau selamanya
Entah akan menjadi bagian terpenting atau hanya sekedarnya
Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut
Lakukan dengan tulus
Meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan
Tidak ada yang sia-sia
Karena Allah yang mempertemukan
(A Quote)

Seorang teman bernama Mbak Puri dari Malinau sering memajang quote tersebut di PP (Profile Picture) WA ataupun BBMnya. Ketika melihat tulisanku itu, fikiranku kemudian mengingat-ingat akan beberapa pertemuan dengan orang-orang yang tidak disangka akan dipertemukan dengannya. Salah satunya adalah seorang teman sewaktu tinggal di Jogja dulu, Yessy Triana.

Yessy Triana adalah wanita yang sangat unik dan aneh menurutku. Bisa juga dibilang langka. Ya, selangka golongan darah yang dia punyai, AB.

Saat itu kami sama-sama tinggal di satu asrama mahasiswi, dan kami berasal dari dua kampus yang berbeda. Awalnya, aku hanya mengenal Yessi dari kejuahan. Bagiku, dia adalah otaknya sebuah gengs. Kamarnya adalah ibarat markas. Ketika malam, aku sering mendapati markas tersebut dikunjungi banyak orang untuk berbincang, berdiskusi, tertawa terbahak-bahak, dan bahkan menyanyi bersama. Kalau aku lewat, aku enggan menyapanya. Baru ketika Yessy sendirian, aku sedikit mau untuk berkata, “Hi Yessong”. Dia pun membalas, “Hi Temcong”.

Begitulah awalnya. Hingga sampai tahun kedua hidup berasrama, pengelola asrama memutuskan untuk mensatukamarkan aku dan Yessy. “What?”, “Is it real?”, “Atas pertimbangan apa?”, begitulah kira-kira gemuruh hatiku kala itu.

Kami pun pindahan. Aku menyuruhnya menyuruh tempat tidur duluan. Sudah kuduga, pasti dia memilih ranjang yang di bawah. Baiklah, aku yang diatas. Aku dan dia sama-sama bukan tipe perempuan miskin barang. Kamar bagi kami adalah tempat dimana semuanya harus ada. Jadi, bisa dikatakan, kamar aku dan Yessy waktu itu adalah kamar yang mewah dan penuh dengan barang. Sungguh, apapun ada. Cemilan harus ada. Lemari pakaian Yessy aja dua. Bukunya dan bukuku juga ga kalah banyak. Kipas angin, kamar kami ada dua pula.

Bagaimana dengan markas? Apakah juga berpindah? Seperti yang kubilang di awal, di balik muka jutek dan errornya Yessy, dia itu seperti otaknya gengs. Markasnya pun berpindah ke kamarku. Aku, yang notabenya suka ketenangan, sangat terganggu dengan kelakukan Yessy. Tiap hari, ketika pulang kuliah di malam hari, waktu dimana aku biasanya butuh ketenangan untuk belajar, dia dan teman-temannya malah mengobrol di kamar Multazam 8, kamarku dan Yessy. Aku yang saat itu dan sampai sekarang belum bisa menjadi seorang asertif pun hanya dongkol dalam hati, “IIh, ini anak dimana sih rasa emphatinya?”, “IIh, dasar kagak punya toleransi”, “iiih, rasanya pengen berteriak kemukanya sambil berkata,”pergi””.
Aku mencoba memperlihatkan raut muka ku yang marah. Bersikap judes sama dia. Berharap dia sadar diri. Namun, apa coba? Aiiih, inilah letak ke-unikan Yessy. Dia bukan manusia normal. Normalnya manusia itu kalau di sindir, atau di kasih perubahan sikap, maka dia akan cepat merasa. Namun Yessy? Dia tidak merasa. Kata-kata sindirian pun tak mempan untuk dia, apalagi aku yang kala itu hanya menggunakan sindiran sikap. Capek sendiri aku jadinya. Boros perasaan betul waktu itu aku menghadapi Yessy.

Belakangan ku ketahui bahwa ternyata Yessy itu memang orang yang tidak kodal dengan yang namanya sindiran. Kalau mau menegurnya, maka ya harus berkata-kata langsung di depanya. Dia makhluk berlogika, dan aku makhluk berperasaan. Itulah satu alasanku dipertemukan dengan Yessy, untuk belajar menyeimbangkan antara perasaan dan logika. Darinya aku belajar untuk tidak baper. Darinya aku belajar untuk tidak banyak memendam perasaan hingga membusuk di hati. Darinya aku belajar untuk mengkendorkan otak yang suka tegang dan spaneng. Kwkwkwkw.

Setelah satu tahun sekamar dengan Yessy, kami pun berpisah. Kami ngekost ditempat yang berbeda. Rasanya waktu itu aku belum begitu dekat dengan Yessy, jadi ketika berpisah dengannya pun, aku merasa biasa saja, tidak ada rasa kehilangan. Bahkan aku merasa lega dan senang. Hahahaha.

Sudah tidak satu asrama, sudah tidak satu kampus, sudah tidak satu organisasi, namun kenapa waktu itu aku masih suka main ketempat kostnya Yessy? Waktu itu Yessy satu kost dengan teman satu gengnya, Kiki dan Mba Ndi. Arrgh, entahlah, yang kuingat waktu itu, ketika aku bertemu dengan Yessy, palingan cuma janjian makan. Makan pun kalau aku sama Yessy aja berdua juga tidak jalan, karena aku sejatinya tidak banyak bercerita dengan Yessy. Praktis kami waktu itu belum begitu akrab juga, namun kenapa aku sama Yessy masih juga sering main bareng? Arrgh, entahlah. Tapi Yessy itu mempunyai kekayaan kosakata lucu yang melebihi kosakatanya Dodit, peserta stand up comedy. Ketika aku mendengar celotehnya, aku bisa tertawa terbahak-bahak. Jika aku menyaksikan dia memaki-maki orang yang memang sudah seharusnya dimaki-maki, inginku rasanya tertawa terguling-guling. Berada di dekat Yessy itu, hidup menjadi indah dan tidak ada beban. She brings happiness. Eaaaaa.

Waktu berjalan, dan kondisi financial kami semakin menipis.  Umurpun bertambah, namun tidak dengan penghasilan di dompet. Tidak mampu lagi membiayai kost yang lumayan mahal. Akhirnya, Yessy dan Avis (teman satu gengnya juga) kost berdua dalam satu kamar. Aku tidak  ngeKost karena kesibukanku di jogja tidak terlalu padat. Akhirnya, kalau aku ke Jogja, maka aku akan menginap di kamar Yessy dan Avis. Tidak hanya aku saja ternyata, teman Yessy yang lain pun juga sering menjadikan kost Yessy-Avis itu sebagai rumah persinggahan. Sampai akhirnya, rumah kost itu dijuluki sebagai Rumah Singgah.

Rumah Singgah itu ada pada tahun 2014. Berarti aku sudah kenal Yessy selama 4 tahun. Waktu itu umur kami 25. Aku teringat akan perkataan seorang kepadaku, “Tami, di umur-umur kita sekarang ini, bukan lagi masanya mencari sahabat, namun yang mesti kita lakukan adalah menjaga sahabat yang sudah kita miliki”. Perkataan itu sampai pada telingaku ketika aku masih di asrama bersama Yessy, jadi mungkin sekitar umur kami 21-22 tahun. Yah, itulah kemudian yang menjadi prinsipku untuk bersahabat dengan Yessy. Tidak peduli seberapa sebal aku dengan Yessy, aku telah mendaulat dia menjadi sahabatku, jadi aku akan tetap menjaganya untuk menjadi sahabatku.

Di Rumah Singgah itu, persahabatanku dengan Yessy mungkin mulai erat. Aku mulai menceritakan sedikit dari rahasia hidupku. Yessy pun juga mulai menceritakan hal-hal privasi dari dirinya. Namun, aku dan Yessy, kami tidak pernah membicarakan tentang lelaki yang pernah singgah di hati kita (wakawakaka). Itulah susahnya bergaul dengan orang bergoldar AB, tidak pernah sekalipun aku bisa mengetahui kisah asmaranya. Bahkan sampai sekarangpun, aku tidak pernah tau kehidupan romantikanya Yessy. Pffft.

Kalau semasa di asrama, aku belajar menyeimbangkan antara logika dan perasaan, di Rumah Singgah itu, aku sedikit belajar untuk menjadi seorang yang asertif. Aku adalah orang yang suka mengalah, tidak ada daya untuk melawan. Aku susah untuk berkata “tidak”. Sedangkan Yessy adalah kebalikanya. Pernah suatu ketika Yessy gemes melihatku aku selalu mengalah. Dia sering melihatku disuruh-suruh teman temanku yang lain. Akhirnya suatu ketika, dia bilang padaku, “Ah Tam, kamu itu jangan mau disuruh kayak gitu. Itu bukan tugasmu. Biarkan dia kerjakan sendiri tugasnya”. Aku yang waktu itu pusing mengerjakan tugas itu, rethinking, “Benar juga kata Yessy yak. Kenapa aku capek-capek fikiran mengerjakan tugas yang seharusnya tidak aku kerjakan. Kenapa juga aku tidak menolak tawaran pekerjaan itu”. Seketika waktu itu, aku mengambil handphone, dan kukirim pesan kepada temanku bahwa aku tidak mau mengerjakan tugasnya.

Woaaah..itu seperti bom waktu untukku. Aku bisa berkata setegas itu. Aku bisa menolak. Aku bisa mengatakan “tidak”. Rasanya aku telah membunuh satu beruang ketakukan dalam diriku. Rasanya aku telah berhasil melewati satu tangga yang begitu tinggi dan terjal. (Aaah, lebai yak? Abaikan saja..kwkwkw).

Dan sekarang, di tahun 2015 ini, aku dan Yessy benar-benar terpisah fisik jarak jauh. Umur kami sudah 26 (ngapain sih bawa-bawa umur), dan kami kembali di daerah kami masing masing. Yessy di Kalimantan, aku di Jawa. Kami sekarang sudah ada kedalam tahapan kehidupan mandiri financial. Dunia kita sekarang adalah dunia pekerjaan. Dan persaudaraan aku dan Yessy sekarang masih juga tidak rengang. Meskipun komunikasi tulis kami tidak sesering dulu, kami masih sering menceritakan hal-hal pribadi kita, namun tetap bukan masalah asmara. Meskipun kadang dua pekan tidak bertegur sapa, namun aku merasa masing-masing diri kita sering menyapa satu sama lain di dalam doa.

Ah, memang benar, kita dipertemukan untuk suatu alasan.

Klaten yang Kurindu


9 Desember 2015 akan diadakan pilkada serentak seluruh Indonesia untuk memilih bupati dan wakil bupati. Perhelatan perayaan demokrasi ini pun sudah pastinya akan di barengi serangkaian acara kampanye terbuka para calon. Berbagai strategi kampanye dilakukan untuk menarik simpati dan dukungan masyarakat, mulai dari pemasangan gambar mereka di setiap sudut kota, penyebaran leaflat, direct  selling, hingga gembar-gembor sepeda motor.
Kubaca di surat kabar lokal bahwa dari 3 pasangan calon bupati dan wakil bupati di daerahku, kesemuanya belum ada yang mendaftarkan untuk kampanye terbuka. Padahal hanya masih tersisa empat hari saja. Menurut penulis artikel di surat kabar tersebut, kampanye terbuka adalah sarana efektif untuk para calon untuk memperkenalkan diri mereka kepada masyarakat. Aku sepakat dengan penulis tersebut sebab banyak kudengar dari keluargaku mengeluhkan bahwa mereka tidak pernah tau menau akan calon pemimpin yang akan mereka pilih. Kalau masyarakatknya tidak kenal kepada para calon pemimpinnya, bagaimana nanti mereka akan mencintainya?
Tetapi, keesokan harinya, berarti H-3, suara gembar-gembor sepeda motor terdengar sampai rumahku. Seperti biasanya, mereka melakukan kampanye polusi suara untuk pasangan calon bupati dan wakil bupati yang mereka pilih. Maaf, entah itu oknum yang berniat memfitnah pasangan calon, atau memang murni kampanye-nya, namun disini aku hanya menilai apa yang kulihat. Kampanye terbuka yang kutunggu-kutunggu dalam bentuk yang cerdas dan elegan, akhirnya sama juga dengan jaman dulu, gembar-gembor motor doang.
Dalam hatiku sedikit kesal karena ketentraman hari liburku terganggu dengan sampah suara tersebut. Kekesalan itu pun bertambah ketika keluar rumah kudapati di jalanan tersebar pamphlet pasangan calon yang berserakan. Tembok pagar rumah orangtua ku pun juga ditempeli stiker pasangan calon. Gila apa? Pffft…masyarakatku ternyata belum pintar hingga berbuat demikian.
Aku tertiba membayangkan sebuah kota metropolitan di dunia ini, New York. Beberapa tahun yang lalu, pemerintah daerah setempat membuat sebuah aturan tentang “a noise code”. Jadi, suara yang terpancar itu diatur disana. Contohnya, truk sampah yang biasanya menghasilkan suara kencang harus menjaga jarak 15 meter dari perumahan penduduk di malam hari, mobil ice cream hanya boleh menyalakan suaranya jika mereka sedang berjalan, bahkan ada denda untuk pemilik anjing yang anjingnya menggonggong terus menerus selama 10 menit. Kenapa kemudian aturan ini dibuat? Karena pemerintah disana menghormati ketentraman penduduknya. New Yorkers itu sangat toleran dan aktif. Mereka mematuhi anjuran pemerintah untuk menggunakan subway (kereta bawah tanah) guna mengurangi polusi dan kemacetan. Mereka lebih memilih berjalan di jalanan dari pada menggunakan sepeda motor. Mereka pergi ke stadion untuk memeriahkan acara yang diselenggarakan pemerintah. Mereka pun juga aktif di acara parade-parade masal. Untuk itulah, pemerintah disana memperjuangkan aturan tersebut.
(Maaf aku terpaksa membandingkan) Nah, aku membayangkan disana pasti tidak ada suara gembar-gembor. Kampanye lebih banyak dilakukan dengan menggunakan direct selling atau mengumpulkan masyarakat ke stadium untuk mendengarkan visi misi pasangan calon pemimpinya.
Namun demikian kekurangannya daerahku, aku pantang untuk mencaci-maki tanpa solusi. Uneg-unegku di atas hanyalah caraku untuk mencari masalah apa sih yang sebenarnya terjadi di masyarakatku. Owh, ternyata masyarakatku kurang mencintai lingkunganya. Owh, ternyata masyarakatku kurang bisa menghargai ketentraman tetangganya. Owh, ternyata masyarakatku kurang berperadaban luhur. Owh, ternyata masyarakatku belum mampu menciptakan sebuah kampanye yang educatif dan ramah lingkungan. Siapakah sih masyarakatku itu? Ya aku ini. Hehe.
Aku sungguh bersyukur dikarenakan saat ini aku masih memiliki keoptimisan. Meskipun aku hidup di daerah yang mana para calon pemimpinya belum memuaskan keinginanku, aku tidak kemudian golput. Aku tetap akan memilih. Aku masih tetap berharap bahwa lambat laun pasti daerahku akan berubah lebih baik. Aku masih berharap bahwa nanti pemimpin daerahku akan lebih sering mengunjungi para warganya secara merata. Kan kereen kalau ada acara “Meet and Greet Pak Bupati di Kecamatan A”. Kubayangkan disana Bapak Bupati akan memberikan suara-suara menentramkan dan menumbuhkan optimis serta kebahagiaan untuk masyarakatnya. Dengan ada arahan kebaikan dari Pak Pemimpin, aku berharap para masyarakat di daerahku tidak lagi membuang sampah dari jendela mobil mewahnya. Aku berharap, para guru dan murid terus berjuang untuk mendapatkan pendidikan yang terbaik. Aku berharap masyarakatku saling menghormati kepentingan individu. Dan aku berharap Bapak Bupati mempunyai alat semisal facebook untuk menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat dan pemimpin.
Dengan langkah awal pendekatan dengan masyarakat, aku mempunyai keyakinan bahwa sense of belonging rakyat kepada daerah akan tumbuh. Pemimpin peduli dengan rakyat, demikian pula rakyat juga akan peduli dengan pemimpin. Pemimpin cerdas, rakyat juga cerdas. Pemimpin semangat, rakyat juga ketularan. Pemimpin optimis, rakyat juga akan kesetrum. Dengan begitu, para pemimpin dan rakyat akan saling terikat oleh rasa yang sama. Jika frekuensi hati sudah disamakan dan disambungkan, aku yakin untuk kedua kalinya bahwa nanti akan tercipta sebuah keharmonisan bekerja antara masyarakat dan pemimpin. Tidak ada gap, tidak ada jarak. Sebuah kondisi yang indah dan tentram bukan?

Bersekolah di Kelas Menanam



Image result for plant

“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak bercabang, disiram dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanam-tanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasannya. Sesungguhnya yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berfikir.”
(Qur’an Ar Ra’d: 4)

Beberapa teman mengatakan bahwa beberapa postingan di facebook itu bagaikan non-renewable digital garbage. Maka, postingan-postingan itu ibarat sampah yang tidak berguna dan malah membuat penyakit. Contohnya, ada seseorang A memosting foto pernikahanya di facebook dengan wajah gembira dan berseri-seri. Disisi lain, ada seorang B yang melihat postingan si A tersebut, kemudian tanpa pikir panjang, si B meng-unfriend si A, dan meng-deactivate akun facebook-nya dan berakhir dengan penyakit trauma yang berkepanjangan akan facebook. (Info: si A ini dulunya adalah kekasih si B, dan si A masih berstatus bujang ketika melihat foto pernikahan si B. hihi). Ada pula orang yang terserang penyakit buruk sangka ketika melihat postingan teman-temannya yang sedang liburan keliling negeri. Dikiranya teman-temanya itu sedang pamer dan mempopularitaskan diri (wakaka, padahal faktanya iya). Usut di usut, ternyata tipe orang ini adalah mereka yang terjebak pada tugas skripsi/thesis yang belum kelar, dan kondisi saldo di rekening hampir gulung tikar. Jadi, sebenarnya mungkin tipe orang semacam ini adalah tipe orang yang berpenyakit iri.
Namun, disisi lain, ada banyak orang yang menganggap bahwa personal post di facebook itu adalah a box of ideas. Ada yang sedang mengupload foto hasil masakanya, kemudian membuat si viewer ketularan ingin masak. Ada yang mengunggah fotonya sedang bermain alat musik organ, dan user facebook lainya terinspirasi untuk mengisi waktu luangnya dengan mempelajari bermain organ. Ada yang sedang membagikan cerita tentang kerepotannya mengasuh anaknya yang kemudian membuat silent reader-nya mempunyai pandangan baru bahwa urusan mengurus anak itu tidaklah mudah.
Apapun itu, lakukanlah apa yang mampu membuatmu merasa sakinah dan bahagia, dan tentunya Tuhanmu ridho melihatnya. (Apasih, koq ga nyambung gini).
Well, mari kita balik ke alur cerita yang seharusnya disampaikan. Jadi ceritanya, pada suatu hari di bulan November 2015, aku melihat postingan seorang di facebook yang membuatku sepakat 100% dengan apa yang beliau kemukakan. Well said, couldn’t agree anymore lah pokoknya. Apakah aku mengenalnya dalam dunia nyata ataukah hanya mengenalnya di dunia maya? Aah, emangnya beliau itu adalah Benedict Cumberbatch? Tentulah aku mengenalnya. Nama akun facebooknya adalah Bapak Muhammad Gunawan. Photo profile-nya adalah beliau bersama seorang bidadari surganya (hayo Tami, jangan nglantur kemana-mana). Beliau ku kenal saat aku belajar hidup di Malinau. Bapak Gunawan mengatakan bahwa dengan mendidik anak-anak untuk berkebun, maka mereka akan belajar untuk menjadi generasi yang menghargai proses dan generasi yang tidak cengeng.
Aha moment ku pun akhirnya terjadi kembali. “Aha, that’s absolutely right, pak Gun”, respon reflekku kala itu. Namun, sebenarnya aku tidak tau detail bagaimana Pak Gunawan akhirnya bisa menyimpulkan hal demikian, bahwa bertanam itu adalah latihan untuk menghargai proses. Aku hanya kemudian teringat akan satu pengalaman bertanamku, dan juga pemaparan beberapa tokoh yang menggunakan filosofi bertanam untuk memaknai kehidupan.
Sembari menunggu ketetapan Tuhan akan waktu yang tepat untuk bertemu dengan my partner (malah curhat), maka aku biasanya menghabiskan pagi di akhir pekan dengan menanam. Kali ini, aku belajar untuk menaman aneka sayuran yang nantinya akan menunjang my healthy life program. Aku memulai dengan memindahkan sayuran keningkir yang ada di sawah bapak ke polybag yang telah kupersiapkan di depan rumah. Ketika kupindah di pagi harinya, siang sampai malamnya, keningkir segar itu menjadi layu. Dari jendela kamar, aku memandangi keningkir itu dengan perasaan takut dan was-was, apakah mereka akan mati? Keesokan harinya, bangun tidur langsung kubuka jendelaku untuk memastikan keadaan keningkir-keningkir itu. Alangkah bahagianya perasaanku kala melihat batang-batang kecil keningkir yang sudah berdiri tegak dan gagahnya. Mereka terlihat segar seperti sedia kala.
Entah kenapa waktu itu, aku kemudian kefikiran tentang salah satu moment hidup. Tentunya kita pernah dipaksa untuk berpindah tempat bukan? Dan biasanya, berada di tempat baru itu cukup menguras banyak tenaga dan fikiran kita. Tak jarang kita pun merasa sedih, suntuk, dan layu seperti keningkir itu. Namun, day by day, dengan kesabaran akan waktu, keberadaan kita ditempat baru tersebut akan dirasa lebih banyak manfaatnya daripada berada di tempat yang lama. Ya, benar, dari keningkir aku belajar bahwa untuk berpindah (red: change, hijrah), kita mesti memang harus layu.
Next, aku pun juga teringat akan kisah tanaman yang diceritakan oleh bapak Jamil Azzaini di salah satu episode Kick Andy. Bapak Jamil Azzaini ini dulunya adalah anak dari keluarga petani yang sangat miskin dan sering dihina oleh masyarakatnya. Jamil kecil sering membantu ayahnya menanam jagung di ladang. Ketika melubangi tanah untuk meletakkan benih jagung, ayahnya selalu bertutur, “Jamil, jagung itu harus kau tutup dengan tanah agar tidak dimakan burung atau ayam. Ketika benih jagung itu sudah tertutup tanah, maka dia harus menaggung beban tanah yang menimbunya. Tetapi, karena kau tutup itulah jagung akan tumbuh kemudian berbuah”. Sambil terus menanam jagung, ayah Jamil melanjutkan ceritanya. “Hidup kita saat ini seperti bibit jagung yang kau tutup tanah, tinggal di tengah hutan dan susah. Tapi ketahuilah anakku, suatu saat nanti kau akan tumbuh menghasilkan buah yang enak dimakan. Jadilah kamu bibit yang baik, bertahan dan bersabarlah atas segala kesulitan yang datang. Bila jagung sudah tumbuh nanti harus kau siram dan kau pupuk. Begitu pula hidupmu, anakku. Saat nanti kau sudah besar dan berhasil, kau harus tetap disiram dan dipupuk. Siramilah kehidupanmu dengan surat-surat dari Tuhanmu. Bacalah kitab-kitabNya agar kehidupanmu selalu segar. Rendahkanlah dirimu agar air itu datang menghampirimu karena tabiat air mendatangi tempat yang rendah. Pupuklah kehidupanmu dengan cara bersahabat dan bergaul bersama orang-orang yang sholeh dan baik. Perlakukan mereka seperti kau memperlakukan saudaramu sendiri. Kadang-kadang pupuk kandang itu aromanya tak sedap tetapi itu menyuburkan tanah tempatmu tumbuh. Nanti kau akan bertemu dengan teman yang mengkritik dan menyakitimu, anggaplah itu sebagai pupuk kandang buatmu”. Hmm, indah sekali bukan nasehat ayahnya Jamil? Good things take time.
Selain pak Jamil, ada juga sebuah fanspage Whitehole Asia yang membandingkan antara tumbuhan paku dan tumbuhan bambu. Pada suatu hari, ada seorang pemuda yang menyerah dari usahanya yang dilakukan dengan keras. Kemudian, Sang Pencipta membawanya ke sebuah hutan.
“Apakah kamu melihat tumbuhan paku dan bambu di sebelah sana?”, Tuhan bertanya.
“Ya”, jawab pemuda tersebut.
“Aku memberinya air dan sinar matahari”, Dia berkata. “Dan Aku pula yang menanam keduanya”, Tuhan menambahkan.
Pada bulan pertama, sebuah tunas kecil keluar dari tumbuhan paku. Dan dalam satu tahum, tunas kecil itu menutupi seluruh tanah hutan. Pada tahun kedua, paku tersebut tumbuh lebat dan mewarnai seluruh isi hutan menjadi hijau. Namun sebaliknya, tidak ada yang terjadi pada tumbuhan bambu. Pada tahun ketiga, tetap tidak ada secuil tunas pun yang tumbuh dari bambu. Pada tahun keempat, sebuah tunas kecil pun muncul dari bumi. Tunas tersebut terlihat kecil dan pertumbuhannya tidak signifikan.
Tumbuhan paku tumbuh semakin lebat, namun tumbuhan bambu masih tidak tampak sama sekali.
Beberapa bulan setelahnya, tumbuhan bambu tumbuh hingga mencapai ketinggian 10 kaki. Tumbuhan bambu tersebut membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menumbuhkan akar yang ada dibawahnya. Akar tersebut membuat bambu kuat dan memberikan apa yang dibutuhkan untuk bertahan. Sekarang, tumbuhan bambu tersebut menjulang tinggi di hutan tersebut.
Tuhan kemudian berkata kepadaku, “I will never quit on the bamboo.” “I will never quit on you.”
Jadi, dari pohon bambu pun aku diajak belajar akan sebuah semangat untuk terus berjuang. Tuhan itu menghitung usaha kita, dan tidak akan menyia-nyiakan usaha kita. Proses usaha itu lama karena Tuhan ingin melihat kita menjadi pribadi yang kuat di dalam. Proses yang lama itu akan membuat diri kita menjadi seorang yang indah dan penuh bermanfaat untuk banyak orang. Tuhan menghitung, dan pada suatu saat Tuhan pasti akan berhenti menghitung.

Enlightening



 Image result for perjalanan muslimah
Hidayah keilmuan itu perlu dicari. Dia tidak selalu serta merta datang kedalam diri kita, namun perlu kerja keras untuk memperolehnya. Teladan yang ideal untuk pengorbanan menuntut ilmu mungkin paling pas tersematkan kepada ponakan Rasulullah SAW, yakni Ibnu Abbas r.a.  Beliau rela menunggu di depan rumah seorang sahabat Nabi yang denganya ia akan bertanya perihal agama. Ia menggelar tikar disana dan menunggu sampai sahabat Nabi tersebut bangun dari tidurnya. Ketika sahabat Nabi ini bangun, ia bertanya tentang maksud kedatangan Ibnu Abas.
Sahabat itu berkata, “Engkau adalah keponakan Rasulullah, mengapa engkau sampai hati menyusahkan diri, mengapa engkau tidak memanggilku saja?”
Ibnu Abas menjawab, “Aku sedang menuntut ilmu, jadi akulah yang wajib mendatangimu. Sebab ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”.
Kisah Ibnu Abas ini memberikan pandangan tersendiri tentang bagaimana menuntut ilmu. Sudah tepat konsep sekolah dan perkuliahan formal saat ini, yakni para murid datang kepada yang mentransfer knowledge, yakni para guru dan dosen. Maaf, saya menggunakan knowledge disini, karena saya sependapat dengan ustadz Bachtiar Natsir bahwa konsep science/knowledge itu berbeda dengan ilmu. Science dan knowledge itu masuk bagian dalam ilmu sehingga goal setting-nya adalah bertambahnya ketaqwaan kepada Allah SWT. Jika science dan knowledge tidak dapat mendekatkan para pembelajar kepada penciptanya, malah menyesatkanya, maka kedua hal tersebut bukan ilmu. Sebab ilmu itu adalah hikmah, dan hikmah itu adalah kebijaksanaan dariNya.
Tentang perjuangan mentutut ilmu Ibnu Abbas ini, saya juga menjumpainya di Yogyakarta. Ada seorang Ibu yang sudah bercucu satu. Beliau bekerja di sebuah perusahaan swasta terkemuka di negeri ini. Beliau juga dari kalangan keluarga menengah ke atas. Diusianya yang sudah tidak muda lagi, ia bersama ibundanya yang sudah tua renta diberikan hidayah untuk mempelajari Al Qur’an. Beliau memulai langkah awalnya dengan mengikuti les privat tahsin (belajar membaca Al Qur’an dengan benar). Biasanya, di dalam sistem les privat, guru datang kerumah murid. Namun, les privat yang dilakukan oleh Ibu tersebut sangat berbeda. Beliaulah yang mendatangi gurunya. Ibu tersebut mengungkapkan bahwa mendatangi ilmu adalah prinsipnya dalam belajar sejak dulu. Dengan begitu, beliau mampu menghargai dan menghormati ilmu tersebut. Apakah kalian tau jam berapa Si Ibu ini melaksanakan les privatnya? Jam 6 pagi sebelum berangkat ke kantor. Luar biasa bukan.
Yup, ilmu itu harus didatangi dan dijemput. Kisah tersebutlah yang menyemangati saya untuk beranjak dari stay-at home weekend ke travelling weekend. Pekan akhir oktober 2015 kemarin, sengaja saya mengantarkan seorang sahabat ke Jogja untuk mengisi sebuah acara komunitas sosial. Saya menyambut positif ajakannya karena saya yakin saya akan mendapatkan ilmu disana.
Meti, nama sahabat saya tersebut, menyampaikan materi motivasi kepada para peserta untuk do something kepada masyarakat. Dia mulai ceramahnya dengan pertanyaan menggungah yakni, “berapa usia kalian?”. Selanjutnya, peserta disuruh untuk menambahkan 20angka pada umur mereka saat itu. Kemudian, peserta diajak untuk membayangkan “siapa diri kita” di usia tersebut? Setelah para selesai selesai menuliskan siapa diri mereka 20 tahun yang akan datang, Meti kemudian mengajak mereka untuk membayangkan bagaimana kondisi Indonesia di masa itu. 20 tahun kemudian, Indonesia akan berusia 90 tahun kemerdekaan, dan akan menuju Indonesia Emas. Apa artinya? Artinya, akan banyak usia produktif disana yang diharapakan mampu untuk berkompetensi dengan dunia luar di segala bidang kehidupan terutama pendidikan dan ekonomi. Kemudian apa peran mereka disitu nantinya?
Meti kemudian mengutip perkataan dari Anies Baswedan bahwa peran yang bisa dilakukan adalah dengan menjadi world class leader atau dengan grass root understanding. Meti menyatakan bahwa komunitas sosial yang dia rintis tersebut mengambil peran grass root understanding, yakni dengan memahami masalah lokal dan kemudian berusaha untuk memecahkankanya. Di akhir, dia menutup dengan mempertanyakan kembali kepada peserta akan perannya sebagai mahasiswa. Apakah ingin menjadi sarjana kertas? Atau ingin menjadi generasi wacana? Ataukah ingin menjadi driver untuk memecahkan masalah negeri ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya membuat para peserta menerung dan berfikir. Pertanyaan penutup tersebut disertai juga pengan persuasive closing statement dari Meti yakni ajakan untuk bersemangat menyebarkan value, karena the best people is those who like sharing.  
Saya yang hanya diminta untuk mengabadikan natural poses Meti pun tersetrum semangat. Hal yang selama ini luput dari diri adalah tentang pertimbangan kondisi Indonesia 20 tahun kedepan. Hal yang selama ini tidak disadari adalah bagaimana strategi efektif untuk berkontribusi. Sangat naif kiranya jika saya hanya akan berkontribusi seadanya, asal mengalir, dan terus menerus. Saya dikaruniai akal untuk mencari-cari cara agar potensi yang dipunyai termanfaatkan secara maksimal. Dan, hari itu saya kembali tercerahkan oleh ilmuNya.